Papa Pengganti Buat Altaf

Papa Pengganti Buat Altaf
Chapter 13 - pertemuan dengan Foa


__ADS_3

Ratih menyapu pandangannya di lokasi tempat ia dan Foa janjian bertemu. Di sisi taman dekat air mancur. Cukup ramai. Hingga ia kesulitan mencari tempat.


"Katanya ketemuan di sini, tapi rame banget, mbak Foa udah sampai belum ya?" Gumam Ratih lalu mengeluarkan hpnya. Ia menanyakan pada Foa, apakah sudah sampai lebih dulu atau belum. Sayang nya tak ada jawaban. Akhirnya, Ratih berkesimpulan, bahwa Foa belum datang.


"Keknya belum datang deh, lagian nggak ada mbak-mbak yang make baju hijau." Gumamnya lagi memindai lokasi.


"Ibuk, ke sana." Ajak Altaf menarik genggaman tangan ibunya. Tangan bocah itu menunjuk tempat bermain anak-anak. Ratih melihat kesana, tak begitu ramai. Hanya ada beberapa anak kecil yang sedang main dan di temani oleh beberapa orang dewasa.


"Iya, ayok." Ratih mengikuti, dia pikir Altaf akan bosan jika hanya menunggu saja didekat air mancur. Jadi tak ada salahnya ia mengikuti kemauan anaknya.


"Kamu main sampai puas sana. Ibu tunggu sini ya. Berani kan?"


Altaf menganggu senang dan mantap. Lalu berlarian ke prosotan. Disana sudah ada anak seusianya yang juga bermain. Ratih hanya memperhatikan saja. Berhubung sesama anak-anak jadi mereka mudah saja membaur dan berteman.


Ratih mengambil hpnya lagi, mengetik pesan jika dia menunggu di area bermain anak-anak.


["Mbak Foa, kutunggu di sini ya."]


Ratih mengirim pesan sekaligus foto dirinya dan lokasi dimana dia menunggu editornya itu. Lalu ia simpan lagi hpnya ke dalam tas.


Ratih memandang lagi anaknya yang sudah berganti main kejar-kejaran dengan anak-anak yang lain. Ratih tersenyum melihatnya, kini setelah pindah dari rumah mertua-nya, Altaf jadi lebih riang.


Disaat Ratih sedang asik memandangi anaknya yang sedang aktif itu, seorang pria tiba-tiba duduk di sampingnya. Ikut melihat ke arah yang sama. Sontak Ratih menoleh, ia terkejut, seorang pria dengan jaket putih ditubuhnya duduk di samping dirinya. Sekali lihat saja ia tau pria itu tampan dan berkulit bersih, hidung yang mancung dan mata yang sedikit sipit. Bibir yang merona, alis yang tebal dan rambut hitam yang berkilauan. Terlihat sangat terawat.


Pria itu menoleh pada Ratih, lalu tersenyum dengan sangat ramah dan manis. Menambah ketampanan nya saja. Sontak membuat jantung Ratih berdegup kencang.


'Astagfirlloh....' batinnya segera memalingkan wajahnya saat ia bertemu kontak mata dengan pria itu.'Ya Alloh, apa dia itu Jimin?'


'Ada banyak tempat duduk, kenapa dia harus duduk disini? Gimana kalau bajuku robek gara-gara jantung ini terlalu kencang mengentak?' lanjut Ratih membatin.


Ratih lalu menoleh lagi padanya, pria itu masih menatapnya dan mengumbar senyum.

__ADS_1


'Astagfirlloh, Jimin....' Ratih memegangi pipinya yang terasa menghangat.


'Tunggu, kenapa dia senyum-senyum terus dari tadi? Apa dia suka padaku? Ahh,, tidak mungkin, tidak mungkin Jimin suka padaku.' pikir Ratih lagi menunduk melihat dirinya sendiri.


'Iya, lusuh dan dekil sepertiku. Walau pun sudah perawatan duduk di samping Jimin yang memukau ini tetap membuatku terlihat seperti puntung rokok yang kebasahan... Jangan GR ah.' pikir Ratih lagi menepis otaknya yang terus bermonolog liar.


