Pembalasan Mantan Istri

Pembalasan Mantan Istri
Chapter 04


__ADS_3

"Aku dan mas Arya belum pernah melakukan apa pun mah. Aku merasa bersalah sekali," ucap Vana seraya memasang wajah sedihnya.


"Kenapa?" Tanya Mira.


"Aku terlalu subur, jika datang bulan itu biasanya lama, sampai tiga minggu bahkan sebulan dua kali."


"Oh, gak apa-apa. Arya harus bersabar, namanya juga perempuan. Wajar aja!"


"Tapi mah, tetap aja aku merasa bersalah pada mas Arya."


"Udah, nanti biar mamah yang akan memberi pengertian pada suamimu."


"Terimakasih ya mah," ucap Vana. "Di depan ku mertuaku ini layaknya malaikat. Tapi, di belakang ku tak lebih dari iblis!" Ucap Vana di dalam hatinya.


Vana dan Mira makan bersama dengan saling mengobrol. Selesai makan, Mira langsung bergegas pulang karena masih ada pekerjaan di rumah. Begitu alasannya. Sedangkan Vana masih harus membereskan bekas masak dan beberapa piring kotor. Selesai beberes, Vana langsung pergi ke kamar menyusul suaminya.


Arya tidur tanpa mengenakan pakaian hingga membuat dada bidang pria ini terlihat begitu menggoda. Namun, ada satu titik yang membuat Vana tertarik untuk bertanya pada suaminya.


"Mas, kenapa dada mu merah?" Tanya Vana yang sengaja karena wanita ini tahu jika sang suami hanya pura-pura tidur.


"Ah, mana?" Tanya Arya saat membuka matanya.


"Itu....!" Tunjuk Vana ke arah dada atas


"Ah, mana?"


"Coba bercermin mas!"


Bergegas Arya turun dari ranjang lalu bercermin.


"Oh, ini....pas mas mabuk, mas gak sengaja terpeleset di kamar mandi dan menghantam pinggiran closed." Jelas Arya tentu saja berbohong.


"Ah, masa? Ini seperti bekas kecupan seorang wanita!"


"Wanita mana?" Suara Arya meninggi. "Kamu jangan main fitnah!"


"Aku gak fitnah mas!"


"Tapi kata-kata mu itu sama aja kamu memfitnah suami mu sendiri."


"Wajar dong aku curiga, kamu gak pulang semalam. Aku cemburu mas!" Ucap Vana dengan setetes air mata.


"Sayang,.....!" Arya melemah. "Mas gak bermaksud bentak kamu. Serius, ini hanya bekas jatuh."


"Aku hanya cemburu, apa itu salah?"


"Enggak, kamu gak salah. Makasih sudah cemburu sama mas."


Arya menarik Vana ke dalam pelukannya.


"Mas minta maaf," ucap Arya.


"Mas, aku hari ini tidak datang bulan. Bagaimana jika kita bercinta sekarang!" Ajak Vana membuat Arya semakin panik dan gugup.

__ADS_1


"Sayang, mas capek dan ngantuk. Nanti malam aja ya...!" Tolak Arya dengan alasannya.


"Tapi mas, aku mau punya anak. Aku kesepian di rumah."


"Mas mengerti, tapi mas capek banget. Mana bisa main capek-capek begini, gak akan jadi."


"Ah, masa sih mas?"


"Iya sayang, percaya sama mas!"


"Aku pengen punya anak loh mas!"


"Mas mengerti, tapi sekarang mas capek."


"Tapi mas, sejak hari pertama kita menikah sampai sekarang kita belum melakukan apa pun. Aku merasa bersalah pada mu."


"Jangan bicara seperti itu. Mas mengerti banget dengan keadaan kamu."


"Kalau seperti ini caranya, kapan kita akan punya anak?"


"Sabar sayang," ucap Arya menenangkan. "Jangankan punya anak, menyentuh seperti ini saja rasanya jijik dan najis." Ucap Arya di dalam hati.


Aku sedih loh mas," ucap Vana.


"Jangan sedih, ada baiknya kamu temani mas tidur. Mas ngantuk berat nih."


"Iya deh....!!"


