PAPAH MUDA, Bukan Duda

PAPAH MUDA, Bukan Duda
EPISODE 27


__ADS_3

tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh hendi pun berhenti didepan sebuah butik. hendi keluar terlebih dahulu untuk membukakan pintu.


"ayo nona, sekarang anda bisa keluar. " ucap hendi sopan sambil menundukkan sedikit kepalanya.


"apa-apaan sih nih pak hendi, kenapa dia begitu menghormatiku." ucap tania dalam hatinya dengan wajah bingung. tania pun segera keluar dari mobil.


hendi yang melihat kebingungan dari wajah tania, semakin membuat hendi merasa gemas.


"silahkan masuk nona, " ucap hendi menyuruh tania masuk kedalam butik itu.


"mau ngapain kita kesini pak, "tanya tania bingung.


"masuk saja dulu nona, nanti kau akan tau sendiri." ucap bayu ramah.


"baiklah kalau begitu, saya akan masuk. " tania melangkahkan kakinya masuk kedalam butik.


sementara hendi menyuruh karyawan toko itu untuk mencarikan pakaian yang bagus dan cocok untuk tania. tania yang bingung dibuat semakin bingung oleh karyawan toko itu yang datang menghampirinya, memilihkan pakaian yang bagus untuknya dan menyuruhnya mengganti pakaian diruang ganti.


" maaf mba', tapi saya kesini bukan mau beli pakaian, lagian saya mana punya uang sebanyak itu untuk membayar pakaian ini. " ucap tania jujur setelah dia melihat bandrol harga yang tertera dipakaian itu, bahwasannya dia tak punya uang untuk membayar pakaian mahal itu.


"sudah mba', ikutin aja perintah dari pacar mba' ,ini semua dia yang nyuruh. " kata karyawan butik itu dengan ibu jarinya yang menunjuk kearah hendi yang berada agak jauh dari tania. tania yang mendengar ucapan karyawan itu pun terkejut.


"hah... pacar. maaf mba', dia bukan pacar San..." belum habis tania menyelesaikan ucapannya, hendi pun datang.


"tunggu apalagi nona, apa kamu hanya akan berdiri disini saja, silahkan ganti pakaian anda. " kata hendi lembut tapi tegas.


"oke, saya akan segera menggantinya." tatapan kesal dari tania lagi-lagi membuat hendi tersenyum.


tak berapa lama tania keluar, hendi yang melihat tania memakai pakaian itu pun merasa terkagum-kagum kepada tania.


"nih lihat, saya sudah menggantinya, puas. " tania masih kesal dengan meletakkan kedua tangan dipinggangnya. bayu yang melihat tania yang lagi kesal segera pergi ke kasir untuk membayar pakaian yang dibelinya.

__ADS_1


"baiklah kalau begitu nona, mari ikut saya ke mobil. " ucap hendi. tania berjalan dibelakang hendi, hendi pun segera membukakan pintu untuk tania dan menundukkan kepalanya kearah tania.


"sudahlah pak hendi, bapak tak perlu seperti itu kepada saya. " kata tania yang merasa tak nyaman dengan sikap hendi yang begitu menghormatinya seperti seorang ratu. hendi yang mendengar ucapan tania hanya diam saja dan tak memperdulikan ucapannya itu.


bayu pun segera melajukan mobilnya dan berhenti di sebuah salon yang tak terlalu jauh dari butik yang tadi.


"ayo nona, silahkan turun. "


"mau ngapain kita kesini pak," namun hendi tak menjawab.


"ayo, turunlah nona. "


"tapi pak, saya tak mau turun. "tolak tania yang masih duduk.


"baiklah, itu artinya anda mau saya gendong. baiklah saya akan menggendong anda nona. " jawab hendi dengan santai dan mendekati tania.


"hah, digendong...tidak-tidak, saya tidak mau. " tania pun segera turun dari mobil karena tak mau hendi menggendongnya.


" pekerjaan apa ya yang dimaksud pak hendi," gumam tania bingung. hendi masuk terlebih dahulu dan menyuruh karyawan yang ada di salon itu untuk mendandani tania.


baru saja tania melangkahkan kakinya kedalam, dia sudah disambut oleh pekerja salon itu dan menyuruh tania duduk dikursi yang sudah tersedia di dalam salon itu. tak berapa lama suara azan magrib


berkumandang.


" maaf mba', sebelum anda melaksanakan pekerjaan anda, bolehkah saya melaksanakan pekerjaan saya terlebih dahulu." kata tania.


" memangnya anda mau ngapain mba' ?" tanya karyawan itu.


"saya mau sholat maghrib sebentar mba'.


"o00oh... baiklah mba', silahkan ikut saya kedalam.

__ADS_1


"karyawan itu membawa tania ke sebuah ruangan, setelah mengambil air wudhu, dia segera sholat disana.


selesai mengerjakan sholat, tania kembali lagi ke tempat duduk yang disediakan oleh karyawan tadi. tak berapa lama tania pun selesai di dandani.


"nona, anda terlihat sangat cantik."


"oh ya. terimakasih mba' untuk pujiannya. " ucap tania tersenyum kearah karyawan salon itu.


" maaf tuan menunggu lama, pacar anda sudah selesai didandani, dan dia terlihat sangat cantik tuan."


"hah, pacar. "jawab hendi terkejut mendengar ucapan karyawan salon itu.


"itu dia sudah keluar. " ucap karyawan itu. tania hanya diam menatap kearah hendi.


"baiklah kalau begitu, saya permisi dulu. " pamit hendi setelah membayar biaya salon tadi.


"terimakasih pak, lain kali datanglah kesini lagi" ucap karyawan itu ramah.


oke.


setelah masuk kedalam mobil, tania masih kelihatan bingung, didalam otaknya penuh dengan banyak tanda tanya.


"aku benar-benar tak mengerti dengan pak hendi, dia akan membawaku kemana sih, lagian ini kan sudah malam. gimana kalau ibu mencariku. " gerutu tania dalam hati dengan kedua matanya menatap kearah kaca jendela mobil.


" maaf nona, saya tak bisa memberitahu anda kemana saya akan membawa anda. saya juga tau anda pasti lagi kebingungan, tapi tenang saja nona, saya pastikan kalau anda akan baik-baik saja." bathin hendi dengan kedua tangannya yang memegang stir, dan pandangannya yang fokus kearah jalan yang ada dihadapannya.


mobil itu pun melaju dengan kecepatan sedang, hendi tidak mau ngebut karena dia takut tania akan merasa tak nyaman dengan itu. tania yang hanya diam menatap kearah luar jendela tak mau bertanya kepada hendi lagi. karena dia tau, walaupun dia bertanya hendi pasti tak akan menjawabnya.


begitulah yang ada difikiran tania.


__ADS_1


__ADS_2