Papa Pengganti Buat Altaf

Papa Pengganti Buat Altaf
Chapter 29


__ADS_3

Indra mencegat salah satu warga berpakaian batik yang baru saja keluar dari rumah Bu Rohmah. Karena penasaran ia pun bertanya.


"Maaf, itu rumah Bu Rohmah kok ramai-ramai ada apa ya?" Tanya Indra penasaran.


"Oohh, itu? Lagi ada acara lamaran."


"Lamaran?" Indra semakin terheran.


"Iya, putrinya bu Rohmah, Ratih..."


Deg! Jantung Indra serasa berhenti berdetak. Aneh, padahal ia sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan Ratih, tapi mengetahui Ratih sedang di lamar rasanya tidak terima. Ada perasaan kehilangan di hati Indra.


Di ujung gang tampak iring-iringan mobil mendekat, gegas Indra menepi di tepat yang agak gelap. Ia ingin melihat siapa pria yang sudah melamar Ratih itu.


****


"Papa..."


Foano menoleh pada anak gadis nya yang menatap dengan mata menggoda saat dalam perjalanan ke rumah Ratih.


"Papa gugup ya?"


"Diam kamu!" Jawab Foano merapikan pakaiannya. Pria tampan yang mirip dengan Jimin itu, mengenakan pakaian batik bercorak tosca senada dengan pakaian yang di pakai Ratih malam ini.


Memang benar adanya, Foano gugup saat itu. Namun ia terus menetralkan perasaan dan rasa gugupnya seiring dengan jarak yang semakin dekat dengan rumah Ratih.


Rombongan yang Foano bawa, hanya lima orang kerabatnya tentu saja tidak termasuk Cika. Berhubung ayah dan ibu Foano telah tiada, Foano hanya mengundang paman dan bibinya. Beserta dua orang rekan kerjanya.


Iring-iringan kendaraan Foano sampai di depan rumah Ratih. Dengan gagah Foano berjalan bersama rombongan dengan beberapa barang bawaan mereka. Sambutan hangat dari tuan rumah sedikit mengurangi kegugupan Foano.


Acara pun di mulai, sedikit basa basi dan guyonan yang terlontar oleh pak ketua RT mencairkan suasana. Rasa gugup Foano pun bengangsur hilang. Sangat lucu, ini bukan pertama kalinya dia melamar seorang wanita. Aahh, memang, ini pertama kali nya dia melamar seorang janda.

__ADS_1


Altaf sedari tadi tak tenang, sibuk berjalan kesana kemari. Dan terakhir duduk di pangkuan papanya, Foano. Setelah Cika sempat menarik dan menggemasi bocah empat tahunan itu.


"Eehh, mana ini calon mempelai nya? Yang di lamar kok malah belum kelihatan?" Seloroh salah tetangga Bu Rohmah.


Tak lama Ratih keluar dari arah dalam rumah. Dengan senyum yang mengembang menambah cantik wajah yang tertutup make up itu. Mengenakan kutubaru dan bawahan yang senada dengan yang Foano kenakan.


Pria tampan mirip Jimin itu tersenyum, matanya tak lepas menatap wanita yang dia kitbah itu. Setelah keduanya bertukar cicin. Dan acara selesai, Foano dan rombongan pamit.


Di luar rumah agak tersembunyi, Indra menatap nanar pada pria tampan yang sedang menggendong Altaf. Anak yang tiba-tiba membuatnya rindu dengan sangat. Padahal selama ini ia tak pernah memperdulikannya, bahkan sekedar menjenguk dan melihat nya pun tidak. Anak lelaki Indra itu kini tumbuh besar tanpa nya. Air mata Indra menetes.


Wanita yang dia sia-sia kan dulu kini tersenyum bahagia dengan pria yang sedang mengendong Altaf. Wanita yang dulu dia hina itu kini terlihat cantik dan anggun. Wanita yang dulu tinggalkan itu kini bersanding dengan pria yang meninggikan wanitanya.


Pandangan mata Indra mulai kabur dan berembun. Menatap Altaf yang tersenyum lebar dengan calon kakak.


