PAPAH MUDA, Bukan Duda

PAPAH MUDA, Bukan Duda
EPISODE 29


__ADS_3

bayu dan tania tiba di depan sebuah meja makan. diatas meja tersebut sudah ada beberapa menu makanan yang sudah tersedia.


bayu melepaskan genggamannya, ia melangkah kedepan untuk menarik kursi, dengan membungkukkan sedikit badannya ia mempersilahkan tania untuk duduk.


"silahkan, duduklah. " ucap bayu lembut.


"terimakasih pak, "tania pun segera duduk. mereka duduk berhadapan, ditengah mereka ada beberapa menu makanan dan minuman.


suasana malam yang sejuk, angin malam yang sesekali menerpa tubuh, serta pemandangan yang indah membuat makan malam ini menjadi makan malam romantis yang pernah dirasakan oleh tania dan bayu, apalagi hanya ada mereka berdua disini.


"makanlah, nanti keburu dingin." bayu menatap lembut wajah tania dengan senyuman.


"baiklah pak, saya akan memakannya. " bayu dan tania makan dengan adab yang teratur, tidak ada yang berbicara ketika mereka sedang makan hanya ada dentingan sendok dan garpu yang sayup-sayup terdengar.


sesekali tania melihat kearah bayu,


"ternyata pak bayu tampan sekali kalau dia bersikap lembut seperti ini." tania mengagumi bayu dalam hati.


tania segera menundukkan kepalanya dan fokus ke piring makannya disaat bayu melihat kearah tania.


bayu merasa sangat bahagia malam ini, dia tak


menyangka kalau dia bisa berduaan dengan tania.


"aku bahagia sekali tania, bisa berdua seperti ini denganmu. " ucap bayu dalam hati, dia pun tersenyum kearah tania. tak berapa lama, mereka pun selesai makan. suasana hening, bayu tak tau harus memulainya dari mana. dia tak pernah berduaan dengan wanita manapun sebelumnya selain tania.


"huft..." bayu menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya. bayu memberanikan dirinya untuk bicara dengan tania. bayu memegang tangan tania yang ada dihadapannya.


"tania, aku mencintaimu. " kata bayu gugup.


"aku juga mencintaimu pak, " balas tania.


" maukah kamu menikah denganku, tania? "


"dengan senang hati, aku mau menikah denganmu. " tania tersenyum memandang bayu.


" baiklah kita akan segera menikah. " ucap bayu bahagia.


bayu terkejut, karena ada seorang wanita yang memanggil-manggilnya namanya.


"pak, pak bayu. bapak kenapa?" tanya tania menepuk-nepuk bahu bayu yang duduk didepannya.

__ADS_1


"hah, tania... kamu. " bayu terkejut dan langsung tersadar dari lamunannya, dan ternyata tadi hanyalah khayalannya saja.


"iya pak, bapak kenapa? kog melamun sih. " tanya tania heran.


"ah, tidak apa-apa. mungkin saya hanya sedikit kekenyangan saja. " jawab bayu, dia merasa malu kepada tania.


"aku berharap sekali kalau yang tadi adalah kenyataan." gumam bayu dalam hati.


tania yang mendengar jawaban bayu pun terkekeh di buatnya.


"hah, apa dia benar tertawa, ternyata aku juga bisa membuatnya tertawa begitu." gumam bayu dalam hatinya.


"ohya pak, bolehkah saya bertanya? "


"silahkan. " ucap bayu lembut.


"wanita yang waktu itu, apakah dia pacar bapak?" tanya tania serius menatap bayu.


"oh, yang waktu di kafe itu?"


"ah, bukan.dia bukan pacar saya. dia hanya seorang wanita yang sangat terobsesi kepada saya, saya selalu menolaknya, tapi sepertinya dia tak mau menyerah." jelas bayu.


"kenapa bapak tidak menerimanya saja," tanya tania serius.


tania terdiam mendengar penjelasan bayu.


"kalau kamu sendiri, apa kamu sudah punya pacar. " tanya bayu.


"pacar? " tania gugup.


iya.


"saya belum punya pacar pak, lagian siapa juga yang mau mempunyai pacar seperti saya."


"saya mau. "jawab bayu.


"apa? "tania terkejut.


"ah, sudahlah jangan dibahas lagi. "


"ya ampun, aku fikir kamu beneran pak." bathin tania menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"sudahlah, kalau begitu ayo kita pulang," ajak hendi berdiri dari duduknya.


"pulang," ucap tania seolah-olah dia merasa terkejut.


"kenapa?" tania berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya berada dipinggir rooftop gedung hotel itu.


"saya masih ingin disini dulu pak, pemandangannya sangat indah." tania merentangkan kedua tangannya menghirup udara malam.


bayu yang melihat tania, dengan segera melangkahkan kakinya menghampiri tania dan berdiri tepat disamping tania.


"apa kamu suka tempat ini. "


"iya pak, saya suka sekali, dan saya juga baru kali ini melihat pemandangan seperti ini dari atas gedung." jelas tania menatap kearah bayu.


"kalau kamu suka, saya akan sering-sering bawa kamu kesini. "jawab bayu tersenyum kearah tania.


"oh ya, apa bapak serius. " tanya tania tak percaya.


"kenapa tidak." jawab bayu.


mereka berdua saling tersenyum. tania yang baru tersadar, mengeluarkan ponsel didalam tasnya, dan dia melihat sekarang sudah pukul 9 malam.


"ya ampun, aku sudah melewatkan waktu sholat.


bathin tania.


" maaf pak, apa disini tak ada mushola? " tanya tania.


"mushola? apa kamu mau sholat?"


"iya pak, kalo harus menunggu sampai dirumah, maka akan terlalu malam pak. " jelas tania.


"baiklah, kalau begitu kamu ikut aku !" tania mengikuti langkah kaki bayu. mereka turun dari rooftop gedung hotel itu.


bayu dan tania sudah berada didepan pintu lift, bayu menekan tombol pintu lift, beberapa saat pintu itupun terbuka, bayu menarik tangan tania lembut untuk masuk kedalam lift, setelah berada didalam lift, bayu segera menekan tombol angka 18.


didalam lift tania sesekali melirik wajah bayu, dia merasa senang dengan kelembutan sikap bayu kepadanya, dan bayu masih belum melepaskan pegangan tangannya dari tania. tak berapa lama, lift pun berhenti tepat dilantai 18. bayu mengajak tania untuk masuk kedalam sebuah kamar hotel.


"ayo masuklah,"


"kenapa kita kesini pak, saya kan mau nyari mushola." tanya tania heran.

__ADS_1


"mushola terlalu jauh kebawah, kamu bisa sholat disini saja. " tania pun masuk, matanya terbelalak melihat betapa besarnya kamar hotel itu, bahkan lebih besar dari rumahnya. dia melihat sekelilingnya, furniture yang indah dan tersusun dengan sangat rapi, sehingga siapa saja yang melihatnya pasti akan takjub.



__ADS_2