Papa Pengganti Buat Altaf

Papa Pengganti Buat Altaf
Chapter 14 - Diluar dugaan


__ADS_3

Foanoita Zai.


Pria tampan berkulit putih, bermata sipit sangat cocok jadi opa Korea, beda jauh dengan Ratih yang lebih condong ke unnie korengan. Hahaha.. Othor bercanda.


Ratih duduk tak tenang, pasalnya, selama ini ia pikir Foa adalah wanita, jika dilihat dari namanya, Foanoita Zai, harusnya Wanita. Tapi, kenapa yang dihadapannya ini laki-laki, sempurna pulak dari sisi visual, membuat Ratih minder dengan bentuk dirinya yang belum bertransformasi sempurna. Sangat berbanding terbalik dengan pria yang duduk di sampingnya kini.


"Maaf ya, kalau aku nakutin kamu." Ucap Mbak Foa, ah, salah mas Foa,


Ratih hanya diam, ia melirik pria yang sedang menyugar rambutnya ke belakang. Dibalik jaket putihnya, Dia memakai kaus hijau. Sesuai ciri yang di sebutkan. Ratih memejamkan matanya menepuk jidat nya sendiri. Tingkah Ratih itu justru membuat Foa mengulas senyum geli.


"Kenapa dengan mu?"


"Tidak." Ucap Ratih sambil berdiri.


'Ya ampun, aku sangat tidak nyaman berada di dekatnya, bagaimana ini? Aku tak mungkin pergi dengan beralasan ada urusan. Karena dari tadi aku sudah menegaskan jika waktuku sangat luang. Haaahh, ya ampuunn... Kenapa dia harus laki-laki...' batin Ratih menyesalkan kesalahpahaman dirinya.


Bagaimana bisa dia asal berfikir jika Foa seorang wanita tanpa bertanya lebih dulu. Ia bahkan banyak bercerita tentang hal pribadi dengannya bahkan ukuran pakaian dalam pun pernah dia bicarakan pada Foa. Malunya ia saat ini bila mengingat hal itu.


"Ya Tuhan, aku ingin sekali menenggelamkan diri ke dasar danau saja." Gumam Ratih pelan pada dirinya sendiri. Membenturkan kepalanya di dinding penyangga samping ia duduk.


Saat ia membenturkan kepalanya di sana ia merasakan ada penghalang yang lebih lunak. Ratih melirik ke arah benda itu, ada tangan disana. Ia lalu menoleh ke arah yang berlawanan, dimana Foa berada.


"Apa kepalamu nggak sakit kamu benturin seperti itu?"


Wajah Ratih terasa menghangat,


"Aku hanya, tak ingin kepala penulis ku jadi oleng karena nya." Lontarnya sembari menarik balik tangannya.


"Hahaha.... Aku memang sudah oleng dari dulu." Tawa Ratih dengan sangat garing.


Foa tersenyum dengan sangat manis, sebagai wanita normal, sudah tentu Ratih berdebar kencang. Mungkin karena saking tampannya pria yang duduk di sampingnya itu. Hingga ia justru makin salah tingkah.


Tangan Foa bergerak menunjuk dadanya.


"Sini, benturkan saja di sini. Lebih empuk, tapi kokoh, dan lebih nyaman."

__ADS_1


Wajah Ratih makin terasa menghangat. Mungkin kini sudah sangat memerah.


'Kenapa orang ini malah bercanda yang bikin baper aja. Dasar, cowok ganteng, suka banget gosting wanita menyedihkan sepertiku.' Ratih langsung berdiri dari duduknya, ia memanggil Altaf.


"Altaf? Kamu mau minum nak?"


Ratih bergegas menghampiri Altaf, tentu saja itu hanya alasannya saja. Sangat canggung dan tak nyaman berada di samping pria tampan berwajah seperti Jimin itu. Jantung nya akan terus terpompa tanpa ia mampu mengontrolnya. Bikin lemas saja.


'Begini amat sama orang cakep.' batin Ratih mengeluh pada dirinya sendiri. Malu, salah tingkah, sekaligus merasa minder. Itu yang ia rasakan.


Setelah memberi Altaf minum, Ratih tak lantas kembali ke tempatnya duduk tadi, ia masih berdiri menatap anaknya, Altaf yang masih sibuk bermain. Ratih mencoba menetralkan jantungnya yang berdegup kencang dan tubuh yang memberi respon yang berbeda. Tak disangkanya, Foa justru mendekat dan berdiri di dekatnya dengan tangan yang di lipat didada.


