Papa Pengganti Buat Altaf

Papa Pengganti Buat Altaf
Chapter 25


__ADS_3

"Aku turut berduka cita. Cika pasti sangat bersedih karena kehilangan mamanya." Ucap Ratih ikut merasakan kehilangan yang sama, ia dulu pernah kehilangan ayahnya yang meninggal saat ia masih SMP lebih beruntung karena setidaknya ia masih ingat bagaimana kasih sayang dan perjuangan sang Ayah.


"Setidaknya kami lebih beruntung darimu. Mas Indra menikah lagi kalaupun Altaf ingin bertemu, kami masih bisa melihatnya. Berbeda dengan kalian... Aaahh, maaf... Aku jadi baper..." Ucap Ratih di selingi tawa kecil dan mengusap ujung matanya yang berair.


Foano memandang wajah cantik Ratih tanpa berkedip. Menarik tangan wanita itu yang masih mengusap ujung mata indahnya. Tangan Foa yang lain menyentuh dagu Ratih, perlahan wajah Foa mendekat, menutup mata ketika jarak semakin tipis.


Ratih masih membuka mata nya, bibir Foa sudah menempel di bibirnya. Gerakan lembut dan sesapan hangat Foa memaksa kelopak mata nya yang semakin berat dan menutup. Dalam keheningan pagi menjelang siang itu, dua lidah saling menyatu, membaurkan rasa manis dan mint.


Tangan Ratih bergerak perlahan memeluk leher duda beranak satu yang semakin bersemangat mengorek ronggak mulut Ratih dengan lidahnya. Tangan Foa bergeser mengurut punggung Ratih, dan menekan tengkuknya guna memperdalam ciumannya.


Foa melepas pangutannya saat Ratih mulai kehabisan nafas, membiarkan janda beranak satu itu mengatur nafasnya lebih dahulu. Tangan Foa bergeser mengurut sepanjang tubuh Ratih hingga ke pinggang nya mengangkat tubuh ramping itu ke atas pangkuan.


Tangan Foa mengurut ke atas punggung Ratih, bergeser dari tengkuk ke dagunya, dengan pandangan mata yang tak lepas dari bibir Ratih yang sedikit terbuka. Lipstik wanita itu sudah berantakan bahkan berpindah sebagian di bibir Foa.


"Liptik apa yang kamu pakai?" Tanya Foa menghirup ceruk leher Ratih.


"Biasanya aku pakai produk Masa. Tapi, tadi lipstik ku habis jadi..."


Belum selesai jawaban dari Ratih dia dengar, Foa sudah mencicipi lagi rasa bibir wanita di pangkuannya. Tangan Foa mulai nakal menelusup ke dalam baju Ratih. Mengelus kulit yang tertutup oleh sweeter hijau dan putih.


Hawa panas merayapi tubuh keduanya, dinginnya AC di ruangan itu tak mampu mendinginkan gejolak di dalam tubuh pasangan duda dan janda itu. Yang terus tengelam dalam ciuman yang makin menggila.


Tangan Foa menarik lepas sweeter Ratih, hingga tubuh bagian atas janda cantik itu terlihat hanya mengenakan pakaian dalam saja. Foa menautkan lagi bibirnya. Memeluk punggung Ratih semakin erat. Tangan Foa kembali mengurut punggung Ratih. Melepas pengait bra hingga terlepas. Bersamaan dengan Ratih yang tiba-tiba melepas pangutannya.


Foano menatap Ratih dengan mata menggantung. Sedangkan Ratih cepat-cepat menyilangkan tangannya di dada. Ia bangkit dari pangkuan Foa dan berbalik. Melangkah sedikit menjauh.


"I- ini tidak benar." Gumamnya lirih menolak tindakan yang sudah di luar batas.

__ADS_1


Foa memandang punggung Ratih yang terbuka, dengan pengait bra yang masih terlepas. Foano beranjak dari duduknya berjalan mendekat dan memasang lagi pengait bra Ratih. Jari tangan Foano menyisir kulit punggung Ratih yang bergidig geli. Lalu menelusup di perut janda beranak satu itu. Memeluk tubuh ramping itu dari belakang.


