Papa Pengganti Buat Altaf

Papa Pengganti Buat Altaf
Chapter 12 - Tak jelas


__ADS_3

"Maaf, aku nggak suka sama bekas orang."


"Apa?" Ratih merasa ada yang salah dengan pendengaran nya, ingin Zaki mengulang ucapannya barusan. Ratih menoleh pada pria yang kini sudah duduk di sampingnya itu.


"Aku nggak suka janda, yang sudah jadi bekas orang. Aku suka yang masih segel."


Ratih melongo, lalu dia tertawa dengan ucapan yang menurutnya konyol itu. Jika memang tak suka dan tak mau, untuk apa dia menyanggupi untuk di jodohkan dengannya. Untuk apa dia memberi harapan pada orang tua dan bersikap sok manis seperti itu.


"Dari awal kamu sudah tau jika aku janda beranak satu kan? Aku bekas orang, kenapa nggak menolak dari awal dan malah berrsandiwara begini?"


"Aku lihat, ibuku sangat antusias dan bersemangat. Aku nggak mau melukai hatinya, jadi ku setujui saja untuk pergi bersama mu. Walau terpaksalah.."


"Terus?"


Zaki membetulkan posisi duduknya sedikit miring menghadap Ratih.


"Katakan kalau kamu menolak, kamu nggak suka sama aku."


"Maksudnya?" Tanya Ratih bingung.


"Ya kamu bilang kalau kamu nggak suka sama aku. Atau apapun lah buat alasan yang bagus."


Ratih tertawa merasa konyol dengan ucapan Zaki.


"Terus kamu ngapain?"


"Ya aku akan berusaha menerima semua itu."


"Ha-ha-ha, maksudnya kamu mau playing viktim gitu? Terlihat merana karena sudah aku tolak?"


Tanpa rasa canggung, Zaki mengangguk. Ratih tertawa lucu sambil menggeleng tak habis pikir.


"Ki, Ki. Kita ini di posisi yang sama. Sama-sama tidak menginginkan nya, kalau seperti itu kenapa kita nggak sama-sama menolak. Begitu lebih adil."


"Aku nggak mau nyakitin ibuk aku, Tih."lirih Zaki dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Sama! Aku juga. Aku juga demi menghargai ibu kamu dan ibuk aku. Terlebih, aku nggak mau nyakitin ibuk aku. Karena itu, ayolah Ki, kita sama-sama akui jika memang tak tertarik satu sama lain."


"Jadi kamu nggak suka sama aku?" Zaki tampak sedikit terkejud dan memandang Ratih.


"Iya, saat ini aku lagi ingin sendiri dulu. Nggak mau mikirin pasangan."


"Tapi, nggak mungkin Altaf tiba-tiba manggil aku ayah jika nggak ada yang ngajarin."


Ratih tertawa kecil. "Itu ibuk yang pertama nyebut Ayah Zaki. Tenang aja, dia anak-anak jangan diambil hati. Jadi, sore ini aku kita sama-sama katakan jika kita tidak tertarik." Kata Ratih.

__ADS_1


Zaki terlihat berpikir. "Aku nggak tega sama ibuk." Gumamnya.


Ayolah Ki, Jangan jadi pria letoy yang terlihat tertindas karena di tolak orang yang di jodohkan orang tua. Jadilah jantan yang mengakui jika memang tak mau. Aku pun akan melakukan hal yang sama." Pinta Ratih, karena ia pun tak ingin melukai ibunya yang terlihat berharap. Jika mereka sama-sama menyatakan tidak, setidaknya itu tak akan terlalu menyakitkan.


Zaki hanya terdiam tak menjawab. Ratih sih, masa bodoh saja, ia pun enggan dan semakin enggan setelah mengetahui alasan Zaki. Ratih janda beranak satu, bukan hanya pasal pasangan hidup tapi juga ayah untuk Altaf.


Sore itu, Zaki mengantar Ratih dan Altaf sampai ke rumah. Dengan sangat ramah dan penuh senyum Zaki menolak ajakan ibu Rohmah untuk singgah sebentar.


"Gimana Tih?"


Bu Rohmah mendekati anaknya yang sedang sibuk pembukuan penjualan kosmetik Masa.


"Gimana apanya buk?" Tanya Ratih tak mengalihkan fokusnya dari buku.


"Ya itu, Zaki."


"Zaki nya nggak mau sama janda buk."


"Iihh, kamu ini Tih. Kamu nya kalik yang nggak mau." Bu Rohmah terlihat sangat kesal dan jengkel.


