
"Papa!"
Foa yang berdiri di samping mobilnya merentangakan tangan menyambut pelukan Altaf yang berlarian riang.
"Altaf masih nunggu jemputan ibuk, ya?"
Altaf mengangguk dengan wajah sedih yang tertahan. Ia lalu menoleh pada temannya, "Ini papa Altaf. Altaf nggak bohong, Altaf punya papa kan?"
Semua temannya terdiam, ada yang bahkan saling sikut.
"Siapa yang bilang Altaf nggak punya papa?" Cika keluar dari mobil dengan wajah juteknya.
"Kak Cika?"
"Hai, Altaf, akhir nya Kaka bisa ketemu langsung sama kamu." Ucap Cika sedikit membungkukkan badannya mengusap sayang kepala Altaf.
"Waahh, itu Kaka nya Altaf? Cantik sekali.." gumam Salah satu teman Altaf yang tadi sempat membuat anak Ratih itu menangis. Ia begidig tiba-tiba saat Cika melirik tajam.
"Siapa yang bilang Altaf nggak punya papa?" Gadis berusia 10 tahun itu mendekat pada kumpulan anak TK yang terlihat agak takut itu.
"Kamu?"
Bocah yang di tunjuk menggeleng.
"Kamu?"
Juga menggeleng kuat.
"Jadi siapa? Kamu?" tanya Cika lagi dengan nada sedikit galak, ia hanya ingin menggertak saja.
"Dengar ya, kalau ada yang ngatain Altaf lagi, kakak akan cabutin rambut kalian satu-satu sampai keliatan otaknya, terus kakak ambil dan makan sampai..."
"Cika!" suara Foa yang terdengar tak suka, yakin Cika sedang mengancam walau ia sendiri tak dengar apa yang Cika katakan.
"Iya pa."
Cika mendekatkan tangannya di leher membuat gerakan ke samping seolah tengah memotong kepalanya. Lalu mengusap kepala salah satu dari mereka dengan seringai. Bocah yang di usap kepalanya sampai menangis begitu Cika berbalik.
"Cika!"
"Apa sih pa, aku cuma ngelus kepala anak itu kok." Ucap Cika cuek dengan tatapan tajam papanya."Altaf, ayo main sama Kaka." Ajaknya menuntun Altaf masuk ke dalam mobil.
"Tapi, kalau nanti ibu datang dan nyariin Altaf gimana?" Tanya Altaf takut-takut.
"Tenang, papa udah ngabarin ibu kok, nanti ibu nyusul. Iya kan pa." Ucap Cika asal dengan senyuman lebar dan riang.
__ADS_1
###
Setelah selesai dengan urusan kosmetik Masa di ruko yang sudah dua bulan ini dia tempati guna memperluas dan mempermudah pendistribusian produk ke reseller.
Ratih bergegas pergi ke tempat Altaf bersekolah TK menggunakan mobil. Ini pertama kalinya dia berani mengendarai mobil sendiri setelah beberapa Minggu lamanya berlatih menyetir .
Sesampainya di halaman TK Ratih tertegun, tak ada Altaf di sana. Ia hendak menghampiri guru dan pengurus TK Pertiwi. HP nya sudah bergetar. Ratih mengeceknya.
Sebuah pesan dari Foano.
["Altaf kami culik. Kalau mau ambil balik, bawa tiga siomay, satu porsi singkong keju dan empat Boba, sebagai tebusan."] Disertai sebuah foto yang menapakkan Foano yang sedang berswafoto dengan Altaf dan Cika di belakang yang entah sedang melakukan apa.
["Bawa ke alamat ini..."]
Ratih tertawa kecil membaca pesan dari editor nya itu. Ia bergegas mengendarai kendaraan nya meninggalkan TK dan membeli pesanan Foa sebagai tebusan nanti.
Di depan apartemen yang tampak menjulang tinggi, Ratih memastikan lagi alamat yang di kirim benar.
"Aku tidak tau, ternyata seorang editor bisa memiliki apartemen di lingkungan yang mengerikan seperti ini." Gumam Ratih merasa takjub dengan kemewahan tempat yang ia masuki.
Ratih langsung menuju lift dan memencet tombol 9.
Ding-dong
"Biar Cika aja pa." Ucap Cika berlari ke pintu depan. Pintu di buka, Ratih tampak sedikit terkejut, begitupun dengan Cika.
