Pembalasan Mantan Istri

Pembalasan Mantan Istri
Bab 44 - Sindiran Pedas Mertua


__ADS_3

Di tempat lain, Sisy pun menyerahkan uang tiga puluh juta yang diminta oleh Rio. Dia sempat meminjam uang pada Pak Johan guna membungkam Rio agar tidak menyebarkan video syuurrnya. Namun Pak Johan tak memberikannya karena lelaki itu masih kecewa dan tak mau tertipu kembali dengan bujuk rayuan adik kandung Pram tersebut.


Alhasil dengan terpaksa ia menerima tawaran pekerjaan dari seorang teman untuk membuka kaki pada lelaki tua kaya yang sedang ingin bercinta dengan wanita muda. Lelaki tua itu rela membayar Sisy senilai tiga puluh juta rupiah untuk digunakan semalam.


Namun Sisy tak menduga tubuhnya akan babak belur dihajar oleh lelaki tua yang memiliki suatu penyimpangan tersebut saat melakukan hubungan. Tetapi malang tak dapat ditolak. Demi uang tiga puluh juta ia merelakan tubuhnya babak belur dihajar lelaki tua tersebut.


"Uangmu sudah aku transfer barusan. Mana videoku?" pinta Sisy dengan tegas di depan Rio.


Dan Rio pun tersenyum sumringah kala melihat ponselnya dan mengecek bahwa uangnya telah masuk ke rekeningnya.


"Nih, video kamu. Hanya tersisa kamu di video tersebut. Aku juga sudah jijik menyimpannya!" pekik Rio seraya melempar sebuah flashdisk pada Sisy lalu pergi tanpa pamit.


Sisy pun memasang flashdisk tersebut di ponselnya dan melihat isi video, tinggal dirinya saja di dalam sana. Lantas flashdisk tersebut ia remukkan dengan beberapa pukulan dari sebuah batu yang ada di sekitarnya hingga menjadi serpihan-serpihan kecil. Kebetulan dirinya dan Rio bertemu di jalanan yang terbilang sepi.


"Ah, beres juga masalah video masa lalu. Huft !! Aku harus semangat kerja lagi buat naikin pamor model aku," gumam Sisy seraya pergi meninggalkan jalanan tersebut dengan tersenyum sumringah karena satu masalahnya sudah beres.

__ADS_1


☘️☘️


Satu bulan telah berlalu. Anita telah menyelesaikan pekerjaan sosialnya di panti jompo dan panti asuhan sesuai kesepakatan sebelumnya. Namun setelah pekerjaan tersebut selesai, Anita justru terbaring di rumah sakit karena menderita kelelahan sekaligus asam lambungnya kambuh.


Alhasil dirinya harus menjalani rawat inap di rumah sakit selama beberapa hari. Mama Dian pun akhirnya datang menengok setelah mendengar kabar dari putranya.


"Dapat kabar dari Pram kalau kamu masuk rumah sakit, Mama pikir dapat kabar kamu hamil. Eh gak tahunya, sakit karena kecapekan saja. Buang-buang duit," sindir Mama Dian.


"Sial !!" maki Anita dalam hati.


"Maaf, Mah. Asam lambungku kambuh dan sedang banyak proyek, jadi aku kelelahan. Kata dokter harus opname jadi ya sudah sekarang ngamar di rumah sakit dulu," cicit Anita seraya tersenyum tipis.


"Rara dulu saja setahu Mama enggak pernah opname di rumah sakit. Fisiknya kuat padahal di rumah, Mama suruh masak sama bersih-bersih semuanya. Dulu juga Rara kan pernah kerja di kantor yang sama dengan kamu tapi kok gak pernah masuk rumah sakit kayak kamu begini. Kamu kerja di balik meja sebentar saja sudah tumbang. Payah," cibir Mama Dian.


Raut wajah Anita yang tersenyum berubah redup seketika karena dirinya dibandingkan dengan Rara, mantan istri pertama suaminya sekaligus mantan sahabatnya. Rahangnya tiba-tiba mengeras dan sudah barang tentu ia tak terima jika dibandingkan dengan orang lain terlebih Rara.

__ADS_1


"Soalnya aku ada pekerjaan sampingan satu bulan ini jadinya belum terbiasa untuk adaptasi, langsung drop." Anita berusaha membela diri dengan terpaksa berbohong. Namun kebohongannya seketika menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.


"Oh, kamu kerja sampingan selain jadi sekretaris. Kerja apa atau kamu buka bisnis?" tanya Mama Dian yang terkenal dengan mata duitan.


"Ehm... itu Mah. Ker_ja sosial," jawab Anita kikuk dan gugup.


"Hah, kerja sosial gimana maksudnya?" tanya Mama Dian heran.


"Kerja di panti asuhan gitu, Mah. Gajinya kecil tapi aku seneng banget ketemu dengan banyak anak kecil di sana. Siapa tahu cepet ketularan hamil sebentar lagi," ucap Anita terpaksa berbohong kembali.


"Ya ampun. Buang-buang waktu dan tenaga saja. Daripada kamu kerja sosial tapi gaji gak seberapa, mending di rumah saja. Nemenin suami kamu. Buatin cucu Mama. Kalau mau bantu beberes, di rumah Mama juga bisa. Kan juga termasuk itu kerja sosial di rumah mertua. Toh gajinya Pram juga banyak yang kamu terima dan masuk ke kantong pribadimu. Masak enggak bantu-bantu mertua sama sekali sih jadi menantu. Beda banget sama Rara dulu. Kalau kamu kecapekan terus begini, gimana kalian cepet kasih cucu buat Mama. Padahal Mama sudah kepengin banget gendong cucu. Teman-teman arisan Mama semua sudah pada punya cucu. Cuma Mama yang belum punya. Enggak kamu, enggak Rara, problem utama kalian jadi istri mandul semua. Enggak ada yang kasih cucu ke Mama. Apa nunggu Mama mati dulu baru kalian kasih cucu!" pekik Mama Dian.


"Dasar nenek tua peyot! Sudah bau tanah masih saja banyak maunya. Mending segera mati saja. Biar hidupku tenang sama Mas Pram gak ditagih cucu melulu, huft !!" batin Anita kesal.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2