
"Altaf, besok-besok main lagi ya?" Ucap Cika sambil melambaikan tangannya.
"UMM...." Angguk Altaf membalas lambaian tangan Cika. Lalu memasuki mobil.
Ratih melajukan mobilnya kembali kerumahnya. Sesampainya di rumah, hp Ratih bergetar, pesan masuk dari Foano.
["Apa udah sampai di rumah?"]
Ratih menghela nafasnya, mengingat kembali saat dirinya dan Doa dalam satu ruang yang sama dan hanya berdua.
"Ya Alloh, semoga aku bisa tetap menjaga hatiku dan tidak jatuh cinta. Pesona editor Foano sangat mengerikan." Gumam Ratih menyentuh dadanya.
Tak lama ponselnya berdering. Panggil masuk dari nomor Foano. Sontak membuat Ratih terkejut dari lamuanannya. Sampai-sampai hp nya hampir terlontar jatuh.
"Ibu kenapa?" Tanya Altaf melihat sang ibu yang terlihat hampir menjatuhkan gawai nya.
"Nggak, ibu cuma kaget aja ada telpon masuk." Ucap Ratih dengan gugup.
"Dari papa ya?" Altaf berjinjit dan menarik tangan Ratih yang memegang hp.
"Papa siapa, Altaf?" Suara Bu Rohmah keluar dari penghubung ruang tengah dan ruang tamu.
"Papanya Altaf!" Seru Altaf girang menyaut hp Ratih dan menggeser tombol hijau.
"Papa!" Serunya sangat girang berlari ke kamar.
["Hai Altaf, udah sampai rumah?"] Suara Foa dari seberang sana, yang makin lirih terdengar karena Altaf sudah masuk kedalam kamar.
Sementara Bu Rohmah mendekati anak perempuan nya. "siapa tih?"
"Iya Bu?"
"itu, siapa yang Altaf panggil papa?" Bisik Bu Rohmah.
"Editornya Ratih buk."
"Editor?" Bu Rohmah mengernyit kan dahi nya."Mbak Foa?"
"Bukan mbak, tapi Pak. Pak Foa." Kata Ratih membenarkan.
"Loh bukannya dulu kamu bilang mbak?" Tanya Bu Rohmah lagi makin bingung.
"Iya buk, kupikir dia mbak, ternyata pak."
"Udah nikah?" Tanya Bu Rohmah penasaran dan antusias secara bersamaan.
"Udah, punya anak malah. Jadi ibuk jangan berharap macam-macam." Tegas Ratih lagi.
"Tapi, itu, Altaf kok manggil dia papa?"
"Iya buk, pak Foa kasihan sama Altaf. Jadi dia suruh Altaf panggil papa." Jelas Ratih.
"Waahh, nggak baik itu Tih. Dia kan udah nikah, punya anak lagi. Jangan kasih Altaf panggil dia Papa."
"Iya buk, nanti Ratih bilangin Altaf pelan-pelan." Kata Ratih lagi. Memang apa yang Bu Rohmah katakan tidak ada salahnya. Bagaimana jika sampai dewasa Altaf keterusan memanggil papa padahal bukan.
Itu akan sangat berdampak tidak baik jika nantinya Ratih menikah atau pun jika istri Foano keberatan. Begitu pikir Ratih.
###
"apa ini buk?" Tanya Ratih pada Bu Rohmah melihat selembar kertas tebal di atas meja tamu. Ia mengambil kertas itu dan melihatnya. Tertera nama Indra di sana.
__ADS_1
"Itu undangan pernikahannya Indra." Jawab Bu Rohmah enteng.
"Kok mereka kasih undangan ke kita buk?"
"Jangan tanya ibuk lah Tih. Kamu kan tau sendiri mertua mu itu seperti apa."
"Ini Bu Tias yang kirim kesini?" Tanya Ratih datar,
Sesungguhnya ia sudah tak memiliki rasa lagi pada Indra. Selama beberapa bulan ini memang Ratih membuang jauh semua tentang Indra. Ia pun sudah lebih legowo dengan semua yang Indra dan keluarga nya lakukan padanya selama ini .
