
Begitu keluar dari mini market, setelah tarik tunai dan membeli susu untuk Altaf. Ia di hadang oleh Indra yang penasaran dengan keberadaan Ratih di mini market itu.
"Kamu! Ngapain di sini Ratih, ayo balik."
Ratih menatap suaminya yang sebentar lagi jadi mantan secara hukum.
"Ratih nggak salah denger mas?"
"Enggak, mas udah putuskan buat maafin kamu. Ayo balik." Jawab Indra, yah, ia harus membujuk Ratih agar mau pulang dan membereskan kekacauan di rumah. Setidaknya sampai ia dapat asisten rumah tangga yang baru.
"Buat apa mas? Jadi pembantu gratisan lagi?" Kata Ratih santai, itu hanyalah pertanyaan untuk memastikan lagi, apa dirinya di mata sang suami.
Sesungguhnya, Ratih masih berharap, Indra memiliki sedikit saja rasa cinta untuknya. Atau setidaknya untuk Altaf. Walau sedikitpun tak ada niat kembali ke rumah yang sudah dia tinggalkan itu.
"Ratih! Kamu tu istri mas, nggak pantes kamu main kabur-kaburan kayak gini. Mas kasih kamu kesempatan sekali lagi loh. Bukannya terima kasih, ayo pulang." Ketus Indra kesal belum-belum sudah ketebak maksudnya."Rumah butuh kamu sekarang."
Ratih tertawa dengan geli sekaligus muak. Ia tau jawabannya, bukan dia di harapkan, tapi tenaga geratisannya.
"Nggak usah mas, Ratih tunggu surat cerai dari mas saja." Ucap Ratih malas lebih lama melihat dan berdebat dengan Indra. Ia mengayunkan kaki hendak melewati Indra. Namun suaminya itu menahan lengan Ratih.
"Kamu ini emang nggak tau bersyukur ya? Udah di baikin malah..."
Ratih menoleh dan menarik tangannya kasar.
"Di baikin? Dibaikin dari mana, Mas? Ratih bingung dengan kebaikan yang mas Indra maksud. Nyuruh aku balik juga cuma mau beresin rumah kan? Gimana rumah? Udah berantakan? Nggak ada makanan? Makanya manggil aku balik?" Ucap Ratih dengan senyum mengejek.
"Sory ya mas, aku sibuk banget. Aku bukan lagi Ratih yang dulu, yang bisa kalian injak-injak dan suruh-suruh sekehendak kalian."
Ratih berbalik hendak melanjutkan langkahnya, tapi dia balik lagi melihat Indra yang sepertinya cukup kaget dengan Ratih yang biasanya diam, sudah banyak berubah akhir-akhir ini.
__ADS_1
"Oiya mas, buruan nikahin Tiara biar ada yang bisa di jadiin pembantu gratisan lagi. Itu pun kalau dia mau." Sambung Ratih lalu pergi meninggalkan Indra yang masih tampak terbengong.
###
"Kamu ngapain sih Ndra?" Tanya Bu Tias begitu melihat Indra masuk ke warung dan duduk di samping ibunya.
"Ketemu Ratih tadi buk." Ucap Indra lesu.
"Kenapa lagi dengan dia, udahlah, dia dah pergi, ya biarin aja. Nanti malah besar kepala dia." Ketus Bu Tias memainkan mulutnya yang monyong.
"Ya nggak gitu buk, ini kan masih suasana lebaran. Maksud aku tu, biar dia yang kerjain kerjaan rumah. Bayar interval mahal. Kita juga belum dapat art. Rumah udah berantakan, kalau dia balik kan ada yang di suruh-suruh." Ucap Indra lagi memberi alasan mengapa tadi menemui Ratih di sebrang jalan.
"Terus, mau dia?" Tanya paman menerima pesanan soto yang baru saja diantar pramusaji. Bu Tias pun tampak penasaran.
"Nggak."
Bu Tias mencibir."mana berani dia balik lagi."
"Iya buk, udah, santai aja. Tiara juga kek nya udah tergila-gila kok sama Indra." Ucap Indra jumawa.
###
Beberapa hari kemudian.
"Eehh, tinggal di rumah mas Indra setelah kita nikah?"
"Iya, mau kan Tia?"
Wajah Tiara terlihat sangat tak enak dipandang mendengar permintaan Indra untuk tinggal di rumah mertua.
__ADS_1
"Istri mas Indra...."
"Oohh, santai aja, dia udah pergi kok dari rumah. Bentar lagi aku akan masukin berkas di pengadilan buat urus cerai sama dia." Terang Indra santai sambil memasukkan sesendok bakso berserta kuahnya ke mulut.
"Benaran? Tiara nggak jadi adik madu dong. Haaahh, syukurlah, malas banget mas kalau nanti Tia jadi dapat cap pelakor dari orang-orang." Ucap Tiara dengan wajah lega dan senang.
"Enggak dong sayang. Siapa yang berani lakukin itu sama kamu yang cantik ini. Nggak akan ada yang tega.." Indra mengerling sambil menyentil hidung Tiara yang tampak tersipu malu.
"Tapi aku nggak mau mas kalau tinggal di rumah ibuk."
"Kenapa?" Tanya Indra heran, padahal dia dan ibunya sudah merencanakan untuk Tia bisa tinggal dan membantu pekerjaan rumah sebelum dan sesudah Tiara pulang kerja. Jadi mereka tak perlu menyewa tenaga ART lagi.
"Kita tinggal di rumah ku aja mas, nggak enak kalau tinggal satu rumah sama mertua atau pun orang tua. Nanti malah cekcok kek istri pertama mas itu. Tia ogah ah." Jawab Tiara dengan bibir manyun.
"Hmm.. susah juga nih." Ucap Indra garuk-garuk kepala.
"Susah kenapa mas?" Selidik Tiara dengan raut gelisah dan Khawatir jika sampai dia dipaksa tinggal di rumah itu.
"Yaaa,, mas nggak punya uang buat ngontrak, Tia." Jelas Indra dengan wajah memelas."mobil mas aja masih kredit."
"Ya udah, tenang aja mas, kan nanti tinggal di rumah aku."
"MMM... Tapi, mas tetep punya kewajiban untuk kasih nafkah buat ibuk." Jelas Indra dengan hati-hati."Ibuk mas itu janda tua, jadi..."
"Iya mas, Tiara nggak keberatan. Tia ngerti kok."potong Tiara cepat."kalau kita dah nikah uang kita milik bersama."
Indra tersenyum sumringah, "Senang nya mas punya calon istri yang pengertian dan wanita karir seperti mu Tia. Mas merasa sangat beruntung." Kata Indra seraya memeluk bahu wanita cantik yang duduk di sampingnya.
'Kalau gini aku nggak perlu khawatir, ibuk tetap dapat jatah, dan aku bisa sewa pembantu buat dirumah ibuk. Tiara kan kerja, punya rumah, punya mobil sendiri. Uang Tiara kan, juga uangku kalau kami sudah nikah. Nanti urusan rumah tanggaku biar pake uang Tiara saja. Ternyata enak juga hidup ku.' pikir Indra melambung.
__ADS_1
Bersambung...