"Iya, itu juga, Ratih juga nggak mau, pas banget si Zaki nggak mau sama janda." Kata Ratih memandang ibunya sebentar lalu kembali sibuk dengan aktifitas pembukuan nya.


"Ibuk yakin itu pasti cuma alasan kamu aja." Bu Rohmah masih keukeh pada pendiriannya, Ratih pun malas meladeninya dan lebih memilih melanjutkan pembukuan.


Selang beberapa hari, Ratih menemani Bu Rohmah ke pasar.


"Kenapa buk?" Tanya Ratih heran, dia pikir masalahnya udah selesai setelah membicarakan mereka waktu itu.


"Yaa, itu... Ibuk mau bicara sama jeng Rondiah, loohh...." Bu Rohmah terlihat seperti terkejud dan melihat ke arah penyebrangan orang depan pasar.


"Kenapa buk?" Ratih ikut celingukan.


"Itu, bukannya Zaki ya?" Tunjuk ibuk pada pasangan muda mudi yang duduk di dekat gerobah es kelapa muda di bawah jembatan penyeberangan.


Pasangan itu terlihat duduk berdempetan di tengah cuaca yang amat panas ini. Zaki tertawa dengan wanita di sampingnya.


"Iya."


Bu Rohmah tampak berjalan, segera, Ratih menarik lengan ibunya.


"Ibuk mau kemana?"


"Nyamperin Zaki."


"Buat apa?"

__ADS_1


"Ibuk harus tau itu perempuan siapa nya dia."


"Nggak usah buk. Ayo lanjut belanjanya." Cegah Ratih menarik tangan ibunya menjauh.


"Tapi Tih." Bu Rohmah masih terlihat penasaran.


"Udahlah buk, mungkin itu masih gadis. Dia bilang nggak suka sama janda."


"Ibuk cuma pingin tau aja kok."


"Ibuk, pliss... Kalau ibuk samperin Ratih pulang, dan balik lagi kerumah mas Indra, biar aja Ratih jadi pembantu di sana." Ucap Ratih karena sudah kesal dengan ibunya yang masih mau ngotot mendekat.


"Ratih! Kamu kok ngomong gitu sih. Ibuk nggak rela kalau kamu mau balik kesana."


"Sama buk, Ratih juga nggak rela. Zaki bilang sendiri sama Ratih kalau dia nggak mau barang bekas. Sekarang dia ada disana dengan seorang wanita. Dan ibuk mau nyamperin. Demi apa buk?"


Bu Rohmah menatap anak nya dengan prihatin. Raut wajahnya terlihat sedih. Lalu bernafas berat.


"Ya sudah kita pulang aja Tih."


Malam itu, setelah saling tukar isi kepala untuk next naskah yang Ratih buat, juga saling sharing tentang perkembangan naskahnya yang sedang on going dengan Foa sang editor.


Ratih mengembangkan senyumnya.


Semuanya sungguh di luar dugaannya, naskahnya mendapat respon yang sangat bagus. bahkan kini ada banyak pf berbayar lainnya yang menawari Ratih untuk bergabung. Dunia literasi terus mengalirkan pundi-pundi rupiah untuknya.


Tak hanya pasal penjualan kosmetiknya, yang kini mengharuskan Ratih untuk menyewa ruko baru, karena rumah Bu Rohmah tak cukup luas. Dan membeli sebuah mobil untuk mempermudah bisnis Ratih.


Saat ini yang ada didalam otak dan pikiran Ratih hanya lah bagaimana mendapatkan uang yang banyak, agar saat bertemu dengan mantan suaminya dan keluarganya itu ia bisa kembali menegakkan kepalanya.


Malam itu, sehabis Ratih menyelesaikan beberapa naskahnya, ia mengecek hp, ia merasakan adanya getaran tadi saat sedang fokus menulis. Ia yakin ada pesan masuk di aplikasi hijau.


Benar saja, pesan dari editornya, Foa. Gegas Ratih membuka pesan itu. Senyum Ratih terkembang, rupanya, editor yang tak pernah ia temui dan lihat wajahnya itu hendak datang ke kotanya.


["Besok, aku ada seminar di kotamu. Bagaimana jika kita bertemu?"]


["Benarkah? Waahh,, akhirnya, bisa ketumu juga dengan editor akuuhh..."] Balas Ratih dengan disetai emotikon wajah berbentuk love. Dan banyak-banyak love lainnya.


["Aku juga nggak sabar ketemu penulis kesayanganku. Besok bertemu di taman air mancur kota, bagaimana?"]


["Oke."]


["Aku akan pakai baju hijau."]


["Okey"]

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2