
Foano muncul dari pintu dia menghilang tadi, dengan membawa sebotol teh kemasan dan sekaleng minuman di tangannya. Lalu ia letakkan diatas meja tamu, Ratih menatap kaleng berwarna hijau itu. Ada perasaan tak suka yang tiba-tiba muncul di hatinya.
"Teh dingin mau kan?"
Ratih mengangguk, berusaha menetralkan pikiran dan dadanya yang tak karuan. Mendapati Foano kini duduk di sampingnya. Lalu bergeser semakin dekat dengan tubuh. Wajah pria itu menghadap ke layar laptop dengan deretan huruf di layar.
"Ini udah bagus untuk pembukanya..."
Ratih masih diam membeku di tempatnya, sibuk dengan pikiran yang terus traveling tak jelas. Rasa gugup terus ia rasakan. Berulang kali Ratih menenangkan dirinya agar tak terlalu kentara, walau bagaimanapun dia menolak perasaan menyebalkan itu terus menghinggapi dirinya. Seorang setampan Jimin duduk di sampingnya begitu rapat. Seorang yang ia pikir memiliki masih istri itu.
"Ratih.. Ratih..."
Ratih menoleh tersadar akan lamunannya yang tak jelas. Ia tak menyimak apa yang Foano ucapan sedari tadi.
"Kamu dengar nggak apa yang aku ucapkan tadi?"
"Eehh, iya, denger kok." Jawab Ratih gugup dan salah tingkah.
Foano tersenyum geli dengan tingkah Ratih yang kentara gugup itu.
"Apa coba?"
Ratih bingung, ia bahkan tak menyimak tadi malah mikir yang bukan-bukan.
"Uuummm... Itu... Permulaan yang bagus.."
"Lalu?"
Tatapan Foano yang terus bertumbu di wajahnya, membuat Ratih makin salah tingkah dan tak nyaman. Ia tak mampu lagi menjawab. Di rasakannya jempol Foano mengusap bibirnya. Kemudian wajah pria itu makin mendekat, dan mendaratkan bibirnya ke bibir Ratih.
Jantung Ratih serasa berhenti berdetak, merasakan sengatan mendebarkan menjalari aliran darahnya. Berdesir kuat hingga membuat nafasnya memburu. Sesapan kecil Ratih rasakan, gerakan lembut dari bibir Foa menggodanya untuk membalas.
__ADS_1
"Ratih...
Kamu kenapa?"
'Astaga! Dasar otak mesum!' umpat Ratih dalam hati. Rupa-rupa nya ia hanya berhayal mendapat ciuman dari Foano yang ganteng nya mirip Jimin.
Foano tertawa geli melihat wajah Ratih yang bersemu merah. Hingga matanya yang memang sudah sipit tak terlihat lagi. Entah tenggelam di mana.
"Malah bengong... Kamu nggak menyimak kan apa yang aku bilang tadi?"
Ratih makin salah tingkah. 'Ini apa efek dari lama nggak tersentuh belaian laki-laki? Menjijikkan otak mu Ratih. Nggak bisa apa liat pria ganteng dikit. Otak nya langsung mesum.' batin Ratih terus meruntuki dirinya sendiri.
"Aa-aku baru ingat, aku harus pulang sekarang." Ucap Ratih beralasan.
"Kenapa? Cepet banget? Masih ada banyak hal yang harus kita bahas." Foa terlihat mengerutkan kening heran.
"Iya, aku masih ada janji ketemu dengan anak-anak reseller Masa." Ratih memberesi barangnya asal dan memasukkan ke dalam tas bahunya. Tak lupa ia berpura-pura mengecek hp nya.
"Siapa?" Tampak wajah Foano yang sangat terkejut menghentikan langkahnya mengikuti Ratih.
"Salah satu reseller ku. Kebetulan dia ada urusan di dekat sini. Jadi sekalian." Ucap Ratih lagi bohong, hanya tak ingin terus berada di situasi yang canggung dan tak mengenakan ini. Dengan pria beristri yang terus mengganggu pikirannya.
"Kalau gitu aku anter sampai bawah deh."
"Jangan." Larang Ratih dengan suara tinggi, Foano sampai kaget karenanya. Ratih kembali salah tingkah.
"Maksudku, nggak usah. Aku bisa turun sendiri. Aku masih ingat jalannya dan nggak akan tersesat."
Foano tertawa geli.
"Oke, nanti malam aku telpon."
__ADS_1
Ratih menatap Foano yang terlihat santai berdiri dengan tangan yang ia simpan di dalam saku celananya.
"Telpon?"
"Atau aku ke rumah aja? Sekalian ajak Cika. Dia kangen sama Altaf, dari kemarin nanyain terus."
"Eeh, jangan ke rumah malam-malam." Tolak Ratih cepat dengan gugup.
"Kenapa?"
"Angin malam nggak bagus buat anak-anak, dan ummm... Akhir-akhir ini juga Altaf sering bobok cepet..."
"Ooohh begitu..." Foano mengangguk pelan,"Kapan acara mu selesai?"
"Nggak tau."
Foano menautkan alisnya, makin bingung.
"Itu..." Ratih makin salah tingkah saja, menggosok tengkuknya. "Itu, nggak bisa di prediksi karena, yaaa... Namanya diskusi kan, sharing gitu,, jadi... UMM..."
"Oke! Nanti kalau kamu longgar hubungi aku." Potong Foano yang bisa melihat seberapa gugup dan tidak nyaman Ratih dari sikapnya.
Ada kelegaan di wajah Ratih yang tegang sedari tadi terus gugup dan salah tingkah.
"Aku... Pamit. Terima kasih."
.
.
"Nggak bisa kek gini terus. Aku harus jaga jarak," gumam Ratih begitu ia sudah berada di dalam lift.
__ADS_1
Bersambung...