Bibir Foa mendarat di bahu Ratih yang masih terbuka.


"Fo... Ini tidak benar. Aku... Aku harus pulang." Ucap Ratih meloloskan diri dari pelukan duda keren yang mirip dengan Jimin itu.


Ia mengambil sweeter yang terdampar di pinggiran sofa dengan cepat memakainya.


"Jangan pergi."


Ratih tengah menurunkan sweeter dari batas dada hingga ke perutnya.


"Jangan pergi Ratih, tetaplah disini." Pinta Foano dengan pandangan mata memohon.


"Maaf..." Lirih Ratih yang sudah tak ingin lepas kontrol lagi. Mungkin jika dia terus berada di apartemen Foano yang hanya ada mereka berdua itu. Akan berakhir di ranjang.


Ratih melangkah pergi, ia sangat sadar, diri nya adalah Janda, dan Foa seorang duda. Akan lari kemana selanjutnya jika ia tetap tinggal di sana. Tadi saja, Foa udah melepas sweeter nya. Mungkin saja yang berikutnya adalah celananya.


Pintu lift terbuka. Ratih bergegas memasuki ruang persegi itu, memutar tubuhnya dan mengangkat tangan hendak menekan tombol. Netra nya membola, Foa no sudah berdiri tepat di depannya. Duda itu menyusul hingga ke lift.


Foa memepet tubuh Ratih hingga terpentok di pembatas lift mengunci tubuh mungil itu disana. Tangannya mencengkram kuat pergelangan wanita yang kini ada di hadapannya. Pandangan mata Foa terpantri pada bibir Ratih yang warna nya telah memudar.


Ia menelan ludahnya, perlahan wajahnya mendekat, deru nafas berat dan cepat terhembus menerpa wajah Ratih. Foa membuka mulutnya dan menyesap bibir mungil Ratih.


Lidahnya menggorek bibir yang masih mengatup rapat itu, hingga pertahanan Ratih jebol dan membiarkan lidah Foano menelusup masuk kedalam mulutnya. Mengeksplor kedalaman dan melibas seluruh rongga mulutnya.


###

__ADS_1


Sejak hari itu, sejak ciuman itu, Ratih tak lagi menampakan diri di depan Foano. Ia menghilang, walau Ratih masih aktif menulis, namun semua ia lakukan tanpa melalui Foano. Apa lagi setelah dia tau, Foano bukan lah seorang editor seperti yang pernah dia akui.


Foano beberapa kali mengecek akun milik Ratih, ia sedikit kecewa Ratih tak lagi melibatkan diri nya dalam setiap tulisan yang Ratih buat.


Foano tau, Ratih memiliki perasaan yang sama dengannya, tapi ia tak mengerti, mengapa Ratih justru terus menghindar dan menjauh.


_______


Pagi itu, karena Cika terus merengek ingin bertemu dengan Ratih. Foano akhirnya membawa Cika ke rumah Ratih. Hatinya berdebar kencang saat mobilnya sudah memasuki tikungan gang rumah Ratih.


"Nih."


Foano menolh pada Cika yang mengulurkan tisu padanya, sebentar lalu kembali memancangkan fokusnya kedepan.


"Papa berkeringat." Ucap Cika mengusap dahi dan pelipis Foano yang berkeringat, padahal saat itu AC cukup kencang.


"Papa, jangan terlalu tegang. Tante Ratih baik kok. Dia pasti maafin papa."


"Kamu tau apa Cik?"


"Cika tau, papa cium Tante Ratih kan di lift."


Mata Foano melebar. "Kamu...."


Cika tersenyum lebar. "Papa nggak tanya gimana Cika bisa tau?"


"Enggak." Tegas Foano memelankan laju mobilnya dan berhenti tepat di depan rumah Ratih.

__ADS_1


"Assalamualaikum..." Foano dan Cika serentak berucap.


"Wa'alaikum salam." Sahut suara dari dalam, yang di ikuti bayang seorang wanita.


__ADS_2