Pembalasan Mantan Istri

Pembalasan Mantan Istri
Bab 48 - Princessku Pahlawanku


__ADS_3

Leon bergegas datang menjemput Rara sesuai perintah bos bucinnya. Saat tiba di TKP, ternyata ban mobil Rara yang kena ranjau paku sebanyak dua buah. Sedangkan sopir Rara hanya membawa satu ban cadangan saja. Alhasil bodyguard Rara yang bersamanya tengah mengusahakan ban cadangan datang satu lagi.


Namun karena Leon datang lebih cepat maka akhirnya Rara dan Pram ia bawa dalam mobil yang ia kemudikan. Mereka bertiga pun lantas kembali ke hotel. Dengan pengawalan patwal dari pihak kepolisian yang diminta Leon, akhirnya Rara tiba di hotel dalam tempo yang cukup cepat.


Setibanya di restoran, ia tak mendapati suaminya. Lantas ia mendekat ke arah Pak Johan. Sedangkan Pram meminta izin ke toilet sejenak.


"Pak Johan, suami saya di mana? Kata Leon tadi, suami saya sudah ada bersama Bapak di sini?" tanya Rara seraya mencari keberadaan David di area restoran yang telah dipesan oleh PT. GINCU.


"Tuan David tadi pamit ingin kembali ke kamarnya, Nyonya. Sepertinya beliau sedang sakit. Akhirnya saya suruh Anita menemani di sana sampai Nyonya datang," jawab Pak Johan apa adanya.


Deg...


"Sakit? Anita? Ada apa ini?" batin Rara mendadak cemas dan curiga. Setahunya David berangkat ke Bandung dalam kondisi sehat. Lalu ke hotel di Bekasi juga tak ada kabar sakit. Jika pun sakit pasti Leon tadi memberitahunya ketika di mobil. Tetapi Leon tak ada mengabarkan apapun jika suaminya sedang sakit. Dan sekarang Pak Johan mengatakan suaminya sakit dan bersama Anita di kamar. Terasa janggal baginya.


Rara mencium ketidakberesan. Akhirnya ia berpamitan pada Pak Johan lantas menemui Leon yang tadi sedang berada di lobby hotel berbincang dengan resepsionis guna memesan beberapa kamar untuk sopir dan bodyguard Tuannya.


"Leon," panggil Rara.


Sontak Leon pun langsung menoleh dan berpamitan pada resepsionis sejenak. Lalu ia melangkah menuju Rara.


"Iya, Nyonya muda. Ada apa?" tanya Leon.


Rara pun langsung menceritakan pada Leon mengenai ketidakberesan yang ia rasakan. Akhirnya mereka berdua bergegas menuju kamar David yakni kamar 888 di lantai delapan.


Saat Rara dan Leon keluar dari pintu lift, mereka melihat dari kejauhan Anita memapah suaminya masuk ke dalam kamar. Langkah kakinya berhenti sejenak. Ia pun menyuruh Leon berhenti juga. Mereka melihat kondisi David seperti orang mabuk dari arah belakang punggung David. Terlihat sedikit sempoyongan. Rara semakin curiga ada yang tidak beres.


Lantas setelah melihat keduanya masuk ke dalam kamar, Rara memiliki ide lalu ia mengatakan pada Leon untuk bergegas melakukannya. Leon pun menyerahkan kartu duplikat kamar David pada Rara yang memang ia bawa sejak tadi.


Tinggal Rara yang bersembunyi di lorong tersebut dekat pintu darurat. Sedangkan Leon sudah turun ke bawah melakukan misi penting yang diperintahkan Rara.

__ADS_1


Tak lama Rara melihat Anita keluar dari kamar sang suami. Bergegas ia masuk ke dalam kamar nomor 888.


Brakk...


Rara yang berkeringat sebab jantungnya berdegup kencang khawatir terjadi sesuatu pada suaminya sehingga dari lorong menuju kamar David, ia berlari kencang setelah melihat Anita masuk ke dalam lift.


Namun ia bernafas lega sebab melihat pakaian David masih utuh. Seketika...


"Ra, jangan mendekat !!" teriak David.


"Kenapa, Mas?" tanya Rara terkejut sang suami berteriak padanya. Padahal biasanya David selalu bertutur kata lembut terhadapnya.


