
"Terimakasih ya, karena udah membuang berlian yang sangat berkilau ini. Jadi aku bisa memungutnya." Sambil bersalaman dengan Indra.
Ucapan tajam Foano menusuk hati Indra yang masih terpana menatap wajah ayu Ratih dengan segala kemilau di tubuhnya dan sebuah jam tangan mahal yang menambah kesan elegan pada wanita yang pernah menjadi istrinya itu.
"Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu itu." Lanjut Foa memanasi."Ayo sayang, jangan bersalaman nanti tanganmu kotor. Dan aku cemburu."
Foano menggandeng tangan Ratih yang hendak menyalami mantan suaminya itu. Dengan senyuman yang terkesan mengejek dan tatapan tajam pada Indra. Foano kembali berucap.
"Oo iya, kami punya kado sepesial untukmu. Jangan lupa untuk membukanya." Dengan kedipan genit pada Tiara di akhiri dengan senyuman yang membuat Tiara bersemu merah.
Ratih dan Foano turun dari panggung pelaminan tanpa menyalami Bu Tias yang terlihat kesal dan membuang muka. Jadi tak salah jika Ratih memilih untuk tak menyalami nya.
"Kamu mau makan dulu atau langsung pergi saja?"
"Aku tidak berselera untuk makan." Jawab Ratih merasa mendapat tatapan yang tak mengenakan dari mantan mertua dan keluarganya.
"Baguslah. Aku juga."
Selanjutnya, tanpa mampir untuk sekedar makan di acara hajatan Bu Tias, Ratih dan Foa langsung berjalan keluar dari gedung tempat acara terselenggara.
###
"Belagu banget sih mantan istri mu itu mas." Gumam Tiara dengan mata yang terus mengiringi sosok Foano dan Ratih yang keluar dari Hal tempat acara resepsi.
Indra tak menjawab, bukan karena apa, memang pada dasarnya Ia sendiri pun kaget dengan perubahan Ratih yang kini menjadi semakin cantik dan elegan. Indra teringat dengan ruko tempat Ia mengambil pesanan Serin. Ratih sudah menjadi bos di sana.
Indra membuang nafas berat. Ada sedikit sesal di hatinya telah menceraikan Ratih. Untuk kembali tentu saja tak mungkin, apa lagi dia sudah menikah dengan Tiara sekarang.
Dan ada satu lagi yang terus mengganggunya, pria tampan yang mirip aktris Korea yang dengan mesra memperlakukan Ratih.
'Siapa dia? Sungguh kan dia calon suaminya? Setampan itu? Kelihatan nya juga bukan orang bisa. Ratih, kenapa kamu sepertinya sudah hidup senang sekarang ' begitu pikir Indra.
Seusai acara hajatan perkawinan Indra dan Tiara, Bu Tias segera meminta Gafar dan Indah untuk mengamankan kotak sumbangan dan hadiah yang cukup banyak itu.
"Eehh, itu kado-kado mau di bawa ke mana mbak? Mas?" Tanya Tia yang baru saja turun dari pelaminan setelah ayah dan ibunya pergi membersihkan make up terlebih dahulu.
"Diamankan dulu Tia di rumah kami. Besok kan kalian juga tinggal di rumah ibuk." Jawab Mbak Indah sambil berlalu.
Dengan tataapan tak suka Tiara menatap tajam Indra yang kini sudah sah menjadi suaminya.
__ADS_1
"Apa-apaan ini mas?" Ketus nya pada Indra yang sedikit menunduk tak enak hati.
"Yah, kan tadi dah di bilangin di amankan dulu di rumah ibuk."
"Itu kan kado milik kita mas, harus nya ya ke rumah kita. Terus apa maksudnya kita tinggal sama ibuk. Kan sudah kesepakatan kita untuk tinggal di rumah aku." Tiara makin sewot dan ketus karena Indra seperti ingkar dengan kesepakatan awal mereka.
"Iya Tiara, besok kita bicarakan pas udah balik ke rumah ibuk ya."
Tiara tampak sangat tak suka. Wajahnya sudah sangat masam.
'Duuhh, kalau Ratih dulu manut-manut aja. Apa ini karena Tiara punya kedudukan dan cantik ya?' pikir Indra menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
###
Sesampainya di rumah, Bu Tias bersantai di ruang tamu yang kini sudah penuh dengan hadiah dan kotak sumbangan. Senyum nya mengembang.
"Berat buk tadi kotak sumbangannya." Ucap Gafar yang tadi sempat mengangkutnya.
"ya udah, kita buka yuk.. ibuk udah nggak sabar panen nih." Ucap Bu Tias sumringah.
