
Keesokan hari nya Foano menjemput Cika. Tidak ada yang berbeda dari sikap duda beranak satu itu. Apakah Ratih sudah salah paham? Mungkinkah ucapan Foano semalam hanya sebuah candaan? Padahal Ratih sudah kegirangan.
"Terima kasih sudah menjaga Cika."
"Tidak masalah." Jawab wanita bergamis toska itu.
"Papa kapan main lagi ke sini? Kenapa cepet banget mau pulang?" Altaf merengek memeluk kaki Foano.
Foano berjongkok menyamakan tinggi.
"Papa ada banyak urusan. Besok papaa datang lagi. Bilang sama ibuk, dandan yang cantik dan kamu jadi anak papa yang ganteng." Ucapnya mencubit hidung Altaf gemas.
"Ummm... " Angguk Altaf patuh. Foano mengusap sayang kepala Bocah empat tahunan itu.
Foano berdiri memandang ibu Rohmah dengan senyum ramah.
"Terima kasih Bu, besok malam saya akan datang lagi, membawa beberapa rombongan untuk melamar."
"Eehh?" Bu Rohmah terlihat kaget mendengar penuturan Foano yang menurutnya tiba-tiba itu, menatap Foano dan Ratih bergantian. "Besok? Besok mau melamar siapa?" Tanya Bu Rohmah tampak linglung.
Foano tersenyum lebar. "Melamar putri ibuk. Ratih."
"Ya ampun... Anak nya baru menginap sehari, bapaknya langsung mau lamar." Celetuk Bu Rohmah, Ratih tersipu malu mendengar nya. Sementara Foano tersenyum lebar tanpa malu. Ya iyalah, kan gantengnya mirip Jimin.
"Kamu kok nggak bilang kalau papa nya Cika mau melamar." Bu Rohmah berganti menatap protes anaknya, Ratih.
"Nggak sempat buk," sahut Ratih tertunduk malu."baru semalam ngomongnya."
Bu Rohmah hanya tersenyum maklum. Putri sulungnya sudah akan dilamar lagi. Jika sebelum nya oleh perjaka, kali ini giliran duda.
***
["Ndra? Kebutuhan rumah ibuk habis."]
Tulisan pesan singkat dari Bu Tias tiba-tiba masuk ke nomor WA Indra.
["Iya buk, nanti Indra kirim."] Balas Indra cepat.
Sore itu, Indra sedang duduk ngopi-ngopi di teras rumahnya. Rumah Tiara maksudnya. Sementara Tiara sibuk memasak untuk persiapan nanti makan malam.
"Mas,"
"Iya dek?" Toleh Indra yang tengah membuka aplikasi M-banking nya.
"Temani Tiara masak mas."
"Loh, kamu sendiri nggak bisa?" Tanya Indra heran, karena biasanya Ratih bisa mengerjakan semua nya sendiri.
__ADS_1
"Enggak." Dengan nada manja.
Indra berdecak, "Ratih aja biasa sendiri, Ra." Ucap Indra sembari berdiri, niatnya untuk mengirimi sang ibu terpaksa ia urungkan dulu.
"Ratih? Mas bandingin aku sama mantan istri mas itu?" Tanya Tiara dengan nada tinggi tak terima. Dari wajah nya terlihat Tiara tengah marah, Indra sampai terkejut di buatnya. Perangai Tiara yang tak ia tau selama mereka pacaran dulu. Seingat Indra Tiara adalah gadis yang lembut dan baik. Entah kenapa dia jadi begitu pemarah sekarang.
"Kamu kenapa sih dek?"
"Bukan aku yang kenapa mas! Mas Indra yang kenapa?"
"Kok jadi mas sih?"
"Iyalah, ngapain mas sebut-sebut mantan istri mas itu?"
"Gitu aja kok kamu marah sih, Ra?"
"Oohh, jadi menurut mas, aku nggak boleh marah kalau kamu bawa-bawa nama Ratih? Aku nggak boleh marah kalau kamu banding-bandingin aku sama dia?" Kata Tiara dengan nada lebih tinggi karena telah tersulut emosinya."Jangan salahin aku kalau aku bawa-bawa mantan aku yang loyal, yang nggak pelit kek mas Indra."
Indra tersentak, ia baru tersadar, jika dibandingkan dengan mantan Tiara memang dia tak ada apa-apanya. Hampir semua memiliki jabatan, suatu keberuntungan saat Tiara justru memilih diri nya waktu itu. Hingga mereka menikah kini.
"Maafin mas, dek."
Tiara menyentak nafasnya dan melangkah ke dalam rumah. Indra menyusul, setidaknya dia harus menenangkan hati istrinya.