"Cika ya? Aku Tante Ratih.... Tadi papa mu...."
"Masuk tante. Altaf lagi main di dalam." Potong Cika dengan senyum yang teramat manis. Sembari berjalan mendahului, Ratih mengekor setelah menutup pintu depan.
"Itu?" Tunjuk Cika pada Boba dan kresek yang terlihat di tangan Ratih.
"Papa mu minta tebusan."
"Biar Cika yang bawa." Tawar Cika mengambil satu kantong yang berisi somay. "Ini somay ya? Singkong nya mana Tan?" Tanya Cika lagi mengintip isi kantong yang dia bawa.
"Ada kok di situ, yang bungkusnya warna Oren."
"Ooh, ini ya?" Ucap Cika sembari mengeluarkan kresek berwarna Oren terang.
"Siapa cik?" Tanya Foa dari arah dapur yang bersebelahan dengan ruang tengah.
"Tante Ratih." Jawab Cika santai. Gadis itu meletakkan kresek berisi Somay ke meja, di ikuti oleh Ratih.
"Ibu...." Altaf yang sedang bermain puzzle beranjak dari duduk nya di atas karpet dan berlarian memeluk kaki ibunya.
__ADS_1
"Ibuk kangen Altaf..." Ucap Ratih memeluk dan menggendong Altaf, menghujani wajahnya dengan kecupan.
"Altaf juga." Balas Altaf menyingkirkan wajah ibunya dengan tangannya."Boba pesana Altaf, ibu belikan nggak?"
"Ada,"
"Itu tebusan buat papa Altaf, kamu nggak kebagian." Seru Foano yang berjalan keluar dari dapur dengan empat piring dan sendok. Altaf langsung cemberut, tentu saja membuat Foa tergelak dan mengacak rambut bocah yang sudah turun dari gendongan ibunya.
"Ayo makan dulu." Ajak Foano mengeluarkan somay dari kantong. Ratih sigap mengambil Somay dan membuka dari stereoform nya.
"Kenapa nggak makan di sini aja langsung? Nanti tinggal buang." Ucap Ratih menyarankan.
"Oohh, udah ada wadahnya ya? Aku sudah ambil piring tadi. Ya udah ayo makan."
"Cika sama Altaf aja Tante, ntar nggak abis." Kata Cika mengambil jatah somay nya mendekat pada Altaf."Sini Al."
"Nggak papa nih?" Tanya Ratih menyakinkan.
"Woles Tan."
Ratih celingukan, "mama mu mana? Kok nggak kelihatan?"
"Mama pergi."
"Kemana?"
Cika terdiam, dan saling lirik pada papanya. Ratih menatap keduanya dengan tanya.
"Abis ini biar Cika sama Altaf main. Nanti kita bahas naskah kamu ya." Kata Foa memakan habis somay nya.
####
Pintu ruang yang letaknya tak jauh dari ruang tengah terbuka. Cahaya dari luar tampak merangsek masuk, sosok tubuh Foa berjalan dan menyalakan lampu dengan tepukan tangannya. Ratih hanya terdiam merasa takjub, namnun sebisa mungkin ia menguasai diri agar tak terlihat.
"Duduk." Foa berjalan mendekati meja yang bersebelahan dengan rak yang dipenuhi oleh buku-buku tebal. Ratih mendudukkan diri di sofa sementara matanya berkeliling di setiap sudut ruangan itu.
Foano mengambil laptop di meja yang mayoritas berbahan kaca hitam yang tebal. Ia lalu berjalan ke arah sofa Ratih duduk. Meletakkan laptop tepat di meja depan Ratih lalu Foano duduk sisi wanita itu. Foano terlihat sibuk membuka file yang entah apa.
"Nah, ini naskah yang dulu pernah kamu kirim padaku. Tapi, belum selesai."
Ratih memperhatikan layar datar dan pipih itu. "Aku memang belum akan menyelesaikannya. Otak ku rasanya stuck." Ucap Ratih menjitak pelan kepalanya. Foano tersenyum tipis. Seketika jantung Ratih berdetak kuat dan cepat. Sedekat itu dengan pria tampan yang mirip dengan Jimin.
"Kenapa dengan ku? Sebelumnya sudah tidak apa-apa. Tapi kenapa sekarang malah deg-degan lagi?" Pikir Ratih yang wajahnya kian menghangat.
Bersambung ..
__ADS_1