
Sudah hampir dua Minggu lamanya, Ratih menggunakan produk Masa itu, hasilnya cukup memuaskan. Wajahnya terlihat lebih glowing perlahan kulit dan tubuhnya berubah seiring waktu.
Ratih menatap pantulan diri dicermin, memakai produk kosmetik dari Masa untuk mempercantik penampilannya. Hari ini Ratih harus datang ke pengadilan untuk menghadiri sidang putusan cerai nya dengan Indra.
Setelah memoles bibir nya dengan liptik, menyemprot tubuhnya dengan parfum. Ratih memandang satu set perhiasan yang dia beli dulu.
Ratih ingat bagaimana suami dan keluarganya menghina dia miskin, jelek dan wangi. Kini saatnya Ratih untuk menunjukan bahwa dia bisa cantik dan wangi jika punya cukup uang.
Dengan dada bergemuruh kesal, Ratih mengambil gelang emas dan memakai nya.
"Lihat saja mas, aku sudah lebih cantik dan putih dari terakhir kali kita ketemu. Jangan kaget dengan perubahanku nanti."
Mata Ratih sudah di penuhi oleh amarah di hati nya jika mengingat semua yang sudah ia korbankan dan dia dapatkan setelah nya. Hinaan.
Ratih berjalan keluar dari kamarnya. Dengan satu set perhiasan emas yang melekat di tubuhnya. Rambut yang sengaja dia gerai tampak hitam berkilau lurus. Baju yang menjuntai sampai ke mata kaki nya berwarna krem lembut menunjang penampilannya. Terlihat sangat elegan dan anggun.
"Waaahh, embak ku cantik banget." Puji Gilang saat melihat Ratih suda siap untuk berangkat ke pengadilan agama.
"Cantik dong, kan embak perawatan. Ingat ya Gilang. Kalau nanti kamu sudah menikah, senengin tuh istri kamu. Kalau pengen dia cantik modalin buat perawatan." Pesan Ratih sembari merapikan gelang dan cincin di tangannya.
"Wuuiiiihhh, embak, nihh nggak biasanya pake perhiasan segala."
Ratih tersenyum tipis. "Tau nggak buat apa?"
"Buat?" Gilang mengerutkan keningnya.
"Buat pamer sama calon mantan suami." Kekeh Ratih sembari menyaut tas bahunya.
"Diihh..."
"Altaf..." Panggil Ratih pada anak kesayangannya.
"Di sini Tih," seru Bu Rohmah dari teras.
Ratih berjalan ke teras bersama sang adik lelakinya. Tersenyum melihat Altaf tengah tertidur dipangkuan neneknya.
__ADS_1
"Udah siap? Itu taksi online nya udah datang keknya Tih."
"Iya buk. Sini Altaf biar Ratih aja yang gendong." Ucap Ratih seraya mengulurkan tangannya hendak mengambil Altaf dari pangkuan Bu Rahmah.
"Nggak usah Tih, nanti malah bangun. Altaf sama ibuk aja. Lagian kamu musti jaga penampilan kamu biar nanti pas lihat Si Indra kaget kamu udah jadi lebih cantik sekarang." Ucap ibu Rohmah sembari berdiri dan menggendong Altaf. Tak lupa senyum tersungging di wajahnya.
"Iya buk."
.
.
Di pelataran pengadilan agama, Ratih dan keluarganya berjalan menuju gedung, di sana Indra beserta Bu Tias dan tentu saja Tiara sudah duduk menunggu depan ruang sidang. Ada sedikit rasa sesak yang tiba-tiba menyeruak di dada Ratih, mana kala melihat Tiara bergelayut manja di lengan Indra. Namun sebisa mungkin dia terlihat tegar dan tersenyum.
Mereka terkejut melihat Ratih dan keluarganya. Bu Tias melengos, melihat penampilan Ratih yang sudah berubah 90 Drajat dari sebelumnya. Di tambah cahaya menyilaukan di leher, tangan dan jari Ratih membuat Bu Tias berdecit.
"Halllaahh, paling juga imitasi. Aku punya yang lebih bagus dari itu." Gumam Bu Tias.
Sementara Indra memandang Ratih beberapa saat dengan mata terkejut sekaligus kagum dengan perubahan istrinya. Sebelum Tiara dengan gemas mencubit paha calon suaminya.
"Mas, kamu apa-apaan sih matanya?"
Ratih tersenyum tipis, ia tak menyapa hanya memilih tempat yang agak berjarak dari Indra. Nguping dikit boleh lah.
"Mas tertarik sama mantan mas itu?"
"Ehh, enggak lah sayang. Masih cantikan kamu kok. Apalagi kamu kaya, nggak kayak dia, baru berubah sedikit cantik doang." Elak Indra dengan gugup.
"Kalau gitu jangan bikin kesel dong. Liat ke arah sana terus. Lama lagi." Omel Tiara dengan cemberut.
"Iya, maaf ya sayang."
Ratih menarik nafasnya pelan. Sudahlah, toh setelah ini mereka sudah tak memiliki hubungan lagi. Tak ada yang Ratih sesalkan, tak ada yang Ratih harapkan.
Setelah sidang putusan di dengar. Indra dan Ratih resmi bercerai, Altaf yang masih berusia tiga tahun itu menjadi hak asuh Ratih karena Indra tak ingin membawa anak.
__ADS_1
.
.
"Ndra.."
"Apa buk?"
"Ibuk lihat keknya Ratih udah lebih putih tadi, wangi lagi. Dia kerja apa sih? Kamu tau?" Tanya Bu Tias setelah mereka berada di rumah dan Tiara pulang.
"Nggak tau buk." Jawab Indra menhenyakkan tubuhnya di kursi teras.
"Dia juga pake emas. Dia kan miskin, nggak mungkin punya emas. Dari mana ya itu ya? Tadi ibuk dan cek emas di rumah juga masih ada. Jadi nggak ngambil sini dia." Kata Bu Tias mengambil duduk di samping Indra.
"Nggak tau buk, Indra kan udah lama nggak hubungan sama Ratih. Orang sibuk nyiapin pernikahan sama Tiara."
"Mungkin pinjam sama tetangga, buk." Indah yang kebetulan bertandang ke rumah ibunya menimpali.
"Bisa jadi sih, ndah." Bu Tias berganti memandang anak sulungnya."Eh, tapi tadi ibuk lihat Ratih lebih putihan loh, dandan juga dia, lebih cantik gitu. Yah, walau masih kalau sih sama Tiara, apalagi Tia punya mobil dan rumah sendiri." Sambung Bu Tias melirik Indra yang tampak tak suka mendengar ucapan ibunya.
"Ibuk nyesel dia nggak jadi mantu ibuk lagi?" Lontar indah.
"Eeh, nggak lah ndah. Ibuk malah seneng, kita kan nggak tau dia bisa kek gitu dari mana. Bisa aja dia putus asa terus cari wangsit di gunung Kemukus." Kekeh Bu Tias di ikuti tawa oleh indah.
"Ndra, kamu dah liat rumah Tia?"
"Udah, kan Indra sering main kesana sama antar jemput."
"Gede nggak rumah nya?"
"Lumayan," ucap Indra manggut-manggut.
"Besok kalau dah nikah, kalian jadi tinggal di sini kan? Rumah Tia di kontrak kan saja, atau di jual."
Indra tersenyum kecut mendengar ucapan ibunya yang membuat Indra garuk-garuk kepala.
__ADS_1
'gimana nih, Tia nggak mau tinggal serumah dengan ibu. Sementara ibuk mau kami tinggal di sini.'
Bersambung...