
Waktu berlalu, Indra pun mendaftarkan talak cerainya di pengadilan begitu masa cuti lebaran usai. Tentu saja, Ratih pun tak datang kepengadilan demi mempermudah dan mempercepat prosesnya.
"Mas, kapan akta cerai mas turun?" Tiara bersandar di bahu Indra saat mereka berkencan sore itu di taman sebuah mal yang cukup terkenal di kota. Sembari melihat lalu lalang para pejalan kaki yang keluar masuk ke Mal itu.
"Masih nunggu sidang putusan lagi, sabar ya ayang. Nanti kalau mas udah resmi bercerai, mas akan langsung lamar kamu."
"Iya deh mas."
Saat sedang asyik dengan Tiara, Indra melihat di kerumunan orang yang berlalu lalang. Sosok wanita yang sudah hampir tiga bulan ini nggak dia temui. Tentu saja, lihat wajahnya aja sudah malas.
"Ngapain Ratih di Mall? Sama anak-anak lagi?" gumam Indra heran, karena yang dia tau, Ratih itu miskin dan tidak bekerja, ditambah dia tak memberi Ratih uang sampai saat ini. Nggak mungkinlah bisa datang ke Mal.
"Kenapa mas?" Tia yang heran dengan calon suaminya itu menyenggol lengan Indra. Kemudian ikut melihat ke arah yang sama.
"Itu, bukannya Ratih, istrinya mas Indra?"
"Mantan, jangan keras-keras lah. Malu kalau ada yang dengar Mas punya mantan kayak gitu." dengus Indra dengan wajah di tekuk.
Tiara malah cekikikan, "Iya, kemarin-kemarin mata mas ke mana sih?"
"Nggak tau, Ti. Heran mas dulu bisa sampai suka dan nikah sama Ratih."
"Sana mas, samperin mantannya."
"Ogah, pergi yuk, ntar malah ke sini lagi. Ayok. Mas males." ajak Indra bergegas beranjak dari duduknya menarik lengan Tiara agar ikut bangun.
"Itu ada anaknya mas loh." goda Tia sambil mentowel janggut Indra.
"Biar ajalah, ntar bisa bikin lagi sama kamu." ucap Indra dengan senyum dan lirikan mesumnya.
"Iihh.. mas Indra, sabar dong, kan masih harus nunggu mas resmi cerai dulu."
"Hehheh... Iya, udah nggak sabar mas, Tia."
Indra melirik, melihat lagi Ratih dan Altaf yang memasuki mall itu, walau bagaimanapun, Indra juga sedikit penasaran. Kenapa Ratih bisa ada di Mall.
_____
Hari ini Ratih berencana mengajak keluarga nya ke Mall sekedar menyenangkan diri dan keluarganya. Ingin membeli baju dan beberapa keperluan lainnya.
"Yakin mbak kita mau ke Mall?"
"Iya." Jawab Ratih yakin sembari merapikan pakaian Altaf.
__ADS_1
"Mbak punya uang?"
"Punya, kamu jangan khawatir Lang."
"Beneran mbak? Di mal mahal-mahal loh."
"Santai aja Lang. Mbak mu ini udah punya banyak uang." Ucap Ratih mencoba meyakinkan Gilang adiknya.
"Ibuk, udah siap belum?" Suara Ratih agak keras agar ibunya yang sedang bersiap di kamar mendengar.
"Nggak usah ke Mall Tih, ke pasar aja yang murah. Ibuk lebih nyaman di sana." Sahut ibu Rohmah dengan gamis toska dan jilbab dengan wana senada muncul dari kamaarnya.
"Nggak papa buk, sekali-kali ke Mall. Nyenengin Altaf juga biar ngarasain main permainan dan mandi bola." Kekeh Ratih mencubit Altaf."Ayok, kalau udah pada siap taksi online nya udah di depan nih."
Setelah semua masuk ke dalam mobil taksi online dan membawa mereka ke sebuah Mall yang cukup ternama. Mereka turun dan berjalan memasuki Mal. Di kejauhan, tanpa sengaja Ratih melihat punggung calon mantan suaminya Indra bersama seorang wanita.
Ada yang berdesir, tapi bukan angin. Ratih hapal betul tubuh calon mantan suaminya. Walau tau dihianati, tetap saja hati ini terasa sakit meski sudah mencoba kuat dan melupakan.
Ratih dan keluarganya memasuki satu toko ke toko yang lain. Membeli beberapa barang dan makanan. Tak lupa Ratih membawa Altaf ke tempat bermain. Sembari menunggu Altaf yang di temani oleh Gilang, Ratih hendak mengambil hp dari dalam tas.
