Papa Pengganti Buat Altaf

Papa Pengganti Buat Altaf
Chapter 6 - Berantakan


__ADS_3

Ratih akhirnya nekad, ia mencoba percaya pada orang yang bahkan belum pernah ia temui atau ia dengar suaranya. Namun, kekhawatiran nya akhirnya terpatahkan dengan sikap Foa yang terus membantu Ratih.


Beberapa kali mengisikan quota. Mengirim uang saat Ratih butuh untuk pengobatan Altaf saat sakit. Atau pun saat Ratih butuh susu dan keperluan Altaf. Sungguh editor yang sangat baik dan peduli.


Hari ini, Ratih yang telah pindah di rumah ibunya, memutuskan untuk mencari kerja saja. Ia mengirim pesan pada Foa.


["Maaf mbak, aku sibuk beberapa hari ini jadi libur dulu."]


["Nggak papa, yang penting kamu kabari aku, usahakan sesibuk apapun kirim naskahmu. hasil nggak pernah menghianati usaha."] Balas Editornya.


["Iya mbak, besok aku mulai nulis lagi."] Dengan di akhiri emoticon senyum.


Lama tak mendapat balasan dari Foa, akhirnya Ratih memutuskan untuk menyesuaikan beberapa tulisannya malam itu. Satu setengah jam kemudian, pesan balasa dari Foa terlihat di bar teratas gadget nya.


["aku senang mendengarnya. Semangat!"] Di ikuti emoticon tangan yang terangat ke atas.


Ratih hanya tersenyum menerima semangat dari editor nya itu. Terlihat, Foa masih mengetik pesan, ia tunggu sebentar kemudian muncullah pesan Foa berikutnya.


["Kamu baik-baik aja kan?"]


Ratih tertegun, ia tersenyum kecil, selain mentor dan editornya, Foa juga menjadi teman curhatnya. Dia selalu tau keadaan hati dan pikiran Ratih. Foa juga humble dan ia mengajari, namun tidak terkesan menggurui. Karena itulah, Ratih pun merasa nyaman bertukar cerita pada Foa. Juga mengutarakan niatnya untuk mencari kerja dan berhenti menulis.


Walau keduanya belum pernah bertemu karena terpisah jarak, mereka juga berkomunikasi hanya dengan berbalas pesan. Belum pernah sekalipun bertelpon ataupun melakukan panggilan vidio. Setelah puas menumpahkan isi hatinya, Ratih pun memilih tidur agar besok pagi ia bisa bangun dengan tubuh dan pikiran yang fresh.


["Ratih, menurutku, kamu nggak perlu mencari kerja. Cukup fokus menulis. Kamu juga bisa mengurus Altaf. Cobalah lihat pendapatanmu sekarang."]


["Aku kirimkan alamat email dan akun menulis mu."]


["Selama ini aku hanya bantu publish saja, sekalipun nggak pernah menyentuh pendapatanmu, kamu bisa cek, ada riwayatnya. Terima kasih sudah percaya padaku."] Di akhiri dengan emoticon senyum dan tangan penyemangat.


["Tolong pertimbangkan, untuk tetap menulis."]


Pesan itu Ratih baca keesokan harinya, Ratih terdiam sejenak. Menatap layar di hpnya. Lalu ia mncoba mengikuti saran dari Foa. Membuka melalui web sesuai saran dan instruksi dari Foa.


Dengan hati berdebar kencang, ia menekan layar hpnya. Mata Ratih melebar, netranya terus terfokus pada benda pipih yang menyala itu....


20.000.000


Mata Ratih melebar sempurna. Ia mengerjap , beberapa kali menepuk pipinya, lalu mencubit tangannya.


"Aauu,, sakit..."


Tok tok..... (Suara pintu di ketuk.)


"Ratih? Kamu kenapa nak?" Suara ibu dari balik pintu mendengar Ratih mengaduh.


"Nggak papa buk." Sahut Ratih dari dalam kamar.


Ia lalu melihat lagi layar hpnya, mengitung ulang jumlah Enol di belakang. Nggak cuma sekali, berkali-kali malah, takut saja dia salah hitung.

__ADS_1


"Benar. Ini nggak mimpi. 20juta. Seumur-umur baru kali ini aku punya uang sebanyak ini. Astaga...."


Ratih merasa sangat senang. Padahal baru dua bulan lamanya ia menekuni dunia literasi, namun ia sudah mendapatkan sebanyak itu. Uang yang bahkan tak pernah ia pegang sebelumnya.


Ratih lalu menghubungi Foa, memalui chat pesan aplikasi ijo.


["Mbak Foa? Ini beneran 20juta?"]


Tak lama balasan pun Ratih terima.


["Dan itu belum semua. Masih ada fee yang kemarin aku sebutin."]


Ratih tertawa girang saking senangnya. Ia melompat-lompat, hingga Altaf terbangun.


"Aduuhh, sayang.. maaf ya, ibuk terlalu senang. Rejeki emang selalu datang dari tempat yang tidak disangka-sangka." Ucap Ratih memeluk Altaf dan menggendong nya.


