
Bu Tias pagi itu tampak mondar mandir tak tenang. Ia terus menatap arah jalan masuk ke gedung tempat di adakannya acara pernikahan Indra.
"Undangan ke rumah Ratih udah di kirim kan kemarin?" Tanya Bu Tias memastikan.
"Udah buk. Kenapa sih, mau Ratih datang? Ntar malah ngabisin makan kita lagi kan prasmanan. Bisa-bisa dia ambil masukin ke wadah lagi buat bawa pulang." Ujar indah yang udah bersiap memakai baju seragam dan ber make up itu mencibir. Di akhir oleh kekehan mengejek.
"Rugi bandar."
"Ah, gampang itu, kan bisa nanti kita suruh yang jaga kentring nya buat ngawasin Ratih dan keluarganya. Biar nggak ambil makanan banyak-banyak. Kalau di teriak in depan banyak orang bakal malu dia."tukas Bu Tias masih mengharapkan Ratih datang.
"Ya, Kalau punya malu buk." Celetuk Indah makin sinis.
Bu Tias mengibaskan tangannya masih celingukan, tentu saja itu ia lakukan hanya untuk pamer saja, dan menyakiti Ratih. Walau sudah tak menjadi bagian dari keluarga nya bagi Bu Tias Ratih tetaplah wanita yang menyebalkan. Di tambah lagi terakhir kali melihat Ratih di pengadilan kemarin, Ratih tampak lebih cantik dan punya banyak emas. Itu membuat Bu Tias makin panas.
Di dalam gedung yang di hias dan ditata begitu indah dan terkesan mewah. Bu Tias sampai menggelontorkan dana untuk pernikahan indra yang tidak sedikit. Mengingat Indra yang pekerja kantoran dengan banyak teman dan cukup terpandang tentu sumbangan nya pun tak akan sedikit. Ditambah Tiara yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari Indra, tentu makin besar pula sumbangan yang di dapat.
Yaah, memang Bu Tias mengincar uang sumbangan yang banyak. Membayangkan saja wanita tua itu sudah tersenyum sangat lebar.
Pernikahan indra berlangsung sangat khitmad dan tenang. Bu Tias tampak gelisah karena masih belum melihat Ratih hingga acara resepsi di gelar. Tamu-tamu juga sudah banyak yang berdatangan.
"Kenapa sih buk, gelisah gitu?" Bisik Indra pada ibunya saat mereka masih berada di atas panggung pelaminan.
"Ratih Ndra. Ibuk udah kirim undangan ke Ratih, apa dia nggak datang ya? Padahal ibuk mau pemer sama dia ini kamu nikah besar-besaran. Beda pas kamu nikah sama dia yang miskin dulu."
"Udahlah buk. Biar aja Ratih nggak usah di bicarain lagi. Udah mantan." Balas Indra yang memang ada sedikit rasa sesal setelah melihat perubahan Ratih. Ternyata mantan istrinya itu berubah jadi lebih cantik dan kaya setelah dia ceraikan.
Di pintu masuk pesta pernikahan Indra dan Tiara, terdengar suara riyuh dan hampir semua kepala menoleh ke sana.
"Apa sih?"
"Ada apa?"
"Itu, kek nya ada artis Korea yang datang deh."
"Lihat deh!"
"Wah, pasangan serasi yang satu ganteng nggak ketulungan yang satu cantiknya Masha Allah."
Bisik-bisik suara para tamu menyambut pasangan yang baru saja datang. Perhatian yang mereka dapat melebihi perhatian pengantin di atas panggung.
__ADS_1
Tiara yang merasa seharusnya menjadi ratu dan sanjungan itu melihat ke arah pusat perhatian para tamunya. Begitupun dengan Indra yang merasa terabai oleh para tamu undangan nya.
Mulut Indra ternganga melihat dua orang yang berjalan masuk ke dalam gedung.
"Ratih?"
"Ya ampun, kita mempelainya di sini. Harusnya mereka melihat ke sini bukan ke sana." Gumam Tiara dengan sangat jengkel dan bibir yang manyun.
_______
Foano menatap lama pada Ratih yang baru saja keluar dari kamarnya. Dengan Full make up dan baju terusan panjang berwarna biru pemberian dari Foano. Senada dengan baju yang pria itu pakai.
