Pembalasan Mantan Istri

Pembalasan Mantan Istri
Bab 52 - Gelap Mata


__ADS_3

Sebelumnya.


Selepas acara santap malam, mendadak tubuh Anita merasakan sesuatu yang aneh. Leon di ujung sana hanya tersenyum tipis melihat gelagat Anita yang aneh. Suasana restoran cukup sepi.


Leon pun berpamitan pada Pak Johan. Dirinya beralasan ingin pergi ke bar sejenak dengan beberapa bodyguard.


"Tubuhku kenapa panas begini? Oh..." racau Anita berusaha menahan gejolak yang mendadak berkorbar dalam dirinya. Sebuah hassrat ingin bercinta.


Pak Johan yang melihat Anita tengah berkeringat padahal suhu ruangan di restoran cukup dingin, akhirnya ia pun mendekati sekretarisnya itu.


"Kamu kenapa, Nit? Apa ada sesuatu yang terjadi, kok kamu keringetan begini?" tanya Pak Johan.


"Ehm, Pak. Boleh bantu saya berjalan ke kamar Tuan David nomor 888. Tadi beliau saya tinggal di sana. Takutnya Tuan David butuh sesuatu," cicit Anita yang merasa tubuhnya seakan susah untuk berjalan sempurna akibat dorongan tak kasat mata di sekujur tubuhnya.


"Oke," jawab Pak Johan.


Akhirnya Pak Johan membantu Anita berjalan dengan memapahnya menuju kamar nomor 888. Setibanya di sana, keduanya terkejut karena David tak ada di dalam kamar tersebut.


"Loh, Tuan David ke mana ya Nit?" tanya Pak Johan seraya berjalan mencoba mengecek kamar mandi namun hasilnya nihil. David tidak ada di tempat.


"Saya juga enggak tahu, Pak. Padahal tadi Tuan David sedang tidak enak badan lalu tiduran di ranjang saat saya tinggal kembali ke bawah," jawab Anita yang juga heran melihat David tak ada di kamar nomor 888.


"Sial !! Rencanaku tidur dengan Tuan David gagal. Huft !" batin Anita mengeluh kesal.


Dan tiba-tiba dari belakang Anita yang sudah tidak kuat menahan gejolak dalam dirinya akhirnya menerjang Pak Johan hingga keduanya jatuh di atas ranjang. Kucing diberi ikan tentu tidak akan menolak.


Terlebih Anita yang di bawah pengaruh zat afrodisiak yang sengaja dicampurkan oleh Leon lewat pelayan restoran ke dalam minuman Anita saat akhir santap malam. Membuat istri siri Pram tersebut begitu memba_bi buta memberi kenikmatan tiada tara secara cuma-cuma pada Pak Johan.


Dan saat keduanya tertidur setelah pertempuran dahsyat, tiba-tiba pintu kamar mereka didobrak oleh seseorang. Dan pelaku pendobrakan yakni Pram, suami siri Anita.


Memergoki secara langsung dengan mata kepalanya sendiri Anita tidur bersama lelaki lain. Dan parahnya lagi, lelaki tersebut ternyata atasan kantornya. Kemarahan Pram semakin tak terkendali. Otaknya mendadak tak bisa berpikir dengan jernih.


"Brengsek kalian berdua!!" teriak Pram menggelegar.

__ADS_1


Deg..


Keduanya pun terbangun dan langsung terkejut melihat Pram berada di depannya dengan tatapan tajam bak belati yang siap menghunus. Terlebih Anita, kondisinya yang tengah polos bersama Pak Johan dan saat ini Pram memergokinya. Sungguh di luar dugaannya.


"Mas, aku bisa jelaskan ini semua. Kamu harus dengarkan aku," cicit Anita terlihat gugup dan panik.


"Wanita sialan!! Kamu sengaja membuat Rara menjadi gemuk dan jelek. Kamu merusak rumah tanggaku dengan Rara. Membuat hubunganku dengan Rara hancur berantakan hingga tak bersisa. Kamu sudah menipu dan membohongiku sedemikian rupa. Dan bodohnya aku begitu percaya padamu. Lantas sekarang kamu tidur dengan atasan kamu sendiri. Dasar brengsek!!" maki Pram dengan suara menggelegar.


"Mas, tenang. Aku bisa jelaskan itu semua," ucap Anita dengan ikut berteriak.


"Penjelasan apa? Ini buktinya!" teriak Pram seraya melempar semua kertas bukti kebusukan tersebut pada wajah Anita.


Deg...


