
PLAKK !!
Tamparan kembali mendarat dari tangan Pram pada pipi mulus adiknya.
"Kak!" pekik Sisy seraya memegang pipinya yang panas terkena tamparan sang kakak.
"Memalukan! Kamu sudah gila apa, Si ! Karena kelakuan kamu itu, kantor rugi hampir 100 Milyar. Saham anjlok, acara launching produk berantakan dan Pak Johan menuntut ganti rugi pada kamu dan juga kakak atas kekacauan acara malam ini. Besok temui Pak Johan dan segera minta maaf. Jika perlu kamu harus berlutut, maka berlututlah. Sekarang kita pulang!" bentak Pram di sudut area hotel yang tampak sepi.
Anita sendiri usai membereskan acara, dia bergegas langsung kembali ke apartemen. Dia tak mau gara-gara ulah adik iparnya tersebut berbuntut pada karirnya di PT. GINCU.
Pram pun menyeret paksa adiknya untuk masuk ke dalam mobil dan tancap gas meninggalkan hotel.
Sedangkan sepasang suami istri yang baru saja tiba di kediamannya, terus memancarkan senyum bahagia atas langkah permulaan big project pembalasan pada orang-orang di masa lalu yang sudah membuatnya terpuruk sedemikan rupa.
"Terima kasih, Mas. Atas pertunjukkan spektakulermu malam ini telah sukses dan mereka sudah kalang kabut tidak jelas. Dasar keluarga memalukan!" umpat Rara yang berjalan menuju kamarnya bersama sang suami.
"Istirahatlah, Ra. Besok kita ada jadwal kunjungan ke PT. GINCU. Persiapkan dirimu sebaik mungkin di hadapan mereka," ucap David.
"Oke, Mas. Selamat istirahat juga," ucap Rara yang memasuki kamarnya.
Selepas pintu kamar Rara tertutup, David masih setia berdiri di depan pintu kamar Rara.
"Good Nite, Raraku." David pun lalu masuk ke dalam kamarnya sendiri yang ada di sebelah kamar Rara.
David dan Rara tidur malam ini dengan mimpi indah dan nyaman. Istana mereka tampak damai malam ini. Berbeda dengan rumah mantan suaminya yang berubah menjadi kapal pecah.
Mama Dian membuang semua makanan yang ada di ruang tamu hingga beberapa piring pecah dan berantakan di mana-mana. Ia meluapkan kekesalannya atas kelakuan putri bungsunya yang membuat malu keluarga.
__ADS_1
☘️☘️
Ketika Sisy pulang ke rumah, baru saja menginjakkan kakinya masuk ke ruang tamu, tamparan di pipi mulusnya kembali terjadi. Kali ini dirinya mendapat stempel cap lima jari dari ibu kandungnya sendiri yakni Mama Dian.
"Berani kamu tunjukkan muka di depan Mama. Dasar anak bodoh! Memalukan. Siapa lelaki muda yang bertengkar denganmu di video?" pekik Mama Dian bertanya seraya berkacak pinggang dengan mata melotot tajam pada putri bungsunya ini.
Sisy hanya mampu merremas jari jemarinya. Tanda bahwa ia dilanda kegugupan dan bingung untuk mengatakan sesuatu pada keluarganya terutama pada sang Mama.
"Cepat katakan, Sisy! Siapa dia? Apa kamu bisu, hah !!" teriak Mama Dian.
"Dia Rio, mantan pacarku Mah. Dia enggak terima aku putusin jadi dia ketemu aku, minta balikan tapi aku enggak mau," ucap Sisy terpaksa berbohong. Dirinya tak mau jadi bulan-bulanan amukan Mama dan kakaknya kembali kalau sampai tahu fakta sesungguhnya Rio menemuinya hanya untuk menagih hutang tiga puluh juta.
"Bukankah dia anak orang kaya yang bapaknya pengusaha toko bahan bangunan di Depok yang cukup terkenal itu. Kamu kan pernah kenalin ke Mama. Kenapa kamu putus sama dia?" cecar Mama Dian.
"Dia playboy, Mah. Sisy gak suka. Lebih baik Sisy putus saja sama dia. Lagipula Sisy sudah punya pacar baru yang jauh lebih kaya daripada dia," ucap Sisy dengan rasa pongahnya.
"Nanti Sisy kenalin. Sekarang masih baru pacaran. Sabar dulu Mah," jawab Sisy.
"Ya sudah, kamu enggak ada masalah lain kan dengan si Rio itu? Kalian sudah beneran putus baik-baik kan? Mama enggak mau ada masalah lagi ke depan yang mencoreng nama baik keluarga kita," tutur Mama Dian.
"Iya, Mah. Tenang saja pokoknya Mama terima beres saja," jawab Sisy meyakinkan.
☘️☘️
Sedangkan selepas Pram mengantarkan Sisy pulang, ia langsung kembali ke apartemennya. Kepalanya tengah pusing karena ulah sang adik. Ia berharap menghilangkan kepenatan dengan bermesraan dengan Anita, istri sirinya.
Setibanya di apartemen, Pram mencoba membuka pintu kamarnya yang biasa ia gunakan tidur bersama Anita. Namun tak bisa dibuka.
__ADS_1
Tok...tok...tok...
"Nit, buka pintunya. Aku enggak bisa masuk," ucap Pram seraya menggedor pintu.
Beberapa kali Pram mencoba menggedor pintu kamarnya kembali, tetapi Anita tetap tak kunjung membukanya. Menyahutinya pun tidak.
"Nit, kamu dengar aku enggak sih!" geram Pram dengan nada sudah naik beberapa oktaf.
"Sial !!" umpat Pram karena Anita tak kunjung membukakan pintu hingga sepuluh menit dirinya menggedor pintu dengan suara cukup keras.
Alhasil malam ini pun Pram tidur di sofa ruang tamu mereka. Sebab apartemen tersebut hanya memiliki dua kamar. Satu kamar utama dan satu kamar ukuran mini yang digunakannya sebagai gudang penyimpanan barang.
Anita sengaja mengunci pintu kamar dan tidak membukakan untuk Pram. Bahkan ia sudah tertidur pulas dengan menyalakan musik di telinganya memakai headset. Otomatis teriakan Pram sama sekali tak mengganggu tidurnya.
Niat hati ingin bermesraan dengan istrinya di apartemen, justru malah buntung alias kesialan yang bertubi-tubi malam ini ia dapatkan. Membuat kepala atas bawah miliknya pusing tujuh keliling.
Dengan terpaksa ia bermain solo karir di kamar mandi luar yang ada di dekat dapur. Sebab gelora tak dapat dibendung lagi. Sudah satu minggu ini ia tak menyatu dengan Anita. Sehingga apa yang harus dikeluarkan menjadi tidak keluar alias masih menumpuk di tempatnya.
Istri sirinya itu beralasan sedang datang bulan jadi tak bisa diajak untuk melakukan hubungan percintaan rutin mereka yang hampir setiap hari keduanya lakukan jika tidak berhalangan.
"Eughh... Rara. Ohh, Rara..."
Suara indah yang Pram keluarkan malam ini tampak berbeda. Seiring bibitnya yang sangat banyak, tumpah keluar membasahi lantai kamar mandi yang dingin. Perasan lega tengah menggelayutinya.
Bukan membayangkan istrinya yang sekarang dalam imajinasinya melakukan solo karir, namun justru ia membayangkan mantan istri yang pernah disakitinya. Sungguh ironi.
🍁🍁🍁
__ADS_1