Papa Pengganti Buat Altaf

Papa Pengganti Buat Altaf
Chapter 31


__ADS_3

"Mas Indra dari mana?"


"Mas kan udah bilang dari rumah ibuk." jawab Indra malas datang-datang sudah di todong pertanyaan yang penuh curiga itu.


"Ibuk siapa?" Tiara masih mengejar dengan pertanyaan yang tak membuatnya puas.


"Kamu kenapa sih?"


"Mas yang kenapa?" Tiara beranjak dari duduknya, menatap penuh amarah suaminya."Mas nggak ke rumah ibuk kan?"


Wajah Indra berriak, menatap pada istrinya mencari apa yang sebenarnya Tiara maksud. Mungkinkah istrinya itu tau jika dirinya datang ke rumah Ratih dan tidak ke rumah ibunya?


Tiara tertawa kecil."Kamu ke mana mas? Jujur sama Tiara? Kamu nggak ke rumah ibuk kan?"


"Mas kerumah ibuk."


"Bohong!" sentak Tiara dengan aura cemburu di wajahnya."Tadi ibuk ke sini. Nyari kamu."


Deg!


"Baru aja dia pulang..."


"Aku memang ke rumah ibuk, tapi ibuk nggak ada."


"Jadi kamu nunggu di sana?"


Indra terdiam.


"Apa kamu nunggu ibuk di sana?"


'Mungkin sebaiknya aku tak berbohong padanya, sepertinya dia sudah sangat marah. Tapi jika aku jujur, dia pasti akan semakin kalap.' gumam Indra dalam hati.


"Aku ketemu Altaf di jalan. Berbincang sebentar karena dia akan pergi ke kondangan. Lalu aku ke rumah ibuk. Dan ibuk nggak ada."

__ADS_1


Tiara tersenyum sinis."Ternyata kamu kerumah mantan istrimu?"


"Ra, kami ketemu di jalan. Dan aku hanya bertegur dengan Altaf. Cuma sebentar, karena mereka sedang dalam perjalanan ke kondangan."


"Oohh, ya? mereka ke kondangan naik apa?"


"Mobil."


"Woooww... hebat ya bisa ketemu di jalan."


Indra Hela nafasnya. "Kami berpapasan di depan mini market. Jadi terpaksa aku aku menyapa Altaf. Dia anak ku. Tak mungkin aku pura-pura nggak liat." terang Indra mulai jengah dengan pertengkaran ini.


"Kamu mau percaya atau nggak terserah Ra, mas udah coba jujur sama kamu. Mas lelah. mas mau istirahat." sambung Indra berlalu ke kamarnya, meninggalkan Tiara yang dongkol.


"Mau sampai kapan pernikahan ini akan bertahan jika dia terus curiga dan bersikap seperti ini?" gumam Indra.


###


Hari yang di nanti pun tiba, Ratih tampak cantik mengenakan kebaya berwarna toska senada dengan pakaian yang Foano kenakan.


Pak penghulu pun sudah bersiap di atas meja yang di siapkan untuk Ijab Kabul. Foano melangkah memasuki tenda yang di hias dengan berbagai macam buah dan janur kuning di pintu masuknya. Dan kain warna-warni yang menambah kesan meriah.


Iringan suara tabuhan dan denting gendang khas acara hajatan Jawa menyambut nya. Wajah tampan yang mengukir senyum di wajah Foano. Langkah Foano semakin dekat pada meja penghulu. Di sana Ratih sudah duduk dengan wajah sedikit menunduk. Mata Foano mencari celah untuk mengintip wajah ayu Ratih di balik kerudung yang menutupi sebagian wajahnya.


"Cantik....." gumam Foano tanpa sadar dia justru berjalan hingga melewati meja pak penghulu karena pandangannya terus terpaku pada sosok Ratih.


"Eehh, pengantin nya mau ke mana?" seloroh salah satu tamu bersamaan dengan Foano yang menubruk hiasan di depan panggung pelaminan.


Tentu saja itu menjadi pemandangan yang mengundang gelak tawa. Cika menepuk kepalanya.


"Malu-malu in deh, papa." gumamnya menggeleng.


Dengan muka merah menahan malu dan sedikit rasa sakit, Foano duduk di samping Ratih, di depan wali hakim karena Ratih sudah tak memiliki seorang ayah, sementara Gilang masih duduk di bangku sekolah.

__ADS_1


Beruntung, Foano mengucapkan ikrar nya dengan sangat lancar dan mantap. Namun rasa malu masih menghinggapi dirinya jika mengingat kejadian tadi.


Setelah acara usai....


"Alhamdulillah... Saahh...." lirih Foano disambut senyuman dari Ratih.


"Papa!"


Altaf mendekat memeluk Foano yang kini jelas sudah statusnya menjadi papa bocah berusia 4tahun itu.


"Papa!!"


Foano merentangkan tangannya memeluk hangat Altaf.


"Papa, malam ini sudah bisa bobok sama altaf?" celoteh bocah menggemaskan itu.


"Cika juga boleh dong bobok sama mama Ratih." goda gadis cantik dengan nyengir kuda.


Foano menatap Cika dengan mata menyipit.


Cika tergelak...


"Mama Ratih..." peluk Cika pada mama barunya, "sekarang Cika udah punya mama, Altaf! Altaf juga sudah punya papa kan?"


"Seneng nggak?" tanya Foano menggendong Altaf.


"Seneng!!!"


"Papa juga seneng." ucap Foano melirik genit pada Istrinya."Nggak bobok sendiri mulai malam ini...."


"Papa, nanti kita bobok berempat ya? Asyiikk..." celoteh Altaf polos.


"Yeeeeyy, kita bobok berempat...." Cika ikut-ikutan menggoda papanya dengan gelak tawa.

__ADS_1


Foano mendelik. "Cika..."


Lalu tatapan mata Foano berpindah pada Ratih yang tersenyum malu-malu.


__ADS_2