Ratih hanya melihay undangan itu sekilas. Lalu meletakkannya lagi diatas meja.
"Kamu mau datang Tih?" Tanya Bu Rohmah mendrkat pada anak sulungnya.
"Kenapa buk? Ibuk mau datang?"
"Enggak, buat apa tih. Malas juga." Jawab Bu Rohmah dengan mimik muka yang enggan."Paling mau pemer dia punya mantu kaya dan cantik."
"Sama buk, Ratih juga malas."balas Ratih sembari memainkan ponselnya. Ia masih harus menulis lagi untuk naskah terbaru.
"Tih, besok Minggu, ibuk jadi ikut piknik RT loh Tih." Ucap Bu Rohmah mencowel lengan Ratih.
"Ya bagus, ibuk kan bisa refreshing. Besok biar Ratih kasih uang saku, jangan lupa beliin oleh-oleh ya buk buat Ratih." Jawab Ratih nyengir.
"Iya iya Tih. Altaf ibuk bawa ya?"
"Emang ibuk nggak repot bawa Altaf."
"Enggak. Udah tenang aja. Altaf udah ibuk tawarin tadi, dia mau aja kok." Kata Bu Rohmah dengan wajah berbinar."Nanti kamu bisa lebih santai nulis."
"Iya buk, makasih, udah selalu dukung Ratih selama ini." Ucap syukur Ratih memeluk tubuh ibuknya.
.
.
.
"Haruskah aku datang?" Gumamnya menatap undangan itu.
Tok tok. Suara pintu rumah nya di ketuk. Ratih menoleh ke arah pintu. Foa Tempak berdiri diambang pintu.
"Oohh... Foano."
Foano tersenyum, "Aku kebetulan lewat di sekitar sini, jadi aku mampir."
"Ooh, begitu, masuk." Ucap Ratih sedikit gugup meletakkan undangan di meja begitu saja."Cika mana?"
"Nggak ikut, tadi ada urusan kerjaan sebentar." Jawab Foa duduk di sofa tamu."Altaf kemana? kok nggak kelihatan?"
"Sama nenek nya piknik. Sebentar aku ambilkan minum." Ratih berjalan ke dapur membuat teh dan membawa ke ruang tamu. Saat ia meletakkan cangkir teh, undangan pernikahan Indra tak ada di sana. Justru berpindah di tangan Foa.
"Ini..." Foa menunjukkan undangan ditangannya.
"Itu, undangan pernikahan mantan suamiku." Jawab Ratih singkat.
"Kamu mau datang?"
"Enggak ah, buat apa?" Gumam Ratih dengan senyum yang terkesan di paksakan.
"Bagaimana kalau kita datang saja? Yaahh, lihat-lihat." Ajak Foa mengambil cangkir tehnya dan menyruput pelan.
__ADS_1
Ratih menunduk dengan senyum pahit.
"Masih ada satu jam. Ayo kita datang ke sana, berdandan yang cantik." Ucap Foano lagi dengan senyum misterius, ia menggenggam tangan Ratih."Aku tunggu."
Ratih menegakkan kepalanya, menatap lekat pria yang begitu percaya diri dengan senyumnya yang semakin memikat.
"Bukankah kamu sudah melakukan banyak hal untuk ini? Sekaranglah saatnya, menunjukkan pada mereka perubahanmu." Sambung Foano lagi.
Tangan Foano berpindah membingkai wajah Ratih.
"Tunjukkan kamu sekarang udah cantik. Tunjukkan kamu sekarang sudah lebih dari mampu. Tunjukkan kamu adalah berlian yang mereka buang."
Bersambung...
Wah, kira-kira Ratih mau datang nggak ya? Terus, gimana nanti reaksi nya bu Tias dan Indra ya kalau Ratih datang beneran?
Othor kasih visual sekalian ya
Ratih 27th
Altaf 4th
Foanoita Zai 34th ( Sory ya visual nya bukan Jimin. wkwkwk)
Indra 32th
Cika 10th
Tiara 27th
__ADS_1