
Setelah Mama Dian pulang, tak lama seorang wanita usia sekitar empat puluh tahunan masuk ke kamar inap Anita.
Deg...
Sontak Anita pun terkejut melihat Dokter Kinan. Dokter yang melakukan suntik hormon pada Rara beberapa tahun silam.
"Hai, Nit. Apa kabar?" tanya Dokter Kinan.
"Sedang tidak baik, Dok. Ehm, asam lambungku kambuh. Dokter apa kabar?" tanya Anita basa-basi di tengah kegugupannya.
"Oh begitu. Oh ya, aku lagi butuh uang Nit. Kamu sekarang sudah hidup enak sama suami sahabat kamu si Rara itu. Malahan yang aku denger kamu sudah pindah dari rumah kontrakanmu yang sederhana. Sekarang malahan tinggal di apartemen. Wah, enaknya jadi istri Pram. Mendadak menghilang ternyata sudah jadi Nyonya tajir," sindir Dokter Kinan.
Sontak Anita geram mendengar sindiran Dokter Kinan yang ia tahu sengaja akan berujung memerasnya. Sudah sejak lama ia berganti nomor handphone dan sengaja pindah tempat tinggal karena tak ingin terus dirong-rong oleh Dokter Kinan.
"Mau kamu apa?" tanya Anita to the point yang sudah bisa menebak gelagat Dokter Kinan.
"Haha... ini yang aku suka dari kamu, Nit. Sat set sat set, enggak basa-basi," ledek Dokter Kinan seraya tertawa kecil.
Anita pun hanya memandangnya jengah.
"Berapa yang kamu butuhin?" tanya Anita dengan nada ketus.
"Lima ratus juta," jawab Dokter Kinan.
"Apa? Gila kamu! Aku mana ada uang sebanyak itu!" pekik Anita tak terima.
__ADS_1
"Halah kamu sudah jadi Nyonya Pram. Apalagi yang aku denger kamu juga kerja jadi sekretaris CEO. Bukankah jabatan itu bekas posisi Rara, mantan istri Pram. Gajimu pasti besar. Belum lagi gaji Pram. Uang segitu pasti mudah buat kamu," ucap Dokter Kinan.
"Beneran. Aku enggak ada kalau segitu. Lima puluh juta aku masih bisa beri untuk kamu saat ini juga. Kalau lima ratus juta, uang dari mana?" pekik Anita.
"Aku enggak mau tahu. Aku tunggu lima ratus jutaku masuk ke rekening. Kamu pasti masih hafal nomor rekeningku. Satu minggu. Jika belum aku terima, jangan salahkan aku kalau semua kebusukanmu aku bongkar pada Pram. Sampai jumpa lagi Nit," cicit Dokter Kinan menampilkan senyum devilnya seraya berpamitan.
Brakk...
Pintu kamar inap Anita pun ditutup secara kasar oleh Dokter Kinan. Sedangkan di dalam sana, Anita mengumpat kesal.
"Brengsek Kinan! Bener-bener sial banget sih. Habis diceramahin nenek peyot bau tanah, eh sekarang ketemu Kinan sialan! Dasar pemeras!!" maki Anita.
Sedangkan di luar kamar Anita, Pram nampak terkejut. Sepulang dari kantor niat hati ingin menjenguk sang istri yang tengah terbaring di rumah sakit, tiba-tiba tanpa sengaja pandangannya melihat seorang wanita keluar dari kamar istri sirinya itu. Dari jarak beberapa meter ia melihat dengan jelas seorang wanita yang ia kenal di masa lalu.
Tap...tap...tap...
Derap langkah sol sepatu Pram bergerak perlahan menuju kamar Anita. Sementara Dokter Kinan sudah tak terlihat lagi.
Ceklek...
Derit pintu terbuka, Pram pun melangkah masuk.
"Kamu kenapa, Nit?" tanya Pram terkejut melihat rambut Anita acak-acakan.
Sebelumnya, Anita yang kesal dengan kesialan bertubi-tubi menimpanya hari ini lantas meluapkan dengan menjambak rambutnya sendiri. Kepalanya tengah pusing memikirkan jalan keluar untuk mendapatkan uang lima ratus juta guna membungkam Dokter Kinan.
__ADS_1
"Eh Mas, tumben hari ini pulang cepet?" tanya Anita terkejut dan tak menggubris pertanyaan Pram padanya.
"Iya, kerjaan sudah selesai lebih cepat. Maklum tender besar perusahaan kita kalah jadinya hanya tersisa tender kecil so kerjaan di kantor enggak begitu banyak. Muka kamu kenapa kusut begitu?" tanya Pram menelisik seraya mendaratkan bok0ngnya di kursi dekat ranjang Anita terbaring.
"Tadi Mama datang. Terus ya seperti biasa memojokkan aku minta cucu. Kan aku lagi sakit Mas. Kenapa sih ibu kamu ngotot terus minta cucu. Memangnya buat cucu semudah bikin mie instan. Yang cepat jadi dalam waktu tiga menit!" ketus Anita.
"Sabar ngadepin Mama. Wajar dia minta cucu. Kan kita sudah menikah hampir tiga tahun. Sebelumnya juga kita sudah berhubungan beberapa tahun sebelum aku bercerai dari Rara. Kalau dihitung-hitung sudah enam tahun kita bersama. Setiap bertemu melakukan percintaan. Tapi kok kamu belum juga hamil ya Nit? Sepertinya kita perlu periksa biar ketahuan lebih dini. Aku atau kamu yang bermasalah. Agar bisa berobat lebih cepat kan lebih baik," tutur Pram.
Deg...
"Gawat! Mas Pram enggak boleh sampai tahu kalau aku enggak bisa hamil untuk selama-lamanya. Enggak boleh. Ya enggak boleh," batin Anita dilanda kecemasan dan gugup tak karuan.
"Kamu kenapa, Nit? Kok pucat gitu? Apa masih sakit perutmu?" tanya Pram cemas.
"Eh, enggak. Aku sudah mendingan kok, Mas. Kata dokter besok sudah boleh pulang," jawab Anita kikuk namun berusaha tersenyum di depan suaminya.
"Oh ya, tadi selain Mama apa ada yang mengunjungimu? Teman kantor atau temanmu yang lain mungkin?" tanya Pram seraya menatap wajah Anita. Berusaha mencari sesuatu yang masih abu-abu di benaknya.
"Ehm, cuma Ma_ma. Iya Mas, cuma Mama saja. Enggak ada yang lain," jawab Anita dengan nada terbata-bata.
Dirinya terpaksa berbohong mengenai Dokter Kinan yang berkunjung ke kamarnya. Ia tak mau jika suaminya sampai bertemu atau bertanya sesuatu pada Dokter Kinan yang berujung membuka kedok busuknya di masa lalu.
"Kenapa Anita berbohong? Padahal tadi aku melihat jelas Dokter Kinan masuk ke kamarnya. Lagipula Dokter Kinan tadi juga memakai baju biasa bukan baju dokter. Klinik praktek Dokter Kinan juga bukan di rumah sakit ini. Apa ada yang Anita sembunyikan dari aku?" batin Pram bertanya-tanya.
🍁🍁🍁
__ADS_1