Papa Pengganti Buat Altaf

Papa Pengganti Buat Altaf
Chapter 16 - Terkejut


__ADS_3

"Papa jangan keganjenan deh. Tebar pesona sana sini."


Foano terkekeh kecil."Berapa sih umurmu Cik?"


"Itunglah pa, kan papa yang tau aku lahir." Jawab Cika memainkan kuasnya pada kanvas di depannya.


Alih-alih menjawab, Foano malah colek cat dan mentowel pipi Cika. Hingga tampak warna hijau disana.


"Papa!!"


Hanya suara tawa Foano yang tertinggal di ruangan itu, sementara orangnya udah ngacir entah kemana.


"Apa papa serius? Ini pertama kalinya ada anak yang manggil dia papa dan diakuinya." Gumam Cika berpikir sambil mengetuk-ngetuk janggutnya dengan ujung pegangan kuas.


"Biar ku cari tau." Gumam Cika lagi dengan senyum yang lebar.


###


Hari ini Indra bersiap untuk fitting baju pernikahannya, dia memantulkan diri di cermin, menyugar rambutnya dengan Jel agar terlihat rapi dan ganteng.


"Buk, Indra pergi dulu ya."


"Kemana Ndra?" Tanya Bu Tias sembari mengupas kacang rebus dan memakan, kacang nya.


"Fitting baju buk." Jawab Indra mengangkat kedua alisnya naik turun.


"Hmmm.. mau di bikin pesta besar Ndra?"


"Ya gitu deh buk. Indra berangkat dulu ya. Ini masih mampir Indra ke ruko indah Kasablanka. Ngambil pesenan Adek nya Tiara."


"Adeknya Tiara? Kok jadi kamu yang ngambilin?"


"Sekalian buk." Jelas Indra mengambil kunci motornya.


"Kok pake motor? Mobilmu kemana?" Tanya Bu Tias heran karena memang beberapa hari ini sudah tak melihat mobil Indra.


"Di bengkel buk." Jawab Indra sudah sedikit malas dengan ibunya yang banyak tanya itu. Ia menarik tuas gas motornya, dan perlahan pergi meninggalkan rumah.


Di depan ruko yang menjadi gudang Stokis Masa tempat Adik Tiara ambil produk kosmetik nya, Indra berhenti dan memandang bangunan itu.


"Rame juga ini ruko. Katanya gudang." Gumam Indra melangkahkan kakinya masuk kedalam ruko berlantai dua itu.


"Permisi,"


Indra memandang berkeliling, ada beberapa orang di sana sibuk mengepak barang, dan ada juga yang terlihat mengambil beberapa produk dan meletakkan nya diatas etalase. Di depannya tampak dua orang wanita yang sepertinya pelanggan. Dan satu lainnya di depan komputer.


"Permisi." Indra mendekati wanita yang duduk di belakang komputer.


"Iya, ada yang bisa dibantu?"


"Saya mau ambil pesanan."ucap Indra


"Atas nama siapa ya?"


"Serina Rastia."


"Tunggu sebentar ya."pinta wanita itu lalu mengambil sesuatu di rak belakang tempat nya duduk tadi.


"Serin. Semuanya satu juta delapan ratus ribu."


"Buset, banyak juga, aahh, ntar juga di ganti kan?" Gumam Indra mengeluarkan dompetnya. "Maaf mbak, saya nggak bawa uang sebanyak itu. Bisa pake debit nggak?" Kata Indra sembari mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya.


"Bisa."


"Ayu, mbak Ratih dah kesini belum?" Suara seorang pekerja lain yang mendekat.


"Di dalam!"seru wanita di balik komputer yang merangkap kasir itu.

__ADS_1


Indra hanya memperhatikan saja, "Ratih? Kek nama mantan istriku.." gumam Indra dengan sedikit kekehan geli.


Tak lama muncul seorang wanita cantik nan putih dari arah dalam ruangan itu. Ia tengah berbincang dengan seorang yang tadi berseru. Mata Indra melebar menyadari siapa wanita itu.


"Ratih?"


Ratih pun terlihat sama kagetnya, ada sang mantan suami di sana. Namun, ia memilih acuh dan melanjutkan aktifitasnya dengan karyawannya. Karena penasaran, Indra pun bertanya pada Ayu.


"Mbak, itu siapa?" Tanya Indra menunjuk Ratih dengan dagunya.


"Mbak Ratih mas." Jawab Ayu singkat.


"Maksud saya, karyawan di sini?"


"Bukan. Beliau yang punya."


Mulut Indra membola seketika. Wanita yang dulu ia anggap hanya benalu yang jelek dan miskin kini sudah menjadi wanita cantik nan sukses. Indra memandang keseluruhan ruang ruko yang cukup luas dan penuh oleh barang prduk Masa dan para pelanggannya, dengan sangat takjub. Indra tak menyangka, Ratih akan seluar biasa ini.


Setelah urusannya selesai, Indra mengendarai motor ke rumah Tiara. Memarkirkan motornya di sana.


"Eehh, mas Indra, aku dah siap nih. Ayok." Ucap Tiara yang baru saja keluar dari rumahnya.


"Ini, titipannya serin." Indra mengulurkan tangannya yang membawa pesanan Serin pada Tiara. Yang langsung di terima oleh Tiara.


Tiara masuk sebentar kedalam.rumah, lalu keluar lagi. Indra celingukan, kepikiran juga dengan uang dia pakai untuk membayari produk pesanan Serin.


"Serin mana?"


"Lagi pergi." Jawab Tiara sambil mengenakan helm.


