
Tania masuk kedalam ruangan tempat ibunya dirawat. dan dia pun menghampiri ibunya dan duduk ditepi ranjang tempat ibunya terbaring lemah.
"bu, bagaimana keadaan ibu, ibu baik-baik sajakan bu?" tanya tania sambil memeluk ibunya dan tak sadar diapun menangis sambil memeluk ibunyatersebut.
" ibu tidak apa-apa nak, ibu hanya luka sedikit." jawab ibunya dengan lembut sambil kedua tangannya mengusap air mata tania.
"kenapa ibu bisa seperti ini bu, tadikan tania sudah bilang sama ibu supaya tidak pergi sendiri." tania memandang sendu wajah ibunya, betapa khawatir dan sedih dia melihat keadaan ibunya, karena tania tidak punya siapa-siapa lagi selain ibunya.
"tania, ibu tidak apa-apa nak.." kata ibunya menenangkan tania.
"apa ibu sudah makan?" tanya tania lembut sambil mengusap lembut kepala ibunya lalu mencium kening ibunya dengan penuh kasih sayang.
"sudah nak...tadi suster yang kasih " jawab ibunya.
"ya sudah kalau begitu ibu istirahat saja dulu, supaya ibu cepat sembuh dan bisa segera pulang kerumah. " kata tania sambil tersenyum.
"kamu kembali saja kerumah, istirahat nanti kamu
kelelahan, besok kan kamu harus masuk kuliah
kan..." suruh ibunya kepada tania.
ctidak bu, tania mau tidur disini saja nemanin ibu." tolak tania dengan lembut dan duduk dikursi samping ranjang ibunya sambil melipat kedua tangannya dan terus memandangi ibunya.
"ya sudah, ibu tidak mau memaksa kamu. " kata ibunya sambil mengusap rambut panjang anaknya itu dan tersenyum. dan tak lama mereka berdua pun terlelap.
★★★★★★★★★★★★
__ADS_1
ooeekk... oooeekk.
terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan operasi tersebut. pak hardinata, bu ana, dan bayu yang sedari tadi menuggu segera berdiri menghampiri dokter yang sudah keluar dari ruang operasi.
"gimana dwi dok. " tanya mereka serempak.
" maafkan kami tuan, kami sudah berusaha semampu kami, tapi Tuhan berkehendak lain."
"apa maksud anda dokter." kata bayu menatap tajam dokter itu sambil kedua tangannya memegang kerah baju dokter tersebut.
tatapan tajam dari mata bayu membuat dokter tersebut menundukkan kepalanya.
"ma af tu an, a dik an da su ...' kata dokter itu terbata - bata.
namun belum sempat dokter tersebut meneruskan kata-katanya bayu langsung melepaskan tangannya dari dokter itu dan terus berlari masuk kedalam ruang operasi dan diikuti dari belakang oleh papa dan mamanya.
Tak sanggup melihat pemandangan yang ada didepan matanya, tubuh bu ana langsungblemas, dan ia pun langsung pingsan dan tak
sadarkan diri untung langsung dipegang oleh pak hardinata, dan bu ana pun langsung dibawa oleh suster keruangan lain diikuti oleh pak hardinata suaminya.
Tinggallah bayu sendiri diruangan itu. bayu mendekati adiknya yang sudah tak bernyawabitu, lalu kedua tangannya membuka kain penutupbwajah dwi dan bayu pun langsung berteriak
histeris sambil memeluk tubuh adiknya itu.
"dwi..." suara bayu terisak menangis sambil memeluk dwi. dan dia memandangi, menyentuh, dan mencium pucat adiknya itu. wajah yang dulu selalu terlihat ceria, dan selalu membuat bayu tertawa dengan tingkahnya yang dimanja oleh bayu. selalu ingin
sekarang wajah itu sudah terlihat kaku, dan pucat.
__ADS_1
Histeris menatap adiknya yang kini sudah tak bernyawa lagi. tak lama kemudian datang suster rumah sakit membawa bayi laki-laki mungil yang sudah dibersihkan dan dia pun memberi
bayu. Dengan segera bayu menggendong bayi itu
dan langsung melantunkan azan ke telinga bayi itu
sambil menangis. dengan suara serak karena bayu pun mendekat
terbaring kaku sambil
"dwi, kakak berjanji dengan segenap jiwa merawat bayi ini" katanya lagi.
************
Setelah selesai acara pemakaman aldi dan dwi, semua yang mengantarpun kembali pulang kerumah mereka masing-masing.
mamanya dokter ibunya berjanji akan merawat anakmu, dan
akan menjaganya dan menyayangi jiwa ini.
"pa gimana keadaan mama." tanya bayu dengan wajah sendu.
"kondisi mamamu kata dokter sudah jauh lebih stabil' jawab sang ayah.
Selesai mengurus semuanya, bayu datang menjenguk ibunya. Bayu mendekati papanya dan duduk
disampingnya.
__ADS_1