Kotak di buka. Dan mulai menghitung isi amplop para tamu. Bu Tias mengorek tumpukan amplop itu.
"Nyari amplopnya Ratih. Dia kan sepertinya sudah punya duwit tuh, bahkan itu calonnya sepertinya orang kaya." Bu Tias mencebik.
Ia lalu terlihat tersenyum lebar melihat amplop milik Ratih yang paling tebal. Lalu mengambilnya.
"Wah, tebel banget ini." serunya dengan mata berbinar senang merasa mendapat jackpot.
"Liat dulu buk, jangan-jangan isi nya daun lagi." Kekeh Maya sembari menata uang dari amplop yang dia buka.
Bu Tias membukanya, awalnya ia tersenyum melihat warna merah yang bertumpuk banyak lalu menariknya dengan semangat. UHUK, dada nya naik turun dan muka nya di tekuk-tekuk melihat isi nya hanyalah uang mainan kertas semata dan logam 1000. Ditambah lagi saat membaca isi tulisan di uang mainan itu, Bu Tias langsung meremas dengan kesal dan melemparnya.
"Huuuhh, jijik kali aku tadi sampai membaca nya. Dasar mantan menantu sialan. Gaya nya saja selangit pake gelang, kalung, cincin emas, pasti imitasi semua itu!" Bu Tias mencebik kesal.
"Ada apa sih buk?" tanya indah yang juga sedang menata uang dari amplop sumbangan."Duwit kok di remmas-remas."
"Itu baca sendirilah kertas Ratih itu!" tunjuk Bu Tias pada kumpulan uang kertas merah yang dia remas dengan kesal tadi.
Karena penasaran Indah melihat lembaran kertas berwarna merah yang sempat Bu Tias remas dan lempar tak jauh dari nya duduk.
__ADS_1
"Kirain banyak uang, ternyata hanya uang mainan." Bu Tias memgumpat-umpat jengkel merasa di tipu oleh Ratih.
"Kok dia pelit dan perhitungan gini ya?" Gumam Indah melempar kertas uang mainan yang dia baca. "Padahal kata mbak Niah dan beberapa teman sosialita ku, Ratih punya toko kosmetik loh di jalan X. Rame lagi."
"Ah, yang bener mbak indah?" Maya meragukan."Dia aja kasih uang mainan." sambung nya mencibir.
"Iya, terus kata tetangga nya, itu loh Hasnah, Ratih sudah punya mobil sendiri."
"Masa sih ndah?" Bu Tias sedikit geram tak suka."Kok dia nggak kasih sumbangan ke Indra kalau emang kaya."
"Malah ngungkit-ngungkit pas masih jadi mantu rumah ini lagi. Banyak banget gaya nya. Emang udah biasa itu kalau mantu kerjain kerjaan rumah bantu ibuk. Masak ibuk harus kerjain sendiri terus dia ungkang-ungkang?" Sambung Bu Tias lagi merasa terzolimi oleh Ratih.
"Besok ibuk mau ke rumah Ratih lah, minta sumbangan, enak aja udah datang ke resepsi nggak bawa sumbangan! Malah kasih uang mainan nggak berbobot kek gitu."
_____
Sementara itu, Ratih dan Foa setelah pergi dari resepsi Indra. Memilih makan siang di salah satu resto yang cukup terkenal dan viral kala itu.
"Oo iya abis ini kita diskusi bahas masalah naskah kamu ya?"
"Okey."
Seusai makan siang, Foano dan Ratih ke tempat tinggal Foano. Karena semua ada laptop di apartemen Foa.
"Cika mana?" Tanya Ratih begitu memasuki rumah Foano.
"Lagi main ke rumah temennya." Jelas Foano membuka pintu ke ruang kerjanya. Ratih mengekori saja.
"Aku ambil minum dulu. Kamu mau minum apa?" Tanya Foano diambang pintu.
"Terserah, ngikut aja."
Foano mengulas senyum kecil. "Nyalain aja laptopnya, password nya Foano5534."
Ratih duduk di sofa. Tangannya mulai mengoperasikan laptop di depannya. Wallpaper yang terpasang sukse membuat Ratih tersenyum. Selfi wajah lucu Foa dan Cika.
"Sepertinya Foano cukup dekat dengan putrinya. Tapi, dimana istri nya?" Gumam Ratih yang memang tak pernah melihat istri editornya itu. Juga tak pernah mendengar cerita apa pun tentangnya.
"Foanoita Zai... Aku bahkan tak tau apapun tentang mu selain hal kecil yang kamu tunjukan padaku."
__ADS_1
Bersambung....