"Cantik."
Ratih tampak tersenyum tersipu malu. Wanita yang menyanggul tinggi rambutnya hingga tampak leher jenjang milik nya yang hanya berhiaskan kalung emas yang dulu pernah dia pakai di pengadilan.
Foano terus memindai penampilan Ratih, semakin membuat Ratih malu dan sedikit tak nyaman.
"Ada yang kurang." Ucap Foano mengeluarkan barang lain dari paper bag yang dia bawa.
Ia mengambil kotak dari sana lalu membukanya. Sebuah jam yang terlihat indah dan elegan bin mahal. Foano menarik tangan Ratih mendekat, hingga jarak mereka hanya beberapa inci saja.
Jam tangan itu telah terpasang. Foa mengangkat wajahnya sedikit, pandangan mata Foa dan Ratih bertemu. Keduanya saling menatap lama. Ada getaran lain yang timbul di dada Ratih yang bergemuruh kuat. Jakun Foano pun tampak turun naik menelan ludahnya.
"Sudah, are you ready?"
Ratih mengangguk dengan perasaan yang ia sendiri tak bisa jelaskan.
"Ayo berangkat." Menggandeng tangan Ratih.
Genggaman hangat Foano yang menyalurkan sengatan luar biasa ke seluruh aliran darah janda beranak satu itu.
Dalam perjalanan ke gedung pernikahan Indra dan Tiara, hanya ada keheningan. Tak ada percakapan berarti diantara keduanya. Hingga mobil itu terparkir di halaman gedung.
"Siapkan kado terbaikmu, honey."
Foano melepaskan setbelt nya, dan mendorong pintu disamping nya duduk. Ucapan Foano itu cukup membuat Ratih tertegun sesaat.
"Tunggu."
__ADS_1
Foano menoleh dan menatap Ratih.
"Aku, tidak membawa kado." Ucap Ratih lirih, "Hanya..." Ia mengeluarkan sebuah amplop.
"Berapa kamu isi?"
"Dua ratus ribu."
Foano tersenyum lagi. "Jangan."
Foano mengambil amplop itu mengambil dua lembar uang merah dari sana dan meyerahkannya pada Ratih.
"Berapa lama kamu bekerja di rumah itu tanpa bayaran?" Tanya Foano mengeluarkan sepidol dari dasboard.
"Bekerja?" Ratih terlihat bingung. Lalu ia terkekeh kecil saat tau maksud Foano."Sudahlah. Jangan di ungkit lagi."
"Okey, tiga tahun, 36 kali satu juta dua ratus . Berhubung mereka pelit jadi segitu saja." Gumam Foano sembari menulis di uang mainan kertas."
Foano menoleh sedikit dengan senyum di wajahnya lalu kembali menulis.
"Beban mental, kompensasi sakit hati, kompensasi mendapat makian."
"Aahh, sudahlah Fo. Kenapa malah bahas itu?"
"Oke. Sumbangan senilai 150juta, untuk mantan mertua dan mantan suami." Kekeh Foano memasukkan lembaran kertas uang mainan itu ke dalam amplop,
"Dan tips." Foano menambahkan uang receh 1000 perak ke dalamnya, lalu menutup amplop dengan lem.
"Mereka pasti kegirangan menerima ini."
Ratih dan Foa berjalan beriringan. Sesekali Foa menarik tangan Ratih yang masih ada rasa minder karena berjalan bersama seorang Jimin. Mirip maksudnya.
"Tegakkan kepala mu!"
Ratih menatap pria yang tersenyum dengan sangat percaya diri itu berjalan dengan menggandeng ratih menuju pelaminan dimana Indra dan Tiara sempat terabaikan para tamu, yang memilih menjadikan dirinya dan Foa sebagai objek pandangan mata.
"Kamu dengar apa yang sudah orang-orang bisikkan, kamu cantik." Ucap Foa lagi mengedipkan sebelah matanya dan senyum di wajah yang mirip Jimin itu. Ratih tau, Foa hanya ingin menguatkan hati dan memberinya semangat.
Bersambung...
__ADS_1