Pembalasan Mantan Istri

Pembalasan Mantan Istri
Chapter 01


__ADS_3

"Papi,.....papi.....jangan tinggalin Vana." Isak tangis wanita berusia dua puluh lima tahun ini begitu pilu memeluk peti mati sang ayah tak rela saat hendak di masukan ke dalam liang lahat.


Darius, papi Vana bahkan satu-satunya keluarga yang Vana miliki sekarang telah meninggal dunia akibat kecelakaan mobil membuatnya harus meregang nyawa.


"Sudahlah Vana, jangan menangis lagi. Biarkan papi mu tenang," ucap Mira menenangkan Vana. Mira adalah teman almarhum mami Vana.


"Vana sendiri tante. Vana sebatang kara sekarang!" Wanita ini masih terisak. "Kenapa papi tega meninggalkan Vana sendirian?"


"Van,.....ada aku!" Ujar Arya. Pria ini mencoba menenangkan Vana, menarik wanita ini ke dalam pelukannya.


Rela tak rela Vana harus menerima dengan lapang dada saat tanah mulai menutupi peti mati Darius. Setelah beberapa saat, gundukan tanah basah bertabur bunga terpampang di depan mata Vana.


"Papi,......!!" Lirih Vana yang masih terisak. "Papi yang tenang ya di atas sana!"


"Vana,.....sudahlah, jangan menangis lagi. Biarkan papi mu tenang di atas sana. Masih ada tante dan Arya," ucap Mira menenangkan.


"Sebaiknya kita pulang, sudah sore!" Ajak Arya yang sebenarnya tak betah berlama-lama di pemakaman.


Mau tidak mau Vana ikut pulang bersama Mira dan Arya. Tidak, bukan kembali pulang ke rumah mewahnya melainkan pulang ke rumah Arya karena rumah mewah milik Vana sudah di sita oleh penagih hutang.


"Aku gak tahu lagi harus berbuat apa, uang tidak punya bahkan tempat tinggal pun tidak ada." Vana kembali menangis mengingat nasib dirinya.


Kecelakaan Darius satu minggu yang lalu bahkan jasadnya baru di temukan satu hari yang lalu membuat Vana tidak bisa melihat wajah terakhir sang ayah.


Mira melirik Arya, seolah mengisyaratkan sesuatu.


"Dua hari lagi kau dan Arya akan segera menikah. Jangan sedih Vana, kau tidak akan sendirian. Kau akan punya tante dan Arya sekarang." Ucap Mira.


Vana menatap pria yang saat ini sedang duduk di hadapannya.


"Kau serius menikahi ku mas?" Tanyanya dengan suara pelan.


"Mas serius menikahi kamu Vana."


"Tapi keluarga ku sudah bangkrut sekarang!"


"Mas mencintai kamu apa adanya, bukan karena harta. Percayalah!"


Vana tersenyum tipis, wanita ini kemudian di tuntun oleh Mira pergi ke kamar tamu untuk beristirahat.


Dua hari kemudian, pernikahan sederhana antara Vana dan Arya di laksanakan di sebuah gereja tanpa resepsi. Vana yang masih berduka tentu saja tidak menginginkan pesta mewah apa lagi sekarang keluarganya sudah bangkrut.


"Kalian sudah sah menjadi suami istri. Vana, jangan panggil tante lagi ya. Panggil aja mamah!" Ujar Mira.


"Iya mah. Terimakasih sudah menganggap aku bagian dari keluarga ini. Sekarang aku tidak sendirian lagi."


"Ayo ke kamar!" Ajak Arya.

__ADS_1


Vana yang semula tidur di kamar tamu sekarang pindah ke kamar Arya. Mira mengekor di belakang, ia hanya ingin memastikan jika Vana dan Arya baik-baik saja.


"Kalau begitu mamah pulang dulu ya," pamit Mira.


"Loh, mamah gak tinggal di sini?" Tanya Vana heran.


Mira tersenyum lalu memjawab pertanyaan dari menantunya.


"Tidak. Rumah mamah berada dua komplek dari sini. Ini rumah Arya, rumah pribadi yang akan ia tempati jika sudah menikah."


"Benar begitu mas?" Tanya Vana yang merasa tersanjung.


"Iya sayang. Mamah benar!" Jawab Arya.