"Yaa ammpunn.. kenapa dengan pria ini? Jika ada didekatnya aku merasa seperti kain pel yang di kelilingi Prada dan cenel." Gumam Ratih mencoba melangkah menjauh. Namun lengannya di tahan oleh Foa.


Ratih menunduk, rasanya sangat takut melihat wajah tampan pria yang menjadi editornya itu. Takut makin terpesona sekaligus menambah tingkat keminderannya.


"Duduk yuk, berdiri capek kan?" Ajak Foa menarik tubuh Ratih dan membawanya duduk di bangku tak jauh dari Altaf main.


"Altaf gesit sekali ya?"


"Dia juga terlihat bahagia."


"Tentu aja, namannya juga anak-anak, bermain dengan anak-anak lain sudah pasti bahagia."


Foa tersenyum kecil, ia lalu berjalan mendekat pada Altaf, awalnya bocah itu sedikit ragu, namun, Foa sangat pandai mengambil hati para Bocah-bocah hingga ia berbaur dan ikut bermain bersama. Ratih hanya memandang mereka.


'Yah, orang dengan kelebihan fisik lebih mudah diterima dari pada yang tidak.' pikir Ratih masih terus menatap anaknya Altaf yang bergelayut pada Foa.


###


"Papa!"


Mata Ratih melebar mendengar Altaf memanggil pria yang ada disampingnya kini dengan sebutan papa.


"Papa, apa nanti papa akan tinggal dengan kami?"

__ADS_1


Foa melirik Ratih dengan senyuman di wajahnya, membuat wajah Ratih menghangat. Malu juga Altaf sembarangan menyebut Foa Papa, nanti malah dikira dia pulak yang nyuruh begitu. Batin Ratih merasa tak nyaman. Masih jelas teringat dalam memori nya, akan reaksi Zaki saat Altaf memanggilnya Ayah. Dan pria itu tak suka.


"Altaf, kenapa sembarangan memanggil om Foa papa. No! Tidak boleh." Protes Ratih dengan larangan.


Bagaimana bisa Altaf memanggil pria yang baru ditemuinya belum genap sehari itu dengan sebutan papa. Altaf mengerucutkan bibirnya.


"Biarkan saja. Namanya juga anak-anak. Iya kan Al?"


Altaf mengangguk menyetujui masih dengan muka cemberut nya.


"Tidak boleh! Nanti jadi kebiasaan." Ucap Ratih cepat, takut dia disalah pahami oleh editornya itu."Jangan sembarangan menyebut papa sama om Foa. oke?"


"Altaf pingin main sama ayah. Tapi ayah Altaf nggak ada." Jawab Altaf sedih dengan mata bulat yang polos. "Nggak ada yang mau jadi ayahnya Altaf."


Ratih merasa kasihan juga pada Altaf, yang mungkin tak tau jika ayah dan ibunya sudah berpisah. Dan Indra sedikitpun tak merasa perduli dengan Altaf lagi.


"Ayah Indra udah nggak perduli sama Altaf lagi. Nggak pernah main sama Altaf." Ucapan Altaf kecil yang membuat Ratih terdiam sesaat dan menggigit bibirnya.


Memang dalam perceraian selalu anak yang menjadi korban. Tapi bertahan pada hubungan yang toxic dan perlakuan tidak manusiawi dari keluarga mantan suaminya bukan perkara mudah dan tentu akan berimbas tidak baik juga untuk anaknya.


"Altaf kan masih punya ibu." Kata Ratih dengan senyum yang di paksakan mengelus kepala Altaf.


"Altaf pingin punya papa?" Tanya Foa tiba-tiba, Altaf mengangguk pelan.


"Panggil papa." Sambung Foa menunjuk dirinya sendiri.


Reflek itu membuat Ratih menatap pada nya.


"Papa." Suara Altaf girang.


"Altaf!" seru Ratih dengan nada keberatan. ada rasa tak enak pada Foa.


"Boleh ya buk." Pinta Altaf menatap wajah ibunya dengan memelas.


"Biarkan saja, aku juga punya seorang anak perempuan. Aku ngerti bagaimana perasaan Altaf yang kehilangan sosok papa. Jangan terlalu membebaninya dengan larangan. Aku nggak keberatan, Altaf masih anak-anak." Ungkap Foa dengan senyum yang membuat Ratih makin tak nyaman.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2