
"Sayang, ayo pergi." Ajak Arya.
"Mau kemana mas?" Tanya Vana pura-pura lupa.
"Mas sudah janji mengajak kamu jalan-jalan. Kamu lupa?"
"Oh iya. Aku lupa mas, sebentar aku siap-siap dulu."
"Ya udah. Mas tunggu di bawah!"
Vana bergegas masuk ke dalam kamar untuk sekedar merias diri dan mengambil tas selempangnya.
"Mas, aku udah siap!"
Arya memandang Vana dari atas hingga kebawah, perempuan yang dulu ia kenal sayang anggun tapi kenapa sekarang berpakaian biasa saja.
"Mas, kamu malu dengan penampilan aku yang seperti ini?" Tanya Vana dengan memasang wajah sedih.
"Eh, enggak kok sayang." Jawab Arya buru-buru meraih tangan istrinya.
"Kalau mas malu dengan penampilan aku yang sekarang, ya udah. Gak apa-apa kok, kita gak usah pergi aja."
"Eh, jangan gitu dong sayang. Mana ada malu sama istri sendiri. Ya udah, gak usah marah. Sekarang, ayo kita pergi....!"
Jujur di dalam hari Arya, pria ini jijik dengan penampilan Vana yang terlihat seperti orang miskin.
Mereka akhirnya pergi, tidak pergi ke mall melainkan taman biasa yang banyak di kunjungi orang-orang. Vana merasa heran, kenapa suaminya mengajak ke tempat seperti ini.
"Sayang, berhubung mas gak punya uang banyak, sekarang kita jalannya di taman aja ya." Ucap Arya.
"Iya mas. Tidak apa-apa, aku senang kok di ajak keluar apa lagi di sini banyak anak-anak. Mas, semoga kita cepat di beri anak ya," ucap Vana.
"Iya sayang," jawab Arya yang sebenarnya ingin muntah saat mendengarnya.
"Ya ampun, itu lucu banget anak laki-laki yang itu. Mas, kamu mau anak perempuan apa laki-laki?" Tanya Vana iseng.
"Perempuan dan laki-laki sama aja yang penting sehat," jawab Arya. "Dan yang jelas bukan lahir dari rahim mu," ucap Arya di dalam hati.
"Mas, aku bahagia banget bisa pergi berdua seperti ini." Ujar Vana dengan senyum lebarnya.
"Iya sayang. Mas juga!" Sahut Arya.
Rasanya begitu muak, Arya ingin cepat-cepat pulang dan membersihkan seluruh badannya. Di sentuh oleh Vana membuat Arya merasa bersalah pada Sarah.
Sore telah berganti malam, Vana yang baru saja selesai mandi langsung pergi ke dapur untuk menghangatkan makanan tadi siang yang sempat ia masak.
"Sayang, mas pergi dulu ya." Pamit Arya.
"Mau kemana mas?" Tanya Vana penasaran.
"Mas ada janji sama Haidar, dia bilang ada pekerjaan bagus."
__ADS_1
"Oh, iya mas. Hati-hati di jalan!"
Arya tersenyum lebar, begitu bodohnya Vana hingga ia begitu mudah untuk di bohongi. Vana masa bodoh, wanita ini lebih memilih mengisi perutnya yang lapar dari pada harus menahan kepergian suaminya.
Bukan bertemu Haidar, tapi Arya menemui Sarah di apartemen milik Vana yang sudah di berikan pada Sarah.
"Aku melihat mu pergi bersama Vana tadi sore. Aku cemburu mas, apa kau tahu aku cemburu?"
Nafas Sarah memburu, menahan amarah dan rasa cemburu.
"Sayang, mau bagaimana lagi? Mas terpaksa!"
"Tetap saja aku tidak terima!" Seru Sarah.
"Sayang,.....!"
Pyaaaar.........
Sarah melemparkan gelas ke arah Arya hingga pecah.
"Kau sudah janji akan menikahi aku, mas. Aku tidak rela jika kau menyentuh Vana."
"Sampai detik ini mas belum menyentuh Vana. Segalanya milik mu, mas juga jijik melihat Vana."