Mira pun akhirnya pulang, tinggallah Vana dan Arya sekarang.


"Sayang, mas mau pergi sebentar!" Izin Arya.


"Mau kemana mas?" Tanya Vana penasaran.


"Entah kenapa ada pekerjaan mendadak di kantor padahal ini sudah sore. Mas takutnya darurat."


"Oh, iya mas. Pergilah!"


"Kamu istirahat ya. Nanti kalau pulang mas bawain makanan deh!"


Vana tersenyum lalu berkata. "Terimakasih mas!"


Pukul tujuh malam barulah Arya pulang, pria ini melihat Vana yang sudah tidur karena kelelahan.


"Sayang bangun." Arya mengusap wajah istrinya.


"Mas,....kau sudah pulang?"


"Maafin mas ya kalau pulangnya lama!"


"Gak apa-apa kok mas. Aku mengerti."


"Ini mas bawain makanan. Kamu pasti laper, ayo makan!"


Arya dan Vana keluar dari kamar menuju ruang makan. Arya menyiapkan makan malam untuk istrinya.


"Kok belinya cuma satu mas?" Tanya Vana heran.


"Mas sudah makan tadi, jadi mas beli satu. Gak apa-apakan kalau kamu makan sendirian?"


"Tidak apa-apa mas!" Jawab Vana dengan senyum lebarnya.

__ADS_1


"Van, boleh mas bertanya sesuatu?"


"Boleh mas. Katakan apa?" Vana balik bertanya.


"Seriusan keluarga kamu bangkrut?" Tanya Arya yang masih tidak percaya.


"Saat papi di nyatakan hilang, satu persatu orang datang mengaku jika papi memiliki hutang pada mereka. Alhasil pak Danu, sekretaris pribadi papi menjual semua aset papi. Tapi, kata pak Danu ada beberapa orang yang memiliki hutang pada papi. Tapi sayang,.....!!" Vana tidak meneruskan ucapannya.


"Tapi apa?" Tanya Arya serius.


"Data dari beberapa peminjam itu hilang. Pak Danu sedang berusaha mencarinya." Jawab Vana membuat Arya sedikit terkejut.


Huft,.......


Arya menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan.


"Sudahlah, jangan di pikirkan. Cepat makan dan lanjutkan tidur mu!"


"Oh ya mas, maafin aku yang gak bisa malam pertama ya. Aku masih sedih atas kepergian papi."


"Mas mengerti, kita bisa melakukannya di malam selanjutnya!"


Vana tersenyum mendengar ucapan Arya. Selesai makan mereka kembali ke kamar. Vana kembali melanjutkan tidurnya sedangkan Arya sibuk dengan ponselnya.


Malam telah berganti pagi, Vana bukanlah anak manja yang tidak bisa melakukan apa-apa. Wanita bisa memasak, jadi pagi ini ia menyiapkan sarapan.


"Kau memasak?" Tanya Arya heran.


"Ya, aku memasak. Makanlah mas," tawar Vana.


Arya melirik jam yang melingkar di tangannya.


"Mas sudah kesiangan, mas harus berangkat ke kantor." Ucap Arya beralasan.


"Oh, iya. Sudah pukul tujuh pagi." Kata Vana membenarkan."


"Van, maafin mas ya." Ucap Arya.


"Maaf untuk apa ma?" Tanya Vana.


"Pernikahan kita tidak begitu mewah bahkan di hari pertama pernikahan mas malah sibuk mengurus pekerjaan dan sekarang harus berangkat bekerja juga."


"Aku mengerti mas, sungguh aku sangat mengerti. Jika kamu tidak pergi bekerja nanti akan kacau."


"Terimakasih sudah mengerti mas Van. Kalau begitu mas pergi dulu!" Pamit Arya.


Vana mengantar suaminya sampai depan gerbang rumah. Setelah mobil Arya menjauh, Vana langsung masuk ke dalam rumah. Wanita ini duduk di meja makan, memandang nasi goreng yang ia masak tadi.

__ADS_1


"Hari ini kau boleh menyia-nyiakan makanan Arya. Tapi, lihat saja nanti. Makanan yang akan menyia-nyiakan mu," ucap Vana dengan sorot mata tajam.


Vana mengambil ponselnya kemudian menghubungi seseorang. Entah apa yang akan di lakukan wanita ini, ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan.


__ADS_2