"Maaf kan ayah nak, ayah sudah mentelantarkanmu. Maafkan ayah Altaf..." Lirih Indra terisak di sudut tergelap tempat nya bersembunyi dari keluarga bahagia itu.


Indra berjalan masuk ke rumah Tiara dengan gontai.


"Assalamualaikum..."


"Dari rumah ibuk Ra." Jawab Indra.


Ia menatap Tiara. Teringat dulu waktu masih bersama Ratih, mantan istrinya itu selalu membantunya melepas sepatu setiap kali pulang kerja . Membantunya melepas pakaian kerja am menyiapkan air hangat untuk nya mandi. Ratih dulu sangat perhatian padanya. Sangat berbeda dengan istrinya yang sekarang.


"Mas mau minum? Biar Tia bikinin. Ehh, tapi mas kan abis dari rumah ibuk, pasti udah makaan ma minumlah ya." Kata Tiara menoleh sebentar lalu balik lagi liat tivi. Indra hanya bisa menghela nafasnya sabar.


Hari berlalu, Indra tiba-tiba merasakan rindu yang sangat pada Altaf. Ingin Indra bertemu dengan putra semata wayangnya itu. Hari itu hari Minggu, Indra libur kerja dan bermaksud untuk mengunjungi rumah Ratih mengajak Altaf main.


"Mau kemana mas?"


"Ke rumah ibuk dulu. Mau ikut?"

__ADS_1


"Rumah ibuk? Nggak mau ah, nanti minta duit lagi sama Tia." Jawab Tia malas.


"Ya udah." Sengaja Indra bilang mau ke rumah ibunya, agar Tiara tak ikut. Biasa berabe jika istrinya itu tau dia ke rumah Ratih untuk bertemu dengan Altaf.


"Mas pergi dulu ya."


"Ya jangan lama-lama ya."


Setelah pamit, Indra segera menarik tuas gas motornya menuju rumah Ratih dengan sangat gembira. Walau Ratih sudah dilamar dan akan segera menikah. Indra tetaplah ayah Altaf. Tak mungkin juga Ratih akan melarang dirinya untuk bertemu dengan Altaf. Bayangan Altaf yang gembira melihat kedatangannya membuat senyum Indra mengembang di sepanjang jalan.


Indra berhenti di persimpangan lampu merah, sembari menunggu ia melihat sekeliling. Di samping kiri jalan ada sebuah toko mainan. Indra tersenyum, ingat ia tak pernah sekalipun membelikan Altaf mainan. Ia merasa sedih dan sangat menyesal. Gegas ia membelokkan motornya ke toko mainan itu. Memilih sebuah mobil-mobil seharga 35rb.


"Altaf pasti suka ini." Gumam Indra.


Motor Indra berhenti di depan rumah Ratih. Ada dua buah mobil yang terparkir di sana. Satu ia yakin milik Ratih, sementara yang satu lagi, Indra tak tau.


Terdengar suara tawa riang dari dalam rumah. Lalu muncul Ratih dan Cika. Mantan istrinya itu tertegun melihat Indra ada di teras rumah.


"Mas Indra?"


"Ratih..." Suara Indra sedikit canggung. Melihat Ratih kini terlihat lebih cantik dari sebelumnya. Di tambah wanita itu mengenakan jilbab bergo dengan gamis warna merah jambu. Membuat wanita itu semakin cantik, jantung Indra terus terpacu cepat.


"Ada apa mas, kemari?"


"Altaf... Aku kangen Altaf tih...."


Ratih tertawa mencemooh, kemana aja selama ini? Kok baru kangen sekarang?"


"Maaf tih..."


"Udah lupa keknya Altaf sama kamu mas." Lanjut Ratih lagi, dengan nada tak suka.

__ADS_1


"Ibuk... Altaf udah ganteng belum?" Celoteh Altaf dari dalam rumah berlarian ke depan dan menunjukkan diri nya pada sang ibu."Altaf pake baju samaan loh sama papa." Sambung ya lagi berceloteh semakin membuat Indra merasakan nyeri. Orang lain sudah menjadi papanya.


"Altaf..."


__ADS_2