"Ooh, dia nitip uang nggak sama kamu?" Tanya Indra sembari menstater motornya.


"Enggak. Kenapa mas?"


"Yaahh, itu pesenan Serin belum di bayar, jadi tadi mas talangin dulu. Lumayan lah dua juta."


Tiara hanya ber oh ria.


Wajah Tiara langsung cemberut. "Iihh, cuma dua juta pun, sama Adek sendiri juga, itungan. Mas minta sendiri lah, Tia malu."


"Iya," jawab Indra memilih diam dan menarik tuas Gas nya.


.


.


Setelah selesai fitting baju pengantin mereka, Indra mengantar Tiara kembali ke rumah, kebetulan saat itu Serin sudah berada dirumah. Dengan sumringah, Indra mendekat pada adik Tiara yang sedang duduk main hp di kursi teras.


"Ser.." sapa Indra sembari duduk di kursi tak jauh dari Serina.


"Makasih ya mas, udah diambilin pesenan Serin."


"Yoi." Balas Indra, sengaja dia menjeda, menunggu serin membahas pasal uang pesanan yang tadi dia ambilkan. Namun, gadis cantik itu masih sibuk dengan Hp nya. Indra melirik saja sedari tadi.


"Ser..."


"Iya mas?" Jawab Serin tanpa menoleh dan asik dengan hpnya.


"Kamu biasa ambil barang di sana?"


"Iya."


"Oo iya, tadi ternyata belum kamu bayar ya pesanan kamu? Mas sampe bingung tadi pas bayar nggak ada uang Cash."


"Hmmm...."


"Untung mas masih ada simpanan, jadi pake debit dulu. Mas talangin dulu."

__ADS_1


"Oohh, makasih ya mas." Ucap serin menoleh sebentar lalu sibuk lagi dengan hp nya.


"Abis dua juta."


Serin menoleh menatap lama pada Indra. "Maksudnya, mas Indra mau minta ganti?"


Ada sedikit senyum di wajah Indra. Namun melihat wajah tak ramah Serin ia bingung juga.


"Mas indra perhitungan ya orang nya? Beda sama mantan pacar mbak Tiara yang lain. Mereka loyal sama Serin. Baru keluar duwit dua juta aja udah ribut." Ucap Serin sedikit ketus.


"Eehh, bukan gitu Ser maksud mas..."


"Mbak Tia!" Panggil Serin beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke dalam rumah.


"Serin! Bukan itu maksud mas..." Seru Indra jadi tak enak hati, dan serba salah. Mau di ikhlaskan Kok banyak, nggak kok malah jadi seperti ia pria yang pelit.


Tiara tampak keluar dengan muka di tekuk. Ia menyodorkan setumpuk uang.


"Nih mas, buat ganti uang titipan Serin." Tukasnya meletakkan uang itu dengan sedikit kasar. Indra berdiri dari duduknya,


"Bukan gitu maksud mas, Tia." Indra mencoba menjelaskan dan menggenggam kan lagi uang itu ke tangan Tiara. "Maafin mas, ya. Ini balikin aja sama Serin."


"Kan Tiara dah bilang tadi. Tiara malu mas. Sama Adek sendiri aja perhitungan." Ketus Tiara dengan muka yang masih di tekuk.


"Iya, nggak lagi kok, mas iklas. Ini buat Serin aja. Maafin mas ya." Wajah Indra sudah memelas menatap Tiara dengan permohonan.


"Mas Indra pulang aja. Tiara capek."


"Mas nggak pulang kalau kamu nggak maafin mas."


"Iya mas, Tiara maafin. Lain kali jangan kek gitu lagi, malu Tiara mas. Cuma dua juta aja sampai di tagih-tagih sama Adek sendiri."


Indra hanya menghela nafas beratnya. Niat hati mau ambil hak dua juta, malah jadi runyam. Tiara ngambek.


.


.


Dalam perjalanan pulang, Indra teringat lagi dengan Ratih, yang sudah berubah menjadi lebih cantik dan lebih elegan. Cara Ratih berpakaian sedikit berbeda dari Ratih yang dulu kucel dan lusuh.


Indra menghela nafasnya berat.


"Apa aku sudah salah ya menceraikan dia?" Gumam Indra. Sekilas, dalam benaknya, sekelebat bayangan Altaf yang terlihat sangat sedih dan merengek saat mereka berpapasan di resto dulu, terlintas.


###


Disebuah taman bermain, siang itu...


"Altaf nggak punya ayah."


"Altaf di buang di kali sama Ayahnya."


Suara teman-teman Altaf yang meledek disertai tawa. Membuat Altaf cemberut.


"Altaf punya papa."Jawab Altaf.


"Bohong kamu Altaf. Kamu kan nggak punya Ayah."


"Iya, kami aja nggak pernah lihat kamu sama papa mu."


"Tapi Altaf punya papa. Nggak bohong, Altaf punya papa!" Teriak Altaf hampir menangis.


"Ye ye ye... Altaf mau nangis."


"Altaf cengeng! Nggak punya papa." Ledek temannya yang lain.


Dengan wajah yang sedih dan marah tak tertahan, namun tak bisa mengelak dari ejekan temannya. Altaf hanya mengusap matanya yang berair.

__ADS_1


"Altaf!" Suara seorang pria dewasa yang tak asing baginya itu terdengar dari pinggir jalan. Altaf menoleh, dan beberapa orang temannya memperhatikan pada titik yang sama. Kesemuanya membulatkan mulut.


Bersambung....


__ADS_2