
Sisy telah sadar usai operasi pengangkatan rahim. Dirinya menangis tergugu dan meminta maaf di depan ibunya. Mama Dian sempat memukuli Sisy sambil berderai air mata.
"Tega kamu, Si! Huhu... Mama berusaha gedein kamu dengan baik. Kenapa jadi begini? Ya Tuhan, apa dosaku sampai putriku seperti ini?" ucap Mama Dian seraya menangis. Terlupa akan dosanya yang sudah menggunung. Terutama dosa pada mantan menantunya, Rara. Hingga pembalasan dari Tuhan datang padanya namun belum juga menyadari kesalahannya.
"Maafin Sisy, Ma. Sisy janji enggak akan ulangi lagi dan jadi anak yang baik buat Mama," ucap Sisy mencium tangan Mama Dian sembari berurai air mata.
Ketika ibu dan anak itu saling berpelukan dan menguatkan, tiba-tiba ponsel Mama Dian berdering dari nomor tak dikenal. Ia pun mengangkatnya.
"Halo, siapa ini?" tanya Mama Dian to the point.
"Kami dari pihak kepolisian ingin mengabarkan bahwa putra ibu yang bernama Pramana Handoko saat ini tengah mendekam di Polres Metro Bekasi Kota. Putra ibu menjadi tersangka penganiayaan hingga menyebabkan atasan kantornya bernama Johan meninggal dunia. Sekian informasi mengenai saudara Pram yang ditujukan pada pihak keluarganya. Silahkan ibu bisa datang ke kantor polisi jika ingin melihat kondisi putranya," ucap petugas kepolisian dengan lugas.
Deg...
"Apa? Mana mungkin putra saya jadi pembunuh, Pak! Bapak jangan asal menuduh. Ini pasti fitnah. Putra saya itu anak baik-baik. Mungkin Pram yang lain. Bukan putra saya!" bentak Mama Dian pada petugas. Sebab ia tak terima Pram dituduh membunuh.
"Silahkan berbicara langsung dengan putra ibu. Saya beri waktu satu hingga dua menit saja," ucap petugas.
Akhirnya Pram pun berbicara singkat dengan ibunya di telepon setelah diizinkan petugas. Sontak Mama Dian terkejut bukan main hingga tanpa sadar menutup telepon sepihak.
"Dasar Anita brengsek!! Wanita murahan. Gara-gara dia, anakku di penjara. Dia harus mati. Wanita pembawa sial !!" maki Mama Dian histeris tanpa sadar.
Sisy yang bingung pun akhirnya memanggil dan menyentuh tangan sang mama agar segera tersadar. Bahwa saat ini mereka berada di kamar rumah sakit kelas tiga yang berisi beberapa orang pasien dan keluarganya.
__ADS_1
Bukan kamar kelas satu atau VIP yang satu kamar hanya berisi satu pasien. Tentu saja kelakuan Mamanya barusan membuat dirinya semakin dirundung malu.
Terlebih keluarga pasien lain melihatnya dengan tatapan tajam tak suka. Seakan tatapan mencemooh dan menghina namun dalam diam.
"Mah, malu. Sudah, Mah. Diam Mah..." ucap Sisy mengingatkan sang mama seraya menyentuh tangan Mama Dian. Dan mencoba menyadarkan sang mama agar berhenti meracau.
Seketika Mama Dian tersadar dan langsung duduk di kursi dekat ranjang Sisy. Walaupun begitu, dia masih mengumpati Anita dengan suara lirih. Kemarahannya pada Anita sudah terasa sampai ke ubun-ubun.
Akhirnya siang hari, Mama Dian pergi ke Bekasi guna menjenguk putra sulungnya yang berada di balik jeruji besi. Sungguh hatinya nelangsa ketika melihat putra kesayangannya berada di dalam penjara dan wajahnya pucat pasi seakan tak punya semangat hidup. Ia menangis tergugu di balik kaca ruang bertemu tahanan, mendengar penjelasan langsung dari putra sulungnya itu.
"Maafin Pram, Ma. Ternyata kita semua ditipu oleh Anita. Dia yang menyebabkan Rara menjadi seperti itu akibat terapi hormon yang disengaja dimanipulatif oleh Anita. Rumah tanggaku hancur bersama Rara. Kita banyak dosa sama Rara, Ma. Terutama aku. Apalagi rumah peninggalan orang tuanya pun aku gadaikan tanpa sepengetahuannya untuk memenuhi hidup keluarga kita dan kemauan Anita. Aku ingin minta maaf sama Rara, Ma. Jika perlu aku akan bersujud di kakinya. Aku benar-benar menyesal," cicit Pram seraya menunduk dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Mama Dian tertegun dan membisu tatkala mendengar Pram mengakui layaknya pengakuan dosa yakni menggadaikan rumah orang tua Rara secara diam-diam. Hingga rumah tersebut disita oleh bank. Ia tak menyangka putranya melakukan hal itu karena bujuk rayuan Anita dan tuntutan darinya sebagai seorang ibu yang haus akan materi berlimpah.