"Raatih, kamu sebenarnya kerja apa sih?" Tanya Bu Rohmah penasaran."Ibu lihat kamu hanya diam di rumah aja.
Ratih menyambut dengan senyuman.
"Kamu nggak pake pesugihan kan?" Tanya Bu Rohmah lagi hati-hati."Jangan aneh-aneh Tih, ingat dosa."
"Terus, kamu dapat uang sebanyak ini dari mana?" Tanya ibu Rohmah lagi melihat semua kantong belanjaannya.
Ratih tersenyum kecil. "Ratih kerja online buk. Ratih nulis cerita gitu, terus di bayar. Dapat uang."
"Masak sih gampang gitu."
"Hehe... Nggak segampang yang terlihat kok buk. Karena banyak yang harus di pikirkan dan di atur agar terarah."
"Tapi masak bisa dapat sebanyak ini?"
"Iya buk, emang. Ratih aja nggak percaya." Ucap Ratih maklum dengan apa yang ibunya rasakan. Ratih mengambil gajet nya. Lalu membuka web sebuah platform menulis online.
"Lihat buk." Ratih menunjukkan nominal yang dia dapat dari menulis di sana. Netra Bu Rohmah melebar.
"Ini banyak banget Ratih." Ucap Bu Rohmah menatap sang anak dan layar di hp Ratih bergantian.
"Iya, buk. Ratih aja nggak percaya bisa punya penghasilan sebanyak ini." Ungkap Ratih lagi."Doa in ya buk supaya penghasilan Ratih ini lancar dan berkah."
__ADS_1
"Iya nak, ibu selalu doa in buat kamu." Bu Rohmah memeluk anaknya."Ibu senang kalau kamu bisa sukses tih,"
Ratih mengulas senyum tulus mengusap punggung sang ibu.
"Ratih, kamu kan udah punya uang. Coba kamu perawatan biar kinclong. Ibu sakit hati pas dengar suami mu dulu ngrendahin kamu ngatain kamu jelek dan dekil bau bawang lagi. Tunjukkan Ratih kalau kamu bisa cantik dan wangi."
"Iya buk, Ratih juga lagi perawatan kok pake lotion dan krim pemutih."
"Ratih!"
Suara panggilan dari seorang wanita membuat Ratih dan Bu Rohmah menoleh.
"Iya... Kamu... Siapa ya? Kok aku agak lupa?" Ratih mencoba mengingat-ingat.
"Aku Masda, tih. Ingat?" Ucap wanita cantik dengan body aduhay nan modis itu.
"Masda?" Ratih mencoba mengingat-ingat lagi, "seingatku temen bernama Masda cuma Masda Rahayu yang sekolah di SMP pelita."
"Iya benar! Aku Masda yang itu."
"Ya ampun masda, kamu jadi cantik banget..." Puji Ratih menyalami wanita bernama Masda teman semasa SMP dulu. Masda berganti menyalami Bu Rohmah.
"Aku sampai pangling loh Mas." Ungkap Ratih masih tercengang."kamu cantik banget dan putih."
"Makasih," kekeh Masda.
Lalu mengalirkan cerita-cerita masa SMP mereka, bernostalgia dan saling curhat kehidupan masing-masing.
"Aku minta nomormu tih, biar gampang komunikasi nya." Pinta Masda.
Setelah mencatat dan saling tukar nomor Masda pun pamit. Tak lama berselang, Ratih dan keluarga kembali kerumah.
"Tih, coba kamu tanya sama Masda, dia perawatan pake apa? Dia kok bisa cantik dan putih gitu." Kata Bu Rohmah mendekati Ratih yang sedang sibuk mengetik di hpnya.
"Eh, gimana buk? Tanya perawatan Masda?"
"Iya, mana tau kamu juga cocok. Tanya dulu kan nggak papa."
Mengikuti saran sang ibu, Ratih pun memberanikan diri mengirim pesan singkat pada Masda dan bertanya pasal perwatan yang Masda lakukan sampai bisa berubah cantik.
["Tih, coba kamu pake produk Masa, cocok dan aman kok."]
Selebihnya, Masda menjelaskan tentang produk Masa ini. Setelah melalui konsultasi yang cukup lama, Ratih memutuskan untuk memakai produk yang sama dengan Masda yang kebetulan dia seorang distributor.
__ADS_1
["Ratih, kalau misal kamu minat, mau nggak jadi reseller? Untungnya lumayan loh."]
Bersambung...