Seketika Anita terkejut bukan main. Seluruh rahasia yang berusaha ia tutup rapat-rapat kini terbongkar.


"Kamu pasti menyesal kenapa sejak dulu tidak segera membakar kertas itu. Yang ternyata bahwa kamu mandul. Haha... dasar wanita murahan!! Selama ini pantas saja kamu tidak bisa hamil. Aku berusaha sekuat tenaga menghamilimu juga selamanya tidak akan bisa membuatmu hamil. Sungguh bodohnya diriku," ucap Pram menertawakan dirinya sendiri. Tiba-tiba...


PLAKK !!


Pak Johan pun berusaha akan pergi tetapi langkahnya terhenti dan justru mendapat bogeman mentah dari Pram. Ia sudah marah dan kecewa atas perlakuan Anita padanya. Dia sudah tak melihat siapapun. Walaupun Pak Johan atasannya sekaligus. Dirinya sudah gelap mata hingga Pak Johan dihajar hingga babak belur.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


"Aaaa... hentikan Mas !! Pak Johan bisa mati kau pukuli!" teriak Anita yang masih dalam kondisi polos di atas ranjang dan hanya menutupi tubuhnya dengan selimut.


Brakk...


Pak Johan pun akhirnya tumbang setelah dihajar oleh Pram hingga babak belur dan tanpa sadar Pram mendorong Pak Johan dengan niatan ingin melempar Pak Johan ke lantai. Namun berujung fatal saat kepala Pak Johan tanpa sengaja terbentur ujung meja yang cukup runcing hingga mengakibatkan pendarahan hebat di kepalanya. Seketika Pram tersadar setelah Anita berteriak.

__ADS_1


"Aaaa..." teriak Anita histeris melihat darah mengalir di kepala Pak Johan dan tak ada pergerakan lagi pada tubuh atasannya itu.


Deg...


"Ya Tuhan, apa yang kulakukan? Pak Johan..." cicit Pram lirih dengan tubuh mematung dan tangannya terdapat bercak darah Pak Johan.


"Aaa... tidak. Tidak !!" teriak Anita mendadak histeris.


Lalu Anita keluar dari kamar nomor 888. Ia berlari dan berteriak histeris hingga menjambak-jambak rambutnya sendiri. Tanpa sadar ia berlari keluar kamar dalam kondisi belum berbusana sama sekali.


"Tidak !! Aku bukan pembunuh. Rara pembunuhnya bukan aku. Haha..." racau Anita tidak jelas hingga keluar hotel dan dirinya menjadi tontonan banyak orang yang masih berjaga.


"Dasar orgil," ucap salah satu petugas hotel yang melihatnya.


"Orgil apaan?" tanya rekannya yang bingung.


"Orang gila, dudul !! Sudah biarin. Yok kerja lagi," ucap petugas hotel yang pertama memergoki Anita bertingkah seperti orang gila.


Tak lama pihak kepolisian pun datang ke TKP setelah mendapatkan telepon dari pihak hotel bahwa terjadi penganiayaan yang menyebabkan korban tewas di kamar nomor 888. Pram pun diringkus tanpa paksaan. Sebab ia menyadari kesalahannya karena emosi semata yang membuat dirinya gelap mata.


Setelah pihak berwajib menggelandang Pram ke kantor polisi, Leon pun menghubungi Tuannya guna menyampaikan apa yang terjadi. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul empat pagi. Ia yakin Tuannya sudah bangun setelah melewati perayaan cinta bersama sang Nyonya muda.


David pun mengangkat telepon dari Leon dan berjalan menuju balkon kamar. Tak lupa ia menutup rapat pintu balkon. Sebab ia tak mau mengganggu princessnya yang tengah tertidur pulas setelah menjadi joki pacuan turbo bersamanya.


"Makasih, Leon." David mengucapkan terima kasih pada asisten pribadinya itu yang dengan sigap melakukan misi penting sang istri dengan baik.


"Mereka pantas menerima itu semua. Tuhan sudah menunjukkan jalan akhir bagi orang-orang seperti mereka. Istirahatlah. Dan satu lagi, jangan ganggu aku sampai siang."


"Beres, Tuan. Tapi kasihan Nyonya muda kalau terlalu banyak digempur sama turbo unlimited, Tuan. Bisa-bisa masuk UGD nantinya," cicit Leon tanpa tedheng aling-aling.


"Mau mati kau, Leon! Ikut campur urusan si turbo. Urus saja senjatamu sendiri. Bisa bangkit apa enggak !!" pekik David.


Bip...

__ADS_1


Bersambung...


🍁🍁🍁


__ADS_2