
"Sial !! Apa ada yang memasukkan sesuatu ke minumanku? Brengsek !" batin David menggeram sekaligus memaki.
Walaupun ia belum pernah bercinta tetapi ia pernah mendengar dari teman-temannya di luar saat dirinya hidup di UK. Bahkan temannya pernah menawarkan obat yang mengandung zat afrodisiak guna bercinta dengan wanita bule di sana. Namun ia tolak mentah-mentah.
Temannya itu menceritakan khasiat dan dampaknya setelah meminum obat seperti itu. Dan kini ia tersadar sepertinya ada yang ingin bermain-main dengan dirinya. Ia yakin bahwa dirinya sedang dijebak oleh seseorang.
Tetapi pelakunya siapa masih abu-abu baginya. Ia tak tahu dan tak bisa menebak dengan kondisi dirinya yang kacau saat ini membuatnya susah berpikir dengan jernih.
Tetapi sungguh dirinya tak bisa menahan gejolak yang muncul menggebu dalam dirinya sekarang ini. Lantas ia pun berdiri seraya berpamitan pada Pak Johan. Awalnya Pak Johan terkejut melihat wajah David memerah seakan menahan sesuatu.
"Apa perlu saya antar Tuan David ke kamar guna beristirahat?" ujar Pak Johan menawarkan diri.
"Tak perlu, Pak. Saya bisa sendiri. Saya hanya butuh istirahat sejenak. Bila istri saya datang, tolong kabarkan langsung pada Clara untuk menyusul saya ke kamar nomor 888," ucap David dengan nada tertahan dan keringat bercucuran di dahinya.
"Baik, Tuan David. Selamat beristirahat," ucap Pak Johan dengan sopan.
Kebetulan Leon sudah menyewa satu kamar atas nama David. Bergegaslah dirinya berjalan menuju kamarnya.
Saat David berjalan sempoyongan di lorong dekat kamarnya, mendadak Anita memanggil namanya dari belakang. Sontak dirinya pun menoleh.
"Tuan David," panggil Anita.
Anita pun berjalan cepat menuju tempat David berdiri dengan posisi tangan David bertumpu pada dinding.
"Iya, ada apa?" tanya David to the point saat Anita sudah mendekat padanya.
__ADS_1
"Pak Johan tadi menyuruh saya ke sini guna menjaga Anda sebelum Nyonya Clara datang. Khawatir Anda membutuhkan bantuan. Sepertinya Anda sedang sakit. Apa perlu saya ambilkan obat pada pihak hotel?" tanya Anita menawarkan diri.
"Tidak perlu. Saya ingin tidur di kamar saya. Tolong jangan ganggu saya. Lebih baik Anda kembali ke restoran," ucap David seraya melanjutkan langkahnya yang mendekati pintu kamarnya yakni kamar 888.
Anita pun masih setia mengekori David.
"Maaf, Tuan David. Tetapi saya tak tega meninggalkan Anda sendirian seperti ini. Biarkan saya menunggu di dalam bersama Anda. Mari saya bantu," ucap Anita sedikit memaksa.
David yang tengah berada di puncak gejolak, sungguh dirinya tak tahan. Bahkan ia sempat menekan pundak Anita saat wanita ini membantu memapahnya masuk ke dalam kamar lalu berakhir tidur di ranjang.
Tubuhnya telah berada di atas ranjang. Mata David terpejam. Menahan sesuatu yang membuncah di ujung tanduk. Tak tertahan lagi ingin dikeluarkan isinya. Akal sehatnya masih membayangkan wajah ceria istrinya, wanita yang ia cintai sejak kecil.
"Rara," batin David memanggil istrinya.
Anita yang awalnya duduk di sofa berusaha mendekati ranjang tempat David berada dalam kondisi mata terpejam menahan sesuatu. Senyum devil terpancar di wajah Anita saat menatap David yang sudah bergejolak tinggi menahan rasa dari obat yang sengaja ia campurkan ke dalam minuman David.
Saat tangan Anita akan menyentuh kemeja David, mendadak telepon di sebelah ranjang berbunyi. Sontak David pun membuka matanya dan cukup terkejut melihat Anita duduk di ranjangnya. Padahal sebelumnya tadi seingatnya Anita duduk di sofa.
"Eh, ada telepon masuk Tuan. Aku angkat ya siapa tahu penting," ucap Anita dilanda kegugupan sebab David menatapnya tajam. David pun hanya membalas dengan anggukan. Anita pun bergegas mengangkat telepon.
"Halo," sapa Anita.
"Dengan Nyonya Anita?" tanya seorang wanita di seberang sana.
"Eh, iya betul. Anda kok tahu nama saya Anita dan di kamar ini?" tanya Anita heran.
__ADS_1
"Begini Nyonya Anita. Saya dari restoran hotel yang membantu urusan makan malam dari PT. GINCU. Sejak tadi saya mencari Anda namun tidak juga ketemu di area restoran. Saya bertanya pada Pak Johan, kata beliau Anda berada di kamar 888 sedang membantu Tuan David Barnett tengah sakit. Ada masalah di makanan yang akan kita sajikan. Mohon Anda segera ke sini guna kita minta pendapat jalan yang harus diambil sebelum acara dimulai sebentar lagi. Segera ya Nyonya Anita. Kita tidak punya banyak waktu," ucap karyawati hotel mendesaknya.
"Oh begitu. Baik. Saya segera ke sana," jawab Anita lesu.
"Terima kasih. Saya tunggu segera Nyonya Anita," ucap pegawai hotel tersebut seraya menutup panggilan teleponnya.
Bip...
Panggilan pun terputus. Dan Anita menghela nafas kasar. Mau tak mau ia harus pergi ke restoran sejenak memastikan tak ada insiden kembali seperti sebelumnya.
"Tuan David, saya harus kembali ke restoran sebentar. Anda tidak apa-apa saya tinggal?" tanya Anita berpura-pura memberi perhatian.
"Silahkan Nyonya Anita. Biarkan saya sendirian saja," cicit David tertahan.
"Saya permisi, Tuan. Segera saya kembali ke sini jika urusan di sana sudah selesai," ucap Anita seraya tersenyum.
"Hem," jawab David singkat.
Selepas Anita pergi, tak lama pintu kamarnya dibuka secara kasar.
Brakk...
Pupil matanya melebar kala melihat yang datang ke kamarnya justru sang istri dengan wajah penuh kecemasan dan keringat di dahinya. Seakan sang istri usai berlari maraton. Namun ia teringat saat ini dirinya tengah di bawah pengaruh obat. Ia tak mau terjadi sesuatu pada sang istri. Seketika...
"Ra, jangan mendekat !!" teriak David.
__ADS_1
🍁🍁🍁