
"Eh, sayang. Sudah selesai bincang-bincangnya?" tanya David tak menjawab pertanyaan dari sang istri sebelumnya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Sayang siapa tadi di telepon?" tanya Rara yang mendadak jadi mode galak dan penuh waspada. Pengalaman pahit rumah tangga sebelumnya bersama Pram tak mudah ia lupakan. Terutama tentang hal perselingkuhan. Dia tak mau terjadi hal yang sama dengan pernikahannya bersama David.
"Sayangku ya dari dulu kan cuma kamu Ra, wanita yang aku cintai. Begitu saja kok masih ditanyakan," jawab David seraya terkekeh dan mencubit dagu sang istri.
Rara pun langsung merajuk dan berbalik badan meninggalkan tempat acara.
Tap...tap...tap...
Langkah kakinya berjalan cepat menuju lift. David pun tak pantang menyerah dengan mengejar sang istri.
"Sayang... jangan ngambek dong. Nanti aku kurung di kamar loh sama si turbo kalau masih ngambek," teriak David.
"Bo do amat. Tau ah, aku sebel sama kamu Mas. Sebel pokoknya. Jauh-jauh dari aku!" ucap Rara ketus.
"Aku ngerasa akhir-akhir ini kok kamu lebih jutek sama aku sih yank. Nanti kalau kamu ngambek, nasibnya si turbo gimana dong?" cicit David sengaja menggoda sang istri yang akhir-akhir ini lagi seneng bermain komedi putar sama si turbo unlimited miliknya setiap malam.
"Sembelih saja turbonya. Beres kan?" cicit Rara.
"Waduh! Itu aset masa depan untuk kelangsungan hidupmu loh yank," cicit David seraya terkekeh.
Hap...
Akhirnya ia bisa memeluk sang istri. David pun memeluknya dari belakang lalu menciumnya bertubi-tubi.
"Udah, Mas. Geli tahu," ucap Rara kegelian seraya tertawa.
"Biarin. Lebih baik kamu ketawa karena geli daripada ngambek gak ketulungan yang mengancam kelangsungan hidup si turbo. Lebih berbahaya," ucap David seraya tertawa kecil.
☘️☘️
Satu bulan kemudian.
Hari ini tepat ulang tahun Rara yang ke-35 tahun. Keduanya saat ini berada di Bandara Soekarno Hatta.
__ADS_1
"Kamu katanya mau kasih aku kado ulang tahun, Mas. Kok kita malah ke bandara? Kalau pergi honeymoon kok kita bukan ke terminal keberangkatan justru malah menunggu di terminal kedatangan. Memangnya siapa yang mau datang, Mas?" tanya Rara bingung.
"Kadonya sudah tiba. Lagi jalan ke sini. Semoga kamu suka," bisik mesra David seraya memeluk Rara.
"Hah," respon Rara yang masih bingung.
Selang beberapa menit tiba-tiba dari kejauhan ada yang memanggil keduanya.
"Mommy... Daddy..." panggil seorang bocah laki-laki lucu dan menggemaskan tengah berlarian riang gembira membawa sebuket bunga mawar merah kesukaan sang mommy. Di sekitar bocah tersebut ada dua orang wanita memakai baju suster dan lima orang laki-laki dewasa berbadan tegap seperti bodyguard.
Deg...
Mata Rara kini terfokus pada sosok bocah laki-laki yang ia perkirakan berusia empat tahun berlari menuju ke arahnya. Dan seketika pendengarannya mendadak terkejut saat suara bocah kecil tersebut keluar dan memanggilnya "Mommy".
Semakin dekat bocah lelaki itu padanya, hatinya semakin terenyuh. Matanya tiba-tiba memanas. Karena wajah bocah itu duplikat dirinya dengan mantan suaminya, Pram. Struktur wajahnya dominan sangat mirip dengan Pram. Sedangkan bentuk hidung dan matanya mirip sekali dengan dirinya.
"Mas," panggil Rara lirih.
"Dia putramu yang hebat, mommy. Dia sudah berjuang selama sekian tahun terakhir ini di Amerika agar bisa berjalan dan berlari menghampiri mommynya yang hebat ini. Maafkan daddy jika tak memberitahu mommy sebelumnya. Semua demi kesehatan dirinya untuk bisa menyapamu saat ini," bisik David penuh cinta di telinga Rara.
Ya, David memang sengaja menyembunyikan anak kandung Rara dan Pram. Dikarenakan usai dilahirkan dalam kondisi Rara yang masih koma, dokter dari Singapura mendeteksi tulang kaki bayi Rara terlihat rapuh.
