
mobil yang dikendarai hendi tiba di sebuah hotel mewah yang ada dikota itu. sebelum turun, hendi dengan segera menutup kedua mata tania menggunakan kain hitam kecil dan mengikatnya dikepala tania. tania terkejut namun tak memberontak.
"kita mau kemana sih pak, kog mata saya ditutupi segala. " ucap tania, lagi-lagi dia masih kesal dengan hendi, yang setiap dia bertanya tak pernah dijawab oleh hendi.
"Ingat nona, anda jangan membuka tutup mata ini sebelum ada yang menyuruh membukanya. "
"huh, ngapain juga aku mendengarkan ucapan mu pak, aku akan membukanya nanti." bathin tania.
"jangan mencoba membukanya, kalau anda ingin selamat. " ancam hendi.
"apa jadi anda mau mengancam saya," jawab tania kesal.
"begitulah kira-kira. "
" cih, kenapa sih Dia seperti bisa mendengar ucapanku." tutu Tania.
"silahkan turun nona ! ucap hendi lembut.
"tidak, aku tak mau turun, aku mau pulang, ibuku pasti sudah menungguku dirumah. aku mau pulang saja. "tania menolak untuk turun, karena dia juga kepikiran sama ibunya yang pasti khawatir karena sedari tadi tania belum kembali kerumah setelah selesai kuliah
"perihal ibu anda, nona tak perlu khawatir, saya sudah menghubungi bu wati dan memberitahu dia kalau anda pulang telat malam ini. jadi tolong turunlah !" jelas hendi
"kog dia tau sih, aku sedang memikirkan ibu." bathin tania dengan wajah keheranan.
"apa, jadi bapak tau nama ibu saya, dan bapak juga tau alamat rumah saya, darimana bapak tau itu semua ." tanya tania heran dengan kedua matanya yang masih ditutupi kain hitam tadi.
"nona-nona...ternyata anda b“d"h juga. ya dari catatan dikantor lah. " bathin hendi yang seketika tersenyum.
" maaf nona, anda tidak perlu tau tentang itu."
"nona...apa anda lupa waktu itu pak bayu mengantarmu pulang ke rumah , ya saya yang mencarikan alamatmu untuk pak bayu"." ucap hendi dalam hati.
"nona, apa anda mau saya gendong?
"tidak. baiklah saya akan turun." tania segera keluar dari mobil karena tak mau digendong hendi.
"nona, ternyata anda sangat takut sekali kalau saya menggendong anda. " ledek hendi sambiltersenyum.
__ADS_1
"saya tidak takut, hanya saja tak mau kalau anda menyentuh saya. " tegas tania dengan berani.
disamping tania sudah ada wanita petugas hotel, hendi meminta tolong kepada wanita itu untuk membawa tania ke rooftop paling atas di hotel itu. namun tania tidak mengetahui ada seorang wanita juga disana sebab matanya yang ditutup.
tanpa bersuara, wanita itu memegang bahu tania dan mengajaknya berjalan.
" maaf pak, bapak tak perlu memegang saya seperti itu." tania membuang kasar tangan yang sedang memegang bahunya. hendi yang ada dibelakang tania seakan-akan terkekeh melihatnya.
"maaf nona, saya tidak memegang anda. "
"anda pasti berbohong. "
"tanya saja mba' yang ada disebelah nona!"
"hah... mba'? maksudnya. "
" maaf mba', saya lah yang memegang bahu anda untuk memapah anda masuk kedalam nona. " kata petugas hotel itu.
" o00ohhh... maaf ya mba', saya tidak tau kalau itu anda, saya fikir bapak yang tadi. " ucap tania lembut.
"iya, tidak masalah kog. "ucap petugas itu ramah.
" maaf mba' saya permisi dulu, karena tugas saya hanya sampai disini. "pamit wanita itu.
" mba', tolong jangan tinggalkan saya sendiri disini mba". ucap tania lirih, dia ketakutan Karena merasa tempat Dia sedang berdiri ini begitu sunyi.
namun wanita itu terus melangkah pergi, tak memperdulikan ucapan tania.
"aku ada dimana ya, kog sepertinya sepi sekali.
"gumam tania terlihat jelas dari wajahnya dia sangat ketakutan. tanpa tania tau, ada sepasang mata yang tengah memperhatikannya sedari tadi.
" dia benar-benar sangat cantik."
tania yang memakai dress diatas lutut itu memang terlihat sangat cantik dibanding biasanya. pria itu melangkahkan kakinya mendekati tania yang hanya diam berdiri ditempatnya. tania kaget karena ada seorang pria yang membuka penutup mata tania dari arah belakang. namun tania belum membuka matanya karena belum ada yang menyuruhnya untuk membuka matanya.
pria itu berdiri disamping tania dan menyuruhnya untuk membuka matanya.
__ADS_1
"buka matamu, " ucap pria itu lembut. tania pun langsung membuka matanya, dan dia begitu sangat terkejut dengan apa yang dia lihat.
pemandangan yang begitu indah, cahaya lampu yang gemerlapan, mobil-mobil yang terlihat sangat kecil sedang berlalu lalang disana. semua gedung dan rumah-rumah terlihat dari atas.ketinggian lantai tingkat 20 hotel itu.
"Subhanallah...indah sekali, "kata tania takjub melihat pemandangan itu. sangking takjub nya tania dengan pemandangan yang ada dihadapannya tania tak tau kalau ada seorang pria disampingnya.
"ehhemm..."
pria itu berdehem sehingga membuat tania terperanjat dan menoleh kearah suara itu.
"hah, pak bayu." wajah tania pucat pasi.
"kenapa, apa kamu terkejut. " tania hanya diam dan menundukkan kepalanya.
bayu melangkah kehadapan tania, sehingga posisi mereka berdua saling berhadapan.
"tania..." bayu mengangkat dagu tania sehingga membuat mata tania menatap mata bayu. mereka saling bertatapan dalam diam.
"ya allah, kenapa jantungku berdebar begini ya, ?" batin tania.
tania terkagum melihat wajah bayu yang begitu tampan dengan pakaian yang dipakainya. bayu melepaskan tangannya dari dagu tania, ia terus memandangi wajah tania yang begitu cantik baginya.
"terimakasih sudah mau datang kesini. " ucap bayu
lembut.
"jadi, ini semua..."
"iya, saya ingin memberikan kejutan buat kamu. "
"tapi, buat apa pak. "tanya tania heran.
"mari ikut saya, nanti akan saya jelaskan. " ucap bayu tersenyum dan menggenggam tangan tania. membawanya kesebuah meja yang sudah tersedia dengan berbagai menu diatasnya.
tania hanya terdiam mengikuti langkah kaki bayu.
"ya ampun, ada apa ini. kenapa dengan hatiku, kenapa jantung sangat berdebar-debar, dan kenapa aku sangat bahagia pak bayu memegang tanganku seperti ini. ucap tania dalam hatinya sambil senyum-senyum sendiri.
__ADS_1