["Mbak, anakku bangun. Makasih ya, aku jadi punya semangat baru."]


Tak lama Foa membalas.


["Oke, coba cek rekeningmu ya, harusnya fee dari ku sudah masuk."]


###


Indra bangun dari tidurnya, pukul 10 pagi. Ia lalu berjalan keluar kamar. Ia cukup terkejut, rumah yang biasanya rapi, kali ini terlihat sedikit berantakan. Ia menyapu pandangannya. Berjalan ke meja makan. Kosong. Padahal, biasanya jam enam pagi semua sudah siap terhidang. Ia lalu berjalan ke dapur.


"Astaga......" Gumamnya, dapur yang biasanya terlihat bersih, kini tampak berantakan. Piring-piring kotor di biarkan menumpuk di dekat wastafel yang memang udah penuh.


Indra lalu berjalan ke ruang depan yang dia yakin semua orang berkumpul. Saat ia hendak berjalan ke teras depan, ia melihat mbak Maya dan mas Gafar keluar dari kamar dengan menggeret tas koper.


"Loh? Mau pulang mbak, mas?"


"Iya."


"Kok cepet? Ini masih hari ke lima lebaran loh?"


"Iya Ndra, mendadak mas ada urusan. Jadi pulang lebih awal." Ucap Mas Gafar datar sambil berjalan keluar mengikuti istrinya yang berjalan lebih dulu.


"Buk, pamit ya?" Ucap Gafar pada ibunya yang duduk-duduk di teras.


"Iya, ati-ati di jalan." Jawab ibu dengan nada sedikit tak suka.


Setelah menyalami ibunya dan paman, mereka berjalan menuju mobil yang terparkir.


"Eehh, sebentar! Kalian kok nggak ninggalin duwit ibuk sih?" Sergah Bu Tias berjalan mendekati anaknya, yang dengan wajah di tekuk memberikan ibuk nya uang. "Ingat ya, tiap bulan kirim buat bayar pembantu."


"Kok kita juga ikut bayar sih buk. Kami kan nggak tinggal disini. Kita juga banyak kebutuhan. Indra lah yang ibuk minta. Atau suruh aja nanti istrinya Indra yang kerjakan." Protes Maya tidak suka, segera memasuki mobil dan bergegas pergi. Indra hanya bengong saja mendengar ucapan kakak iparnya, ia heran melihat kakaknya kembali lebih awal, tidak seperti biasanya. Yang malah sampai seminggu nginap di rumah ibuk.


"Buk? Nggak masak ya? Kok nggak ada apa-apa di meja? Dapur juga berantakan?" Indra bertanya pada ibu Tias yang meliriknya sebal.

__ADS_1


"Ya ini gara-gara Ratih minggat. Nggak ada yang ngerjain ini semua."


Indra terbengong sesaat.


"Cari pekerja bayaran Ndra! Sumpek ibuk lihat rumah."


"Iya, buk. Tapi, Indra laper buk." Ucap Indra sambil mengusap perutnya sambil cengengesan.


"Ya sana beli lah di warung."


Indra memasang tampang kecut.


"Sekalian beli buat ibuk sama pamanmu juga. Kami juga belum Sarapan."


"Lah, kenapa kalian nggak beli tadi?"


"Ini anak,, nggak jauh beda sama Ratih yaa.. makanya jodoh..." Gemas ibu menjewer anaknya.


"Aaa... Aaa.. sakit buk." Indra menggosok telinganya.


"Kita pergi sama-sama saja ke warung makannya. Di rumah nggak ada piring bersih." Tukas Bu Tias.


Ibuk dan paman langsung berjalan masuk ke dalam rumah dan sebentar udah keluar."ayo."


"Kamu cepet, cari pembantu, biar cepet bersih itu rumah." Suruh Bu Tias dengan wajah di tekuk."pokok nya besok rumah harus sudah bersih."


"Iya buk." Jawab Indra sedikit malas,"loh kok di kunci pintunya buk? Bukannya masih ada Mbak indah?" Sambung Indra heran.


"Indah udah pergi pagi-pagi banget tadi."


Indra tersenyum kecut, sedikit ia merasa Ratih dibutuhkan, tentu saja hanya untuk membereskan rumah.


Mereka bertiga memasuki rumah makan untuk sarapan.


Saat akan memasuki warung, Indra melihat sekilas Ratih.


"Ngapain dia?" Gumam Indra penasaran..


Sementara diseberang sana, Ratih tengah memasuki sebuah mini market ber- logo merah dan kuning. Karena tak ada ATM di sekitar rumah Ratih, terpaksa dia melakukan tarik tunai di mini market itu.


"Mau tarik tunai mbak." Ucapnya pada petugas kasir sembari menyerahkan kartunya.


"Mau tarik tunai berapa mbak?"


"Lima ratus ribu."


Begitu keluar dari mini market, setelah tarik tunai dan membeli susu untuk Altaf. Ia di hadang oleh Indra yang penasaran dengan keberadaan Ratih di mini market itu.


"Kamu! Ngapain di sini Ratih, ayo balik."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2