
Pram pun tiba di rumah sakit tempat adiknya dirawat. Ia melihat ibunya berdiri di depan ruang operasi yang pintunya masih tertutup. Namun ia cukup heran melihat kondisi ibunya dari kejauhan sebab rambut ibunya terlihat acak-acakan.
Tap... tap... tap...
Derap langkah kaki Pram dengan cepat berjalan menuju tempat duduk ibunya.
"Mah," panggil Pram.
"Pram, hiks... hiks..." cicit Mama Dian yang langsung berdiri dan memeluk putra sulungnya itu sembari berderai air mata.
"Kenapa Sisy sampai ab0rsi, Mah?" tanya Pram yang dilanda kebingungan.
"Tadi di rumah ada wanita yang datang. Mama perkirakan usianya empat puluh tahun ke atas. Ia membawa dua orang preman ke rumah. Ia berteriak di luar rumah menghina keluarga kita terutama adik kamu Sisy. Saat itu Sisy lagi enggak ada di rumah. Wanita itu menuduh Sisy pel@kor yang ingin mengeruk harta suaminya. Padahal setahu Mama, Sisy pernah cerita punya pacar kaya raya. Walaupun belum pernah dikenalkan sama Mama. Tapi enggak mungkin adikmu seorang perusak rumah tangga orang lain. Wanita itu mengamuk terus mengacak rumah kita dan mengambil beberapa barang. Bahkan menjambak rambut Mama karena Mama enggak terima sama ucapan dia. Katanya Sisy telah menggerogoti uang suaminya. Mama malu, Pram. Malu... karena semua tetangga melihat kejadian itu termasuk ibu-ibu arisan," ucap Mama Dian seraya menunduk dan menangis.
Pram pun hanya bisa memeluk sang ibu. Berusaha menguatkan. Ia pun sangat terkejut mendapati fakta bahwa adik kandungnya berbuat seperti itu. Ia tak menyangka Sisy yang manis berubah menjadi liar di luar dugaannya.
"Terus, Mama dari mana bisa tahu Sisy ab0rsi?" tanya Pram kembali.
"Setelah wanita itu pergi, ponsel Mama dihubungi oleh seseorang. Mereka bilang petugas klinik xxx. Klinik terselubung untuk aborsi yang letaknya di pinggiran Jakarta. Mereka menghubungi Mama karena Sisy mengalami pendarahan hebat. Mama sama sekali enggak tahu kalau adikmu hamil. Bahkan hamil dengan siapa juga Mama enggak tahu. Sisy jarang pulang, katanya banyak pemotretan dan urusan kampusnya jadi inap di rumah teman. Mama sama sekali enggak menyangka kalau Sisy hamil lalu mengab0rsi calon jabang bayi dalam kandungannya tanpa sepengetahuan Mama," jawab Mama Dian tertunduk lesu.
__ADS_1
Dan cerita itu pun mengalir yang akhirnya Mama Dian segera pergi guna mendatangi klinik lak-nat tersebut. Lalu membawa Sisy ke rumah sakit besar guna penanganan lebih lanjut akibat pendarahan hebat yang dialaminya.
Dan dokter mengatakan sesuatu yang membuat Mama Dian tak punya pilihan lain demi menyelamatkan nyawa putrinya. Rahim Sisy terpaksa diangkat dan selamanya tidak akan bisa hamil maupun memiliki keturunan. Semua itu dampak dari ab0rsi ilegal yang dilakukan Sisy sehingga pendarahan hebat berujung kehilangan rahim untuk selama-lamanya.
Bagai disambar petir di siang bolong. Dunia Mama Dian runtuh dalam sekejap menjadi gelap gulita. Dihadapkan pada pilihan yang sulit. Seakan dirinya tengah berdiri di tepi jurang yang terjal dan dalam.
Tetapi pada akhirnya ia tetap menandatangani persetujuan operasi pengangkatan rahim pada putri bungsunya itu.
Deg...
Pram begitu terkejut dengan cobaan yang datang bertubi-tubi pada keluarganya. Anita yang tidak kunjung hamil hingga saat ini. Dan adik kandungnya, selamanya tidak akan pernah memiliki keturunan. Kini hanya tinggal dirinya yang bertugas meneruskan keturunan keluarganya, memberi cucu untuk ibunya.
Mama Dian melihat putra sulungnya tampak letih akhirnya menyuruh Pram lebih baik pulang dan beristirahat. Besok pagi saja baru kembali ke rumah sakit. Pram pun hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan rumah sakit.
Selang satu jam, akhirnya Pram tiba di apartemennya. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Anita belum juga pulang.
Lalu ia mandi sejenak. Dan usai mandi saat dirinya masih mengenakan bathrobe, Pram memutuskan memejamkan mata sejenak akibat lelah fisik dan batin yang menderanya.
Tak lama ia bermimpi tengah bermain dengan seorang bocah laki-laki yang usianya sekitar dua tahun lebih. Sangat tampan dan mirip sekali dengan dirinya.
__ADS_1
Namun tiba-tiba sosok mantan istrinya, Rara, datang bersama seorang lelaki yang juga gagah dan tampan. Tetapi sayang wajah lelaki itu ia tak melihat dengan jelas sehingga tak mengenali sosok tersebut.
"Lepaskan putraku, Mas. Kamu tak berhak menyentuhnya. Karena kamu sudah membunuhnya!" pekik Rara seraya mengambil paksa bocah laki-laki yang sebelumnya berada dalam gendongannya. Lalu ketiganya menghilang meninggalkan dirinya yang sendirian di tempat sunyi nan gelap.
"Rara !!" teriak Pram yang mendadak terbangun akibat bunga tidurnya.
Keringat dingin langsung membanjiri wajahnya. Ia megusapnya secara kasar dan berusaha mengatur nafasnya sejenak. Lantas ia pun menoleh dan melihat jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Anita masih belum juga pulang.
Kemudian ia pun berniat berganti baju. Sebab masih mengenakan bathrobe. Saat kedua tangannya mencari kaos favoritnya di tempat biasanya, ia tak kunjung menemukan. Ia pun membuka lemari yang lain. Mungkin istrinya itu meletakkan bajunya di lemari satunya, pikir Pram.
Saat tangannya memilah-milah tumpukan baju di lemari tersebut, tiba-tiba sesuatu terjatuh tanpa disengaja. Matanya pun seketika berubah fokus pada sebuah amplop ukuran panjang yang terjatuh di kakinya.
Deg...
"Amplop apa ini? Punya siapa?" batin Pram seraya berjongkok untuk mengambilnya.
Ia pun memungut amplop tersebut yang tertera label sebuah nama rumah sakit cukup ternama di Jakarta. Membuka amplop tersebut perlahan-lahan dan membacanya dengan seksama.
Seketika...
__ADS_1
🍁🍁🍁