
Beberapa hari kemudian, Anita sudah bekerja kembali seperti biasanya. Rara pun berencana setiap satu minggu sekali akan bertandang ke Bekasi melihat peninjauan pembangunan pabrik baru kerjasama kedua belah pihak antara PT. GINCU dan PT. MENOR yang direncanakan selesai sekitar tiga bulan lagi.
Hari ini dilakukan pemotongan pita sekaligus peletakan batu pertama di pabrik tersebut yang masih dalam tahap pembangunan sebagai simbolis kerjasama dua perusahaan. Dikarenakan sebelumnya Rara masih masa pemulihan sehingga acara ini tertunda selama satu bulan lebih. Dan baru hari ini terlaksana.
Di sana mereka telah berkumpul, ada Pak Johan, Rara, Pram dan Anita. Beberapa bodyguard pun menjaga Rara atas perintah David. Hari ini ada meeting penting mengenai bisnis utama David di Bandung yang tak bisa diganggu gugat. Leon pun menemani David meeting di Bandung.
Dengan terpaksa dirinya harus berjauhan sejenak dengan sang istri. Awalnya David ingin memaksa ikut ke Bekasi namun Rara dengan tegas menolaknya. Ia tidak mau bisnis utama David terbengkalai karena terlalu fokus padanya saja.
Akhirnya David pun menyerah. Sebab Rara punya kuasa penuh sebagai ratu di istananya. Satu-satunya orang di dunia ini yang bisa mengaturnya hanya Rara seorang.
"Semoga kerjasama kita lancar hingga akhir Nyonya Clara," ucap Pak Johan seraya menyalami Rara.
"Amin..."
"Saya berharap semua berjalan sesuai kesepakatan dan tak ada manipulatif. Jika ada hal mendesak, Bapak bisa segera menghubungi saya atau suami saya," ucap Rara dengan tegas dan penuh wibawa.
Senja telah meredup dan akan berubah menjadi pekatnya malam. Mereka semua berencana untuk santap malam di hotel yang letaknya sekitar lima kilometer dari pabrik baru. Pak Johan menggagas makan malam tersebut guna merayakan kerjasama ini agar semakin kompak.
David pun mengetahui hal ini karena sebelumnya telah diberi tahu oleh pihak PT. GINCU. Selepas sore, David pun sudah meluncur ke Bekasi karena meeting di Bandung telah selesai lebih cepat.
Sebelumnya, Rara menelpon suaminya itu dan menyuruhnya langsung ke hotel. Nantinya mereka akan bertemu di hotel tersebut.
Saat Rara akan berangkat meninggalkan pabrik menuju hotel, di parkiran pabrik ia melihat Pram tengah kesal pada mobilnya. Lantas Rara pun mendatangi mantan suaminya itu.
__ADS_1
"Mobil Anda kenapa Tuan Pram?" tanya Rara penasaran.
"Eh, Nyonya Clara. Ini mobil saya bannya bocor dan saya lupa membawa ban cadangan. Anita sudah berada di hotel sejak tadi guna mengontrol acara makan malam kerjasama ini agar berjalan lancar. Ia tak mau insiden yang lalu terulang kembali. Sejak tadi saya coba cari taksi online, ternyata di sini agak susah. Mungkin karena jauh dari pemukiman penduduk," ujar Pram.
"Ikut saja ke mobilku. Bukankah kita pergi ke tempat yang sama. Daripada nanti kita datang terlambat di acara makan malam. Barusan suami saya juga menelepon sudah sampai di hotel," ucap Rara menawarkan bantuan berupa tumpangan pada Pram dengan tulus.
Sebagai seorang pebisnis yang profesional, ia tak mungkin meninggalkan Pram begitu saja di lingkungan pabrik yang masih sangat sepi. Dan kehadiran Pram juga tentu penting di acara makan malam tersebut. Alhasil hatinya terketuk memberi tumpangan pada mantan suaminya tersebut.
"Apa enggak ngerepotin Nyonya Clara?" tanya Pram tak enak hati.
"Enggak apa-apa kok. Ayo kita pergi dari sini. Takutnya kemalaman tiba di sana," cicit Rara seraya bergegas berjalan ke arah mobilnya kembali.
"Baiklah. Terima kasih Nyonya Clara," ucap Pram seraya mengekori di belakang Rara.
"Hem," jawab Rara singkat.
Keheningan terjadi diantara keduanya. Rara terus menatap lurus ke depan. Sedangkan Pram sesekali melihat pada tempat duduk Clara.
"Kenapa aku merasa melihat Rara dalam diri Nyonya Clara? Seperti saudara kembar. Namun Rara tidak punya saudara kembar. Fiuhh...sepertinya aku mulai berhalusinasi tak jelas masih memikirkan Rara. Semoga di Bandung, Rara bahagia dan baik-baik saja," batin Pram.
Saat perjalanan baru menempuh sepuluh menit, mendadak sopir Rara mengerem mendadak. Membuat tubuh mereka seketika maju ke depan. Pram berusaha melindungi Rara dengan tangannya agar kepala Rara tidak terantuk pada kursi di depannya.
Cittt...
__ADS_1
Mobil pun berhenti. Sang sopir pun langsung keluar dan mengecek. Rara mengucapkan terima kasih pada Pram yang diangguki oleh mantan suaminya itu. Lantas Rara kemudian membuka jendela kaca mobilnya.
"Kenapa, Pak?" tanya Rara pada sopirnya.
"Maaf Nyonya, bannya kempes kena ranjau paku. Saya ganti ban dulu," ucap sang sopir dengan sopan.
"Bawa ban cadangannya, Pak?" tanya Rara.
"Bawa Nyonya. Tunggu saja di dalam mobil. Jangan keluar. Nanti Tuan marah kalau ada apa-apa sama Nyonya," cicit sang sopir.
Rara pun menutup kembali kaca mobilnya dan di dalam mobil terjadi keheningan antara Pram dan Rara.
☘️☘️
Sedangkan di hotel, semua hidangan telah siap. David tengah berbicara dengan Pak Johan. Sedangkan Leon ia suruh menyusul ke tempat Rara. David khawatir perbaikan ban mobil sang istri cukup lama.
Dan poin penting lainnya jangan lupakan ia pencemburu berat. Setelah Rara mengirimkan pesan singkat padanya satu menit yang lalu bahwa ban mobilnya kempes dan harus ganti ban. Sontak kadar kecemburuan CEO tampan satu ini semakin meningkat tajam. Sebab ia tahu Pram sedang berada satu mobil dengan istrinya.
Awalnya ingin langsung pergi menyusul Rara bersama Leon, namun Pak Johan seakan menahannya di hotel guna membahas beberapa hal penting. Alhasil hanya Leon yang berangkat menyusul sang Nyonya muda.
Tiba-tiba tubuhnya merasakan sesuatu yang aneh setelah meminum segelas orange jus yang diberikan pelayan sesuai pesanannya.
Kepalanya mendadak pusing dan sedikit pucat. Tubuhnya merasakan hawa panas yang cukup aneh baginya. Sebab ini pertama kali ia merasakan hawa panas seperti ini.
__ADS_1
"Tubuhku kenapa? Panas sekali. Padahal tadi ACnya terasa dingin," batin David.
🍁🍁🍁