
"Arthur, sini sayang." Rara pun memanggil Arthur yang tengah digendong David, suaminya.
David pun datang bersama Arthur yang sejak tadi masuk ke dalam lingkungan penjara, bocah kecil itu tak mau lepas dari gendongan Daddynya.
"Sayang, sini sama mommy dulu. Ada yang mau kenalan," ucap Rara seraya tersenyum merentangkan tangannya pada sang putra.
Namun Arthur bergeming. Ia tetap memeluk erat seraya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Daddy David.
"Hem, tadi katanya mau kenalan sama Papa. Yuk, son. Sini sama mommy," ucap Rara berusaha merayu sang putra yang sepertinya ketakutan.
"No, mommy. Arthur cuma punya Daddy. Gak mau punya Papa!" jerit Arthur seraya mulai berkaca-kaca.
Deg...
Pram seketika mematung melihat interaksi mantan istrinya dengan seorang bocah lelaki yang digendong David. Wajah bocah lelaki itu sangat mirip dengannya. Apa benar dia?
Seketika banyak pertanyaan yang hinggap di benaknya.
"Ra, apa dia?" tanya Pram meminta penjelasan.
"Iya, Mas. Dia putra kandungmu yang berhasil selamat setelah aku mengalami pendarahan hebat saat kamu mentalakku di rumah ibumu. Namanya Arthur Ravasya Barnett. Maaf, baru memperkenalkan Arthur padamu. Aku melahirkannya disaat masih koma. Dan Arthur harus dirawat secara khusus di Amerika oleh suamiku agar dia bisa berjalan normal seperti anak lainnya," tutur Rara apa adanya.
"Huhu... maafkan aku, Ra. Boleh aku memeluknya sekali saja? Aku mohon," pinta Pram dengan nada sangat memohon serta berurai air mata.
"Dad, Mom kita pulang yuk. Arthur takut di sini. Arthur enggak mau Papa. Cukup daddy dan mommy!" teriak Arthur semakin ketakutan dan menangis.
"Sayang," cicit Rara sendu.
"Cup...cup...cup... iya son. Kita pulang. Tapi janji dulu. Kalau daddy dan mommy ajak ke sini lagi ketemu Papa harus mau ya," ucap David dengan sabar dan telaten berusaha menenangkan Arthur dan merayunya agar tetap mau menerima sang papa yakni Pram yang diangguki oleh Arthur.
__ADS_1
David pun memberi kode pada Rara bahwa situasi saat ini masih belum memungkinkan untuk Pram dan Arthur bertemu. Dan akhirnya David keluar terlebih dahulu dari sana dengan menggendong Arthur.
"Maaf Mas, Arthur sepertinya masih syok dan belum bisa menerima kehadiranmu. Nanti jika dia sudah memahami kondisi kita dan mau menerima Mas, aku akan ajak dia mengunjungimu kembali. Maaf," cicit Rara.
"Iya, Ra. Aku paham. Aku enggak pantas disebut Papa olehnya. Tolong rawat dia baik-baik. Katakan padanya kalau Papanya sayang padanya," ucap Pram lirih.
Akhirnya Rara pun pergi dari sana. Dan Pram kembali ke ruang selnya. Pram menangis tergugu.
"Arthur, maafin Papa. Huhu... Papa sayang Arthur. Ya Tuhan, aku mohon jangan cabut nyawaku sebelum anakku bisa menerimaku," cicit Pram berderai air mata.
☘️☘️
Satu bulan kemudian.
"Selamat ulang tahun... selamat ulang tahun daddy. Semoga panjang umur," bisik Rara di telinga David saat fajar sudah menyingsing seraya mencium bibir suaminya dengan mesra.
"Eugh... mom. Apa semalam masih kurang? Ini mau serangan fajar apa serangan siang?" racau David tak jelas dengan mata terpejam dan nyawa belum sempurna di genggaman.
"Hah! Kok begitu sih, Mom. Teganya Mom sama si turbo," ucap David seraya mengerucutkan bibirnya.
"Selamat ulang tahun, Dad. Ini coba buka," ucap Rara seraya menyerahkan sebuah kotak berwarna biru navy di depan David.
"Apa ini, Mom?" tanya David penasaran.
"Buka saja, Dad."
Dan seketika David tercengang kala kotak kado dari Rara ia buka dengan sempurna.
"Aku enggak mimpin kan ini, Mom?" tanya David memastikan dengan apa yang dilihatnya. Sebuah bukti nyata yang menunjukkan hasil garis dua. Tanda bahwa Rara tengah berbadan dua.
__ADS_1
"Iya, Dad. Arthur akan segera punya adik. Akhirnya si turbo berhasil berkembang biak di dalam sini dan akan launching tujuh bulan lagi adiknya Arthur," bisik mesra Rara seraya mengambil tangan suaminya lalu diletakkan secara lembut di atas perutnya.
"Love you Raraku. Love you so much..." ucap David mesra seraya memeluk istrinya.
"Love you too My Turbo..." balas Rara tak kalah mesra.
Tanpa aba-aba bibir keduanya saling bertemu dan berpagut mesra semakin dalam. Saat tangan ahli si pemilik turbo akan menjelajahi pada puncak gunung tempat nutrisinya, tiba-tiba jeritan horor menggema hingga membuat keduanya kelabakan.
"Mom, Dad. Bangun!! Kalau enggak bangun, mulai nanti malam mommy tidur sama Arthur selama satu bulan!" teriak Arthur di depan pintu kamar David dan Rara yang masih tertutup.
"Oh tidakkk!!" jerit David.
Rara hanya tertawa melihat perubahan raut wajah suaminya yang justru terlihat semakin lucu dan menggemaskan setelah mendapat ancaman dari putranya.
Akhirnya kebahagian DaRa (David Rara) lengkap sudah. Cinta, anak dan keluarga yang bahagia dengan harta yang melimpah semua sudah Rara dapatkan. Setelah ujian hidup bertubi-tubi datang menimpanya. Kini mereka menjadi keluarga yang bahagia tanpa dendam dan sakit hati pada masa lalu yang kelam.
Sedangkan penyesalan mendalam dialami oleh Pram dan keluarganya. Mereka menuai apa yang sebelumnya ditabur.
Happy Ending...
☘️☘️
Akhirnya selesai sudah kisah DaRa (David Rara). Satu bulan lebih kisah ini menemani kalian dengan jumlah kata hampir 52.000. Semoga mampu menghibur Sobat Safira semua dan memberi pelajaran positif pada kehidupan kita. Maaf, jika masih banyak kekurangan dari othor tidak solehot yang tidak famous ini.
Terima kasih banyak atas dukungan dari kalian semua Sobat Safira💋
Semoga semakin berlimpah rezekinya dan sampai jumpa di novel othor tidak solehot selanjutnya.^^
Jangan unfav ya agar bisa tahu info karya terbaru othor nantinya💋
__ADS_1
Haturnuhun...