Duduk disamping pria tampan dan wangi seperti 'Jimin'. Membuat Ratih tidak nyaman dan minder, walau kini ia udah lebih bersih dan rapi, tetap saja itu membuat Ratih tak percaya diri walau hanya duduk berdampingan.


Ratih menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lalu Ratih berdiri, dan berjalan mendekati anaknya.


'Beneran minder duduk satu bangku dengan Jimin. Mending pura-pura mantau Altaf terus pindah tempat duduk.' pikir Ratih mengincar satu kursi yang dekat dengan anaknya bermain ayunan.


"Altaf, hati-hati, jangan nakal sama temannya." Seru Ratih sembari berjalan dan duduk di kursi yang tadi dia incar.


"Nah, gini kan enak." Gumam Ratih, "Nggak perlu lagi deg-degan duduk deketan sama Jimin."


Ratih terkekeh malu. Alangkah terkejutnya, Ratih, ternyata si-Jimin juga ikut-ikutan pindah duduk di sampingnya.


"Astaghfirullah...." Gumam Ratih tertegun.


'Aneh,,' batin Ratih mulai bergidig. 'Kenapa dia senyum-senyum dari tadi. Jangan bilang dia orang stres... Aduuhh, ganteng-ganteng stres.'


'Pergi lagi aja deh...' Ratih beranjak lagi, ia mengeluarkan botol minuman."Altaf minum dulu."


Alibinya untuk pergi, ya menawari Altaf minum agar terkesan wajar. Lalu Ratih berpindah ke bangku yang lain setelah memberi Altaf minum.


Ratih melihat jam yang melingkar di lengannya. Sudah 30menit dia menunggu. Merasa aneh, akhirnya ia merogoh tasnya, dan mengecek hpnya. Karena sedari tadi belum juga melihat Mbak Foa yang janji temu dengan nya.


"Udah di baca kok. Apa masih sibuk ya?" Gumam Ratih, ia kembali di kejutkan oleh Jimin yang lagi-lagi duduk disampingnya.


'Astaghfirulloh.... Stres bener ini orang. Bikin takut aja.' pikir Ratih bergidig ngeri, otaknya sudah traveling akan di modusin macam-macam menggunakan ketampanan.'Sekarang kan lagi marak penipuan menggunakan ketampanan.'

__ADS_1


'Aku harus cepat-cepat pergi dari sini. Pamit dulu sama mbak Foa. Nanti dia nyariin lagi, aku nggak disini.' batin Ratih lagi mengetik pesan.


"Udah lama?"


Ratih menoleh, mendengar Jimin mengajaknya berbicara. Jimin tersenyum lagi. "Udah lama nunggu?"


'Fix, dia penjahat yang mau modusin. Pura-pura kenal padahal nggak.' batin Ratih yakin.'Baiklah, aku kirim mbak Foa dulu sebelum pergi.'


"Hei, ditanyain kok diem aja?" Protes pria yang mirip Jimin itu pada Ratih yang malah asik main hp dan pura-pura nggak dengar.


["Mbak, masih lama ya?"]


["Ada orang tampan yang aneh mengikuti ku, aku takut. Takut nanti dia nipu atau modusin aku. Kan lagi musim kan sekarang mbak, jadi, aku pulang dulu ya, aku takut.


["Kayaknya dia stres juga. Lain kali aja kita ketemunya."]


["Sekali lagi maaf ya mbak."]


["Ratih pulang dulu."]


Pesan terkirim. Ratih bernafas lega. Sementara pria disampingnya merogoh kantong jaketnya dan mengambil hp. Ia tersenyum geli saat menatap benda pipih itu.


'Tuh kan, jelas dia ini kalau nggak stres ya penipu.' batin Ratih begidig, gegas beranjak dari duduknya.


"Altaf ayo pulang." Seru Ratih mengayunkan kaki hendak melangkah. Namun, tangannya di tahan pria itu. Ratih langsung menoleh hendak menarik tangannya, saking takutnya.


"Aku udah datang dari tadi, tapi kamu nya malah lari." Ucap pria itu sembari menunjukkan hpnya,"Rupanya kamu pikir aku orang stres yang mau modusin kamu ya?"


Mulut Ratih melongo sempurna, melihat di layar pipih yang menampakkan chat yang tadi dia kirim.


'Alamak... Mati kutu....'

__ADS_1


____


Bersambung....


__ADS_2