Di depan Arya, Vana berlagak seperti perempuan polos dan mudah di bodohi. Rasanya muak juga jika harus berpura-pura seperti ini, Vana sudah geram pada suaminya sendiri.


Sore ini Arya di kejutkan dengan telpon dari sang mamah yang memintanya untuk datang. Arya yang penasaran tentu saja ingin secepatnya bertemu dengan sang mamah.


"Mas, mamah kenapa?" Tanya Arya.


"Mas juga gak tahu. Mungkin darah tingginya kumat lagi." Jawab Arya sembarangan.


"Aku ikut ya mas?"


"Gak usah. Kamu di rumah aja,"


"Tapi mas?"


"Udah, nurut sama mas. Nanti, kalau ada apa-apa mas kabarin kamu."


"Bener ya mas?"


"Iya.....!"


Arya bergegas pergi, jarak rumah yang tidak begitu jauh hanya membutuhkan waktu sepuluh menit perjalanan saja.


Tak berapa lama Arya sampai di rumah mamahnya. Pria ini langsung mencari sang mamah karena ia begitu penasaran apa yang akan di sampaikan oleh Mira.


"Mah, ada apa?" Tanya Arya yang menemui mamahnya di ruang keluarga.

__ADS_1


"Arya, hari ini kamu bisa menceraikan Vana." Ucap Mira membuat Arya terkejut.


"Loh, kenapa mah?"


"Karena mamah sudah mendapatkan berkas hutang piutang kita."


"Mamah dapat dari mana?" Tanya Arya tidak percaya.


"Ternyata berkas itu sengaja di simpan di dalam brankas yang berada di ruang bawah tanah rumah Vana."


"Bagaimana bisa mamah menemukannya?"


"Mamah membayar mantan pembantu Vana untuk masuk menyelinap ke dalam rumah yang sekarang kosong itu. Lihatlah, hanya dalam waktu satu bulan kita bisa mendapatkannya."


"Itu artinya sekarang Vana tidak akan bisa menuntut kita masalah hutang dan aku bisa menceraikan dia lalu menikah dengan Sarah?"


"Tentu saja sayang!" Seru Mira.


"Semudah itu kah?" Tanya Arya tidak percaya.


"Anggap saja pernikahan mu dan Vana untuk mengulur waktu. Sekarang juga kita tendang dia keluar!"


"Aku sudah tidak sabar untuk menceraikan Vana!"


"Mamah juga tidak sabar untuk mengusir perempuan ini. Sebab keluarga dia papah meninggal dunia."


Ibu dan Anak ini pun kembali pulang ke rumah Arya. Vana langsung bergegas keluar saat mendengar bunyi mesin mobil suaminya.


"Mah, mamah gak baik-baik aja kan?" Tanya Vana khawatir.


"Jangan sentuh aku!" Ucap Mira dengan suara lantang seraya menepis tangan Vana yang hendak menyentuhnya.


"Mamah kenapa?" Tanya Vana heran.


"Heh Vana, hari ini aku akan menceraikan kamu. Mulai sekarang kau bukan istri ku lagi." Ucap Arya dengan tawa sinisnya.


"Apa maksudnya ini mas? Kenapa kau menceraikan ku?"


"Karena aku tidak mencintaimu!" Jawab Arya tegas. "Selama ini aku terpaksa menikahi mu, aku lelah berpura-pura menjadi suami yang baik dan pengertian pada mu selama ini."


"Tapi, beri aku alasannya mas?"


"Ah,....sudahlah.Sekarang juga kemasi pakaian mu dan pergi....!" Usir Mira.


"Mah, bukankah kalian sudah janji pada ku untuk selalu ada untukku. Jika Mas Arya menceraikan ku, aku akan sebatang kara."


"Kami tidak peduli.....!" Seru Arya.


Mira yang sudah muak dan sakit hari langsung masuk ke dalam untuk mengemasi pakaian Vana lalu membuangnya keluar.


"Pergi sana.....!" Usir Arya.


"Mas,.....!" Vana sengaja mengeluarkan air mata untuk sekedar memainkan drama.

__ADS_1


Dengan membawa kopernya Vana pergi dari rumah Arya. Meskipun Arya tidak mengatakan apa alasannya tapi Vana sudah tahu semuanya.


__ADS_2