
Akhirnya setelah semalam Pram memikirkan ide Anita untuk menggadaikan rumah ibunya, Pram pun dengan terpaksa melakukan hal tersebut secara diam-diam. Sebagai anak, ia tahu tempat sang ibu menyimpan segala dokumen penting.
Dirinya tak punya pilihan lain. Sebab pengacara David hanya memberi batas waktu pelunasan hingga satu minggu saja. Untuk jumlah sebesar itu, dirinya dan Anita pun tak bisa meminjam dana perusahaan. Apalagi perusahaan tempat mereka bekerja tengah mengalami penurunan pendapatan yang cukup tajam.
Ketika Mama Dian pergi berbelanja ke supermarket, dirinya pun bergegas masuk ke rumah yang sedang tak berpenghuni. Sebab sang adik, Sisy, entah pergi ke mana. Sejak pertengkaran tempo lalu, dirinya jarang bertemu maupun berkomunikasi dengan sang adik.
Sertifikat rumah ibunya sudah berada di tangannya. Anita yang menunggu di mobil pun tampak tersenyum bahagia melihat masalah mereka akhirnya bisa mendapatkan jalan keluar.
"Dapat, Mas?" tanya Anita saat Pram masuk ke dalam mobil membawa sebuah map ukuran besar.
"Sudah, ini." Pram pun menyodorkan sertifikat rumah sang ibu pada Anita.
"Ya sudah, ayo kita langsung ke bank. Takutnya keburu siang nanti antri panjang. Cuti kita hari ini harus berjalan lancar. Apalagi setelah dari bank, aku harus melakukan kegiatan sosial sesuai kesepakatan, huft!" ucap Anita.
"Ini semua karena keteledoranmu. Kalau saja kamu jadi penanggung jawab yang mumpuni dalam bekerja, pasti semua baik-baik saja dan tak perlu ada masalah pelik seperti ini. Aku sekarang berasa seperti anak durhaka pada ibu kandungnya sendiri. Bagaimana nanti kalau Mama sampai tahu rumah peninggalan almarhum Papa, aku gadaikan tanpa izin? Fiuhh..." keluh Pram.
"Sudahlah, Mas. Jangan memulai pertengkaran lagi. Semoga kita mampu menyelesaikan segala cicilan rumah Mama dan sertifikat ini nantinya segera kembali ke tangan kamu lagi. Dan Mama enggak perlu tahu sama sekali. Jadi semua tetap baik-baik saja seperti sediakala pastinya," ucap Anita meyakinkan Pram.
Sebuah helaan nafas kasar menyergapnya. Antara bimbang ingin melanjutkan rencana Anita atau tidak. Tak ada pilihan lain dan pada akhirnya keduanya pergi ke bank guna menggadaikan sertifikat rumah Mama Dian.
__ADS_1
Setelah tiga hari pengajuan pinjaman, akhirnya pihak bank menyetujui dan sudah menyetorkan dana sebesar dua milyar rupiah tersebut pada rekening Pram. Kemudian dana tersebut telah berhasil di transfer Pram ke rekening pribadi Clara Barnett.
"Mas, ke sini dan lihatlah. Mereka berhasil masuk perangkap kita," teriak Rara memanggil David. Keduanya masih berada di kamar inap Rara karena besok baru diperbolehkan pulang oleh dokter.
David yang tengah berada di kamar mandi pun terkejut mendengar teriakan sang istri yang belum jelas kenapa memanggilnya. Akhirnya ia pun terburu-buru menyelesaikan urusan buang air kecilnya dan bergegas keluar. Khawatir sang istri kenapa-napa. Karena di kamar hanya ada mereka berdua saja. Leon tengah ia suruh untuk membelikan makanan.
Brakk...
Bunyi pintu kamar mandi dibuka secara kasar oleh David. Otomatis membuat Rara terkejut. Beruntung ponsel yang dipegang Rara tidak jatuh.
"Kamu kenapa, Ra? Apa ada yang sakit, hem?" tanya David yang terlihat sangat cemas menatap Rara di atas brankar rumah sakit.
Alhasil dirinya langsung tidur menyamping, membelakangi sang suami. Bahkan tangan Rara menutup wajahnya sendiri. Otomatis tingkah Rara tersebut memicu David berpikiran pada hal yang negatif.
"Ra, kamu kenapa? Kamu marah ya, aku lama di kamar mandi? Maaf, aku telat dengar suara teriakan kamu. Apa aku panggil dokter buat periksa kamu? Yang sakit bagian mana, Ra?" tanya David bertubi-tubi penuh perhatian dengan nada suara yang terdengar sendu.
Sebab bagi David ia tak mau Rara mengalami ini semua. Sehingga sakit sedikit saja di tubuh Rara seakan dirinya yang dihujam belati tajam ke jantungnya.
Rara yang mendengar cicitan David, semakin membuatnya tertawa kecil hingga terdengar oleh suaminya itu.
__ADS_1
"Kok ketawa sih, Ra." David sudah memasang mode setengah merajuk. Sebab Rara menertawakannya. Padahal dia tengah serius dan cemas dengan kondisi sang istri. Semua karena dirinya sangat mencintai Rara.
"Ehm, Mas. Segera tutup itunya. Malu kalau sampai dilihat orang. Apa gak kedinginan?" cicit Rara dengan posisi masih membelakangi David.
"Hah, maksudnya Ra? Apa yang ditutup? Terus yang kedinginan siapa? Apa kamu yang kedinginan? Pendingin ruangannya aku atur dulu ya biar kamu enggak kedinginan."
David pun belum bisa mencerna maksud ucapan Rara. Yang ia pikir karena suhu pendingin ruangan (AC) yang terlalu dingin bagi Rara padahal bukan karena hal itu.
"Pistolmu Mas yang di bawah itu. Belum kamu tutup resletingnya," cicit Rara lirih dan tersipu malu.
"Astaga !! Ma_af Ra," ucap David terkejut sekaligus terbata-bata malu, mendengar penuturan Rara barusan.
Secara refleks ia pun ikut memunggungi Rara dan langsung menutup resletingnya. Dan sebelum menutupnya, ia sempat memarahi dengan memukul pelan pistolnya yang nakal.
"Dasar nakal !! Bikin kaget Princessku saja. Sabar ya, Bro. Belum waktunya," batin David seraya terkekeh melihat senjata masa depannya yang masih orisinil tiba-tiba membuat mata suci sang istri tercemar.
Maklum buatan blasteran bukan barang lokal seperti milik mantan suami Rara. Beruntung sedang tertidur pulas. Karena jika sudah bangun, sang empunya pasti kebingungan sekaligus kelabakan untuk menidurkannya kembali. Sebab berada di dekat Rara selalu membuat gejolaknya sering terbangun dengan sendirinya. You know what I mean.
🍁🍁🍁
__ADS_1