Namun Rara tetap Rara. Ia tetap berjalan mendekat ke arah ranjang. Walaupun David melarangnya.


David bergerak menjauhinya. Namun Rara pantang menyerah. Dan semakin ia mendekat, ia melihat keanehan pada diri sang suami. Rara bukan anak ingusan kemarin sore yang tak memahami sebuah kondisi seperti yang dialami suaminya saat ini.


Ia pernah mengalami hal ini saat bersama mantan suaminya dahulu. Kala Pram mendadak seperti orang kesetanan melahap habis dirinya di atas ranjang.


Deg...


"Mas tahu penyebab tubuhmu seperti ini?" tanya Rara dengan menelisik tajam.


"Ta_hu Ra. Sudah, aku enggak apa-apa. Tolong bantu aku ke kamar mandi. Aku mau berendam air dingin. Nanti juga kembali normal," cicit David terbata-bata menahan gai rahnya.


"Yakin dengan mandi air dingin bisa selesai?" tanya Rara kembali mendesaknya.


"Iya, Ra. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Kamu enggak usah khawatir. Tolong sambil menungguku berendam, pesankan susuu dingin dengan es batu untukku," pinta David seraya berusaha bangkit dari ranjang.


"Ayo, Mas. Aku bantu," ucap Rara yang menarik lengan David dan memapahnya keluar kamar.

__ADS_1


Tubuh David yang tak bisa dikendalikan dan otaknya yang sedang tidak bisa diajak kompromi hanya bisa terpelongo saat Rara membawanya keluar kamar bukan ke kamar mandi dan ia baru tersadar setelah Rara menutup pintu kamar 888.


"Ke mana kita, Ra?" tanya David penuh keheranan.


"Mas nurut saja sama aku. Kalau enggak nurut nanti aku pergi jauh. Mau?" ancam Rara dengan nada tegas.


Bak seperti seekor anak ayam yang takut kehilangan induknya, David pun menuruti apa kemauan sang istri. Ia hanya bisa pasrah dibawa oleh Rara, entah ke mana.


Dan ternyata Rara pergi membawanya ke kamar lain di lantai sepuluh di hotel yang sama.


Ceklek...


Pintu pun dibuka secara kasar oleh Rara. Ia bergegas membaringkan tubuh sang suami ke atas ranjang. Tak lupa ia mengunci pintu. Dan saat di depan ranjang, sang istri dalam posisi berdiri menghadap dirinya, tiba-tiba melepas seluruh pakaian yang melekat.


Glugg...


Sontak pupil matanya melebar dan ia menelan salivanya dalam-dalam. Melihat pemandangan indah yang seumur-umur tak pernah dilihatnya secara live alias langsung. Kecuali saat hidup di UK pernah sesekali melihat film biru-biru di ponselnya, film kesukaan para lelaki.


"Ra," cicit David lirih dan matanya tetap tak berkedip memandang sang istri yang berada di depannya sudah dalam kondisi polos tanpa sehelai benangpun.


Pistol di bawahnya sejak tadi sudah ingin memberontak keluar dari sarangnya. Terlebih berada di dekat sang istri yang saat ini sudah dalam kondisi full naked, Rara berjalan perlahan mendekatinya. Seakan sengaja menggodanya. Semakin membuat sesak pistol made in blasteran di bawah sana.


Dengan tangan lincahnya, Rara mematikan lampu utama kamar dan hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu tidur yang redup. Namun api cinta diantara keduanya tidak redup seperti lampu di kamar mereka. Justru tengah berkobar dan hawa panas mulai mendera keduanya yang bersiap menuju perayaan cinta malam ini.


Malam pengantin yang sempat tertunda karena belum ada cinta di hati Rara saat dirinya menikah dengan David beberapa bulan lalu. Pernikahan yang didasari guna memuluskan niatnya membalaskan dendam pada mantan suami dan mantan sahabatnya yang tega berkhianat padanya.


Namun malam ini seakan hatinya mulai merasakan cinta tak kasat mata yang sudah tumbuh di hatinya tanpa disadarinya. Cinta yang tersemat hanya untuk satu nama yakni David Barnett. Selamanya untuk seumur hidupnya.


Bip...

__ADS_1


Bersambung...


🍁🍁🍁


__ADS_2