Ditemani oleh orang kepercayaan David di sana sekaligus pengasuh profesional yang khusus merawat bayi Rara. Dan setiap saat selalu David kontrol dari jauh perkembangan bayi tersebut yang akhirnya sembuh total menjadi bocah lelaki yang tampan dan berjalan normal layaknya bocah lainnya.
"Love you Dad, forever and ever." Rara pun mencium pipi suaminya sekilas.
"Love you too, Mom." David pun membalas mencium pipi istrinya.
Saat bocah lelaki itu sudah di depan orang tuanya, seketika ia berkacak pinggang dan bibirnya mengerucut.
"Mom. Kok malah daddy yang ditium. Seharusnya kan aku. Daddy enggak kasih kado buat Mom. Kalau aku kan bawa unga ini untuk mommy. Daddy jangan tium-tium mommy. Wajib aku duluan yang tium mommy baru daddy. Harus antlii ," ucap bocah laki-laki yang bernama lengkap Arthur Ravasya Barnett dengan bahasa khas anak kecil yang masih cadel.
"Haha..." tawa David dan Rara kompak seraya tersenyum bahagia melihat tingkah lucu buah hatinya.
☘️☘️
__ADS_1
Satu tahun kemudian.
Penjara.
"Pram, ada tamu. Waktu kunjunganmu hanya setengah jam. Silahkan keluar," panggil sipir pada Pram.
"Hah, siapa Pak?" tanya Pram terdengar lirih. Pram yang saat ini berwajah pucat sebab sudah beberapa bulan ini dirinya dilanda sakit yang tak ia duga. Penyakit mematikan yang menggerogotinya datang saat dirinya berada di balik jeruji besi. Dirinya divonis terkena H I V stadium tiga.
Sudah tak ada Pram yang tampan dan gagah. Hanya tersisa lelaki bertubuh kurus kering dengan kantung mata hitam terlihat sayu dan tak terawat. Menunggu ajal yang siap menjemputnya kapan saja.
"Perempuan cantik. Temui saja. Dia tak menyebutkan nama," ucap sipir.
Akhirnya Pram pun keluar dengan didorong oleh petugas menggunakan kursi roda. Dan saat berada di ruang khusus kunjungan tahanan yang terhalang kaca, dia terkejut bukan main melihat Clara datang mengunjunginya.
"Nyonya Clara," panggil Pram lirih saat sudah berhadapan dengan Rara.
"Apa kabar Mas Pram?" tanya Rara.
Deg...
"Mas," cicit Pram antara bingung dan heran kenapa Clara memanggilnya Mas.
"Aku bukan Clara. Aku Rara. Wanita yang kau ceraikan lima tahun yang lalu di rumah ibumu saat aku mengandung darah dagingmu hingga aku mengalami pendarahan hebat. Kau gadaikan rumah peninggalan orang tuaku tanpa izinku. Ibumu tega menyiramku dengan air panas hingga wajahku melepuh. Bahkan adikmu Sisy juga yang telah tega menfitnahku begitu kejam hingga kamu tak mengakui benih yang aku kandung saat itu. Dan kamu lebih memilih Anita, mantan sahabatku yang tega merusak kebahagiaan rumah tangga kita. Apa kamu masih ingat?"
"Rara..."
"Maafkan aku Ra. Aku mohon maafkan aku," ucap Pram dengan berderai air mata seraya berlutut di hadapan Rara, mantan istrinya yang kini berubah jauh lebih cantik dan terlihat sangat berkelas. Dari dandanan Rara jelas tampak bahwa semua yang digunakan dari ujung rambut hingga ujung kaki barang yang mewah dan bernilai tinggi.
"Berdirilah, Mas. Aku sudah memaafkanmu. Aku ke sini hanya ingin memulai hidup baru yang tenang bersama suamiku Mas David, tanpa dendam dan tanpa rasa sakit hati atas apa yang terjadi di masa lalu antara aku dan kamu. Aku sengaja datang ke sini ingin mengenalkanmu dengan seseorang," ucap Rara.
"Siapa, Ra?" tanya Pram terdengar sendu.
Bersambung...
🍁🍁🍁
__ADS_1
Note :
Karena chapter ini sudah 1100 kata lebih, agar ending kisah lebih mengharu biru kebahagian DaRa ( David Rara ) menjadi lengkap sempurna maka othor buat satu chapter lagi penutup kisah mereka untuk memenuhi senyum Sobat Safira yang keren dan unyu-unyu💋