"Dek, nggak jadi masak?"
"Tiara, maafin mas sayang. Maaf ya." Bujuk Indra, "gimana kalau kita nggak usah masak aja, makan di luar dah lama juga nggak makan di luar kan? Skalian kita sophing, gimana?"
"Pake uang mas tapi ya?"
"Iya. Tapi kamu jangan marah lagi."
"Ya sudah. Ayo."
Indra tersenyum senang, 'ternyata mudah saja membujuk wanita, cukup ajak jalan-jalan dan belanja. Merajuk pun hilang.' batinnya sumringah.
***
Senyum sumringah Indra memudar seketika, saat memandang beberapa kantong di tangannya. Indra menghela nafas lelah dan sabar, meletakkan kantong-kantong itu di sisi dirinya yang terduduk lesu di kursi tunggu sebuah Mall yang cukup ternama. Netra Indra melirik Tiara yang sedang memilih beberapa baju di sebuah toko branded.
["Ndra? Kapan kamu kirim uang nya?"]
Satu pesan dari Bu Tias membuat Indra makin lemas.
***
"Ndra, kamu ini ibuk tungguin kok nggak kirim-kirim uang buat ibuk?"
__ADS_1
Indra pulang dengan sambutan Omelan dari sang ibu.
"Maaf buk," jawab Indra menjatuhkan bobotnya di sofa tamu rumah Bu Tias.
"Beras habis , minyak makan habis, telur juga habis." Ibu Tias kembali mengomel, namun langsung terdiam melihat uluran amplot dari Indra. Wajah yang awalnya i tekuk itu berubah sedikit sumringah.
"Kok cuma segini Ndra?" Protes Bu Tias begitu membuka amplop di tangannya. "Segini mana cukup."
"Ya di cukup-cukupin lah buk. Indra udah nggak punya uang."
"Loohh, kok bisa?" Bu Tias duduk di samping anaknya menatap heran Indra karena tak punya uang."bukannya kamu nikah sama Tiara? Dia kan banyak uang?"
"Iya buk, tapi Tiara kan tetap tanggung jawab Indra. Indra harus menafkahi dia."
"Tapi dia kan kerja, Ndra."
"Terus kalau kerja, Indra nggak kasih nafkah gitu?" Indra tampak sangat kesal dengan keadaannya. Saat bersama Ratih dulu, mantan istrinya itu manut-manut saja. Berbeda dengan Tiara, yang meminta jatah nafkah bahkan belanja dengan barang branded yang menguras tabungan nya.
"Ya harusnya kan dia sudah pegang uang sendiri, nggak harus minta nafkah sama kamu. Dan dia kok sama sekali nggak ngasih ibuk ya? Beda sama Maya. Ngasih tiap bulan, yaahh, walaupun seratus dua ratus. Tapi kan tetep kasih."
"Udahlah buk, Indra capek. Ada makanan nggak?"
Bu Tias melengos, "orang habis semua kok Ndra mau minta makan. Kamu aja kasih ibuk cuma segini."
"Ya adanya cuma segitu buk."
"Kamu kok nggak sama Tiara ke sini?" Tanya Bu Tias heran karena Indra datang sendiri dengan motor bebeknya pula. "Terus kemana mobil mu kok pake bebek?"
"Tiara capek pulang kerja, mau istirahat. Mobil Indra udah jual."
"Haahh? Kok di jual?" Bu Tias tampak terkejut dan seperti tidak rela.
"Banyak kebutuhan buk."
"Kenapa nggak mobil Tiara aja yang di jual sih, Ndra! Bodoh kamu." Omel bbu Tias lagi kesal pada Indra.
"Ya kan Indra kepala keluarga buk."
Bu Tias cemberut, menatap jengkel pada anak lelakinya.
"Tiara yang bilang gitu?"
"Pak ustad!" Ketus Indra karena ia memang selalu salah jika berhadapan dengan Tiara, wanita itulah yang pegang kendali atas dirinya. Berbeda saat bersama Ratih dulu. Mungkinkah karena Tiara bekerja, sementara Ratih tidak? Hingga dia merasa pantas saja membantah suaminya, jika tak memberi nafkah atau memaksakan kehendak?
Di saat seperti ini Indra justru rindu pada Ratih,yang nrimo, yang penurut.
Indra mengendarai motornya tak tentu arah. Tinggal di rumah sang ibu, hanya dapat Omelan, sementara perutnya keroncongan saat ini. Mau kembali kerumah Tiara, pun rasanya malas. Hingga tanpa sadar ia terhenti di depan rumah Ratih yang tampak ramai. Beberapa kendaraan tampak terparkir di sana. Ada apakah gerangan?
__ADS_1
Bersambung....