"Maafin Mama dan Sisy, Pram. Kami juga banyak salah sama Rara dan juga kamu," cicit Mama Dian sendu.
"Rara enggak berselingkuh seperti apa yang Sisy bilang. Semua itu hanya fitnah dan jebakan dari adikmu sendiri yang juga dapat dukungan dari Mama. Kemarin saat sadar, adikmu minta tolong menyampaikan hal ini padamu dan ingin meminta maaf. Mama dan Sisy sudah sadar atas semua kesalahan kami," ucap Mama Dian lirih dan menunduk. Tak berani menatap putra sulungnya itu.
"Apa? Jadi itu semua cuma fitnah? Ya Tuhan, Mama !! Aku telah membunuh anak kandungku sendiri yang ada di rahim Rara kala itu. Bayi yang aku ragukan. Bayi yang tidak ku akui. Ternyata dia benar-benar anak kandungku. Sungguh bodohnya diriku. Haha..." ucap Pram yang meracau, menertawakan kebodohan dirinya sendiri sekaligus menyesal yang luar biasa hebat bercokol di hatinya.
☘️☘️
Tiga bulan kemudian.
__ADS_1
Pram dijatuhi hukuman kurungan penjara selama 10 tahun atas penganiayaan berat yang dilakukannya hingga menyebabkan Pak Johan tewas.
Hasil audit menyatakan Pram dan Anita terbukti melakukan penggelapan dana perusahaan yang dilakukan keduanya. Dan secara sah terbukti pada audit neraca keuangan (balance sheet) tahun lalu yang baru dilakukan audit tahun ini secara menyeluruh.
Alhasil Pram dan Anita diberhentikan secara tidak terhormat dari PT. GINCU. Gaji terakhir dan pesangon pun tidak dibayarkan. Akhirnya mobil keduanya, beberapa barang berharga berupa perhiasan dan deposito atas nama keduanya juga disita sebagai pembayaran ganti rugi pada perusahaan.
Apartemen Anita sudah tersita oleh pihak bank dikarenakan tidak ada pembayaran cicilan atas peminjaman yang dilakukan beberapa waktu lalu dengan jaminan sertifikat apartemen tersebut.
Rumah Mama Dian pun ikut tersita karena sudah beberapa bulan tidak ada pembayaran yang masuk ke pihak bank atas dana peminjaman yang lalu dilakukan oleh Pram senilai dua milyar rupiah guna membayar ganti rugi pada Rara atas insiden makan siang yang berujung alergi kambuh. Sesuai kesepakatan secara tertulis maka otomatis rumah tersebut menjadi hak milik bank yang akan dilelang dalam waktu dekat.
Mama Dian tentu tidak terima akan hal itu. Sebab seluruh tabungannya sudah habis untuk membayar operasi dan perawatan Sisy hingga sembuh serta membayar pengacara untuk Pram yang dipenjara. Niat hati ingin memperingan hukuman sang putra namun justru ia kena tipu pengacara gadungan yang membawa kabur uangnya senilai lima puluh juta rupiah.
Kini dirinya terkejut bukan main tatkala rumahnya disita oleh pihak bank. Dan tak menyangka putra sulungnya dengan tega menggadaikan rumah warisan mendiang suaminya tanpa sepengetahuan dirinya. Harta satu-satunya hilang sudah.
Semua tetangga melihat saat dilakukan ekse_kusi penyitaan rumahnya. Banyak yang menggunjingnya serta mencemooh melalui tatapan tajam yang semakin membuat dirinya dan keluarganya terhina ke dasar jurang.
"Tidak!! Jangan ambil rumahku. Enggak boleh. Ini rumahku bukan rumah Pram. Pergi kalian. Pergiii !!" teriak Mama Dian memarahi petugas yang akan melakukan ekse_kusi penyitaan. Mama Dian meracau tak jelas dan seketika syok hebat menderanya hingga tubuh rentanya roboh. Pingsan.
Beruntung Sisy berada di sebelah Mama Dian. Dengan sigap ia menangkap tubuh ibunya agar tidak terjatuh di tanah.
"Ma, bangun. Jangan tinggalkan Sisy. Bangun Ma..." cicit Sisy sendu hingga berurai air mata seraya memeluk sang mama.
Tetangga rumah di kediaman mereka hanya menjadi penonton dan kebanyakan mencibir pedas keluarga Handoko. Seolah mereka tak sudi menolong keluarga tersebut.
__ADS_1
Bersambung...
🍁🍁🍁