"Aku tidak percaya! Vana jauh lebih cantik dari aku, aku cemburu!"
Sarah mengamuk, Arya pun panik. Pria ini membujuk dan merayu kekasih hatinya. Sarah melempar barang, Arya semakin bingung mau tidak mau Arya menangkap Sarah lalu memeluknya erat.
Ciuman Sarah semakin liar, memancing Arya untuk segera memulai permainan. Arya menghempas tubuh Sarah ke atas ranjang, menindihnya lalu mulailah permainan.
Hanya dengan begitu Sarah percaya jika Arya hanya mencintai dirinya dan bukan Vana.
Malam telah berganti pagi, Arya yang baru saja pulang ke rumah membuat Vana merasa curiga. Sengaja ia memasang wajah cemberut, menghadang suaminya di depan pintu.
"Sayang, mas....!"
"Kerja apa mas, sampai pagi begini?" Tanya Vana dengan suara dinginnya.
"Mas tadi malam memang mengurus pekerjaan, setelah itu Haidar mengajak mas minum. Mas mabuk, jadi mas tidak berani untuk mengemudikan mobil." Bohong Arya yang sebenarnya Vana tahu kemana Arya pergi.
"Jangan bohong mas," ucap Vana.
"Vana, kamu itu harus percaya dong sama suami. Arya udah berkata jujur loh sama kamu," ujar Mira yang ternyata sejak tadi menguping.
"Mamah, mamah ada di sini?"
"Iya. Mamah sama Vana masak tadi." Jawab Mira. "Vana, mamah boleh minta tolong sayang?"
"Iya mah, minta tolong apa?" Tanya Vana.
"Tolong belikan santan instan di minimarket depan ya." Titah Mira.
__ADS_1
"Oh, iya mah."
Vana bergegas pergi dengan menggunakan sepeda miliknya.
"Ayo masuk!" Ajak Mira pada anaknya saat Vana sudah tidak kelihatan lagi.
"Iya mah....!"
"Dari mana kamu?" Tanya Mira.
"Membujuk Sarah, dia marah besar saat tahu aku pergi bersama Vana."
"Jangan sampai Vana tahu tentang hubungan mu dan Sarah," ujar Mira.
"Aku sudah muak dengan Vana, mah. Sampai kapan aku harus berpura-pura seperti ini?"
"Kau harus ingat Arya, hutang kita pada keluarga Vana itu sangat banyak. Almarhum papah mu meninggal hanya karena memikirkan masalah ini."
"Ah, sudahlah mah. Aku tidak mencintai Vana, hanya Sarah yang aku cintai."
"Main yang hati-hati, awas saja kalau Vana sampai tahu!"
Arya tidak menghiraukan, pria ini masuk begitu saja ke dalam kamar. Melihat suaminya sudah masuk kedalam kamar, barulah Vana masuk ke dalam rumah.
"Mah, ini santannya." Ujar Vana yang baru saja datang.
"Eh,...oh...iya. Ayo kita lanjut masak lagi."
Seolah tak terjadi apa-apa, Vana bersikap seperti biasanya. Sekarang ia tahu sebab apa Arya dulu mendekati dirinya bahkan mau menikah dengan dirinya.
"Mas Arya gak pernah makan di rumah, mah. Percuma aja kalau kita masak," ucap Vana memberitahu mertuanya.
"Loh, kok bisa? Gimana sih Arya ini?"
"Mungkin sudah makan di luar sama teman sekantornya mah."
"Arya memang seperti Van, dia jarang makan di rumah. Sudah biasa makan di luar," ucap Mira berbohong.
"Gitu ya mah?"
"Iya, biarin ajalah. Lagian kamu gak usah capek-capek masak."
"Namanya juga seorang istri mah, melayani suami itu kewajiban meskipun terkadang ada suami yang hanya bersikap pura-pura baik di depan istrinya." Singgung Vana membuat wajah Mira gugup.
"Iya, kamu benar!" Sahut Mira dengan membuang muka. "Van, boleh mamah tanya sesuatu?"
"Iya mah, apa?"
"Em, anu. Kamu dan Arya udah......?"
Mira memainkan kedua jari telunjuknya.
__ADS_1