
Anita mendadak terkejut dan bingung menjawab pertanyaan yang diajukan Rara. Anita pun berusaha membuang jauh kegugupannya dan menarik nafas sejenak sebelum bersuara menjawab pertanyaan Rara.
"Saya berharap hubungan kita ke depan lebih baik. Bukankah kita baru bertemu. Kita bisa menjadi seorang teman yang nantinya kedekatan kita bisa lebih dari sekedar teman biasa. Sahabat mungkin. Ya, sepertinya kita berdua bisa bersahabat baik. Bagaimana Nyonya Clara?" cicit Anita seraya tersenyum sumringah menyodorkan sebuah persahabatan yang baik pada Rara yang berkedok sebagai Clara.
"Teman?" tanya Rara seolah dengan nada merendahkan Anita.
"Ya, berteman baik." Anita pun menjawab dengan tetap tersenyum. Tak menyadari posisi dan kedudukan antara dirinya dan Rara saat ini sangat jauh berbeda.
Dalam hati, Anita berharap hubungannya dengan Clara ke depan lebih baik. Walaupun diawali insiden makan siang yang tak mengenakkan hari ini.
Clara memiliki jejaring yang banyak dan pastinya dari kalangan berada level atas. Jika dirinya berteman dengan Clara, otomatis hal itu akan mengangkat derajat dirinya maupun Pram dan keluarganya.
Keheningan terjadi beberapa detik dan akhirnya Rara pun bersuara setelah menahan gejolak emosi pada Anita. Mantan sahabat yang mengkhianatinya dan sekarang orang tersebut menawarkan sebuah persahabatan baru dengannya. Sungguh memuakkan dan tak tahu diri.
"Anda tahu bunga melati?" tanya Rara pada Anita yang masih dalam posisi berlutut.
"Ya, tahu." Anita pun menjawab dengan masih tersenyum.
"Melati salah satu bunga favorit saya. Dalam bahasa Sansekerta, Melati artinya perempuan. Ada juga yang menyebutnya cantik. Perempuan cantik dengan perempuan lainnya yang juga cantik saling terkoneksi seperti suatu hubungan pertemanan. Bahkan dari suatu pertemanan yang baik bisa berubah menjadi saudara yang baik. Bukan sebaliknya menjadi musuh. Terlebih musuh dalam selimut yang dengan tega menusuk teman atau saudaranya sendiri. Perempuan seperti itu tak pantas disebut baik dan cantik seperti bunga melati. Teman yang baik tidak akan merampas hak milik temannya. Teman yang baik tidak memfitnah. Teman yang baik tidak menyudutkan. Teman yang baik tidak akan menghakimi. Dan teman yang baik akan membantu kita untuk mengenal jati diri kita yang sesungguhnya dan menjadi diri sendiri yang apa adanya. Bukan ada apanya. Benar begitu bukan Nyonya Anita? Apa Anda sependapat dengan saya?" tanya Rara dengan melirik sekilas raut wajah Anita yang dalam kondisi mematung dan berlutut padanya.
Deg...
__ADS_1
Penuturan panjang dari Clara membuat dirinya seakan tertohok dan terpojok. Ia mendadak terngiang dengan mantan sahabatnya yakni Rara. Yang ia ketahui dari dari kerabat jauh Rara, bahwa mantan sahabatnya itu sedang berada di kota Bandung dalam kondisi tak baik-baik saja usai di cerai oleh Pram.
Saat mendengar itu, dirinya lega sekaligus berbahagia karena Rara tak menjadi ancamannya untuk tetap menjadi satu-satunya ratu di hati Pram. Alhasil dia menjalani kehidupan dengan Pram seperti biasa tanpa beban yang mengusik lagi.
Padahal faktanya, David telah membungkam kerabat jauh Rara tersebut untuk melakukan sesuai perintahnya. Agar semua orang di masa lalu Rara yang sudah menyakiti sang istri, tahu bahwa Rara berada di Bandung. Sebuah kamuflase untuk menutupi jejak keberadaan Rara yang sesungguhnya.
Namun kini setelah mendengar kalimat Clara barusan yang akhirnya membangkitkan kenangan dirinya bersama Rara, sahabatnya, membuat dirinya dihantui rasa bersalah tak kasat mata pada mantan istri Pram tersebut.
Persahabatan yang ia bina dengan Rara berawal dari ketulusan. Dirinya juga menganggap Rara sudah seperti saudaranya sendiri. Sebab dirinya sudah lama menjadi yatim piatu dan hanya Rara yang ia miliki sebagai sahabat sekaligus saudara yang baik hati suka menolongnya.
Air susu dibalas dengan air tuba. Itulah pada akhirnya yang terjadi dengan persahabatannya bersama Rara. Hanya karena rasa iri dalam hati melihat kehidupan Rara yang sangat bahagia. Jauh berbanding terbalik dengan kehidupannya, membuat ia gelap mata dan menghalalkan segala cara guna merebut semua yang dimiliki Rara termasuk suami Rara, Pramana Handoko.
Anita pun langsung kembali tersenyum dan menatap Clara.
"Maafkan saya, Nyonya Clara. Apa yang Anda bilang barusan benar. Teman yang baik tidak akan membuat sahabatnya bersedih atau terpuruk. Saling merangkul, membantu dan menyayangi dengan tulus tanpa pamrih. Apa sekarang kita bisa berteman, Nyonya?" pinta Anita berusaha membuang rasa malunya di depan Clara.
"Akan aku pertimbangkan. Saat ini aku lebih suka berteman dengan suamiku sendiri yang aku yakini tak akan pernah mengkhianatiku. Teman hidup, teman curhat, teman bisnis, teman makan sekaligus teman main ular tangga yang selalu membuatku tak berdaya di atas ranjang. Bukan begitu, Darl?" goda Rara sengaja membuat Pram dan Anita seakan hanya menjadi seonggok obat nyamuk, melihat kemesraan dirinya dengan David.
"Of course honey. Tapi kita libur dulu main ular tangganya sampai kamu sehat betul. Aku enggak mau diomelin dokter. Mending diomelin kamu saja, honey." David mengerucutkan bibirnya membuat Rara semakin gemas melihatnya.
"Diomelin kok seneng. Aneh kamu itu, Darl. Haha..." tawa dan ledek Rara seraya cepat meraih tengkuk David yang duduk di sebelah ranjangnya lalu mencium bibir suaminya sekilas, yang membuat jantung CEO tampan satu ini semakin tak karuan gejolaknya.
__ADS_1
Kini giliran David yang mematung dan Rara hanya tersenyum tanpa dosa. Telah membuat sang suami dilanda KTT ( Kegugupan Tingkat Tinggi ) akibat manuver mendadak di bibirnya barusan. Namun tak lama David bisa menguasai dirinya dan bersuara kembali.
"Suara omelanmu seperti suara alunan tuts piano yang merdu honey. Bikin candu," balas David menggoda di tengah jantungnya yang masih menyisakan degupnya.
"Akting kalian sangat bagus sekali. Patut diberi reward sebagai aktor dan aktris terbaik di Ajang membungkam dan membuat keok para mantan. Luar biasa," batin Leon yang kegerahan melihat akting Tuan dan Nyonya mudanya ini, yang memberikan sinyal merah. Artinya akting David dan Rara yang begitu mesra tersebut sudah keluar dari jalur skenario yang tertera.
Ingatlah bahwa sekretaris pribadinya ini jomblo abadi. Sungguh menyedihkan dan menyesakkan jiwa jomblonya meronta-ronta melihat kemesraan Tuan dan Nyonya mudanya di depannya. Walaupun hanya akting.
Pram dan Anita pun beranjak pergi setelah Rara menyuruhnya berdiri dan mengusir mereka berdua secara halus dari kamarnya. Rara beralasan ingin berdua dengan sang suami.
Di dalam mobil, keduanya kembali bertengkar hebat.
"Aku enggak mau jual perhiasanku, Mas. Lagipula sertifikat apartemenku juga sudah kamu gadaikan karena kita harus membayar kerugian kantor beberapa bulan lalu," cicit Anita enggak terima.
"Terus kita bayar dua milyar pakai apa, Nita? Pakai daun!" pekik Pram sambil memukul setir mobilnya.
Dua-duanya kembali terdiam. Sama-sama sedang berpikir jalan keluar guna membayar uang dua milyar tersebut pada David dan Rara.
"Ehm, gimana kalau kamu gadaikan saja sertifikat rumah ibu ke bank?" cicit Anita tiba-tiba memberi ide untuk suaminya sebagai jalan keluar dari masalah mereka berdua yang tengah dihadapi bersama David dan Rara.
🍁🍁🍁
__ADS_1