
Arya dan mamahnya tertawa keras atas keberhasilan mereka menendang Vana. Ini adalah satu kabar bahagia bagi Sarah yang sudah menunggu perceraian Arya dan Vana.
"Mau mamah apa kan berkas itu?" Tanya Arya.
"Nanti mamah akan memusnahkannya." Jawab Mira.
"Dengan begitu musnah juga hutang keluarga kita."
"Mari kita lihat, apa Vana bisa bertahan hidup di luar sana?"
"Iya, dia adalah anak orang kaya dan terpandang. Jika Vana menjadi gelandangan, apa kata mantan klien papi nya dulu?"
Ibu dan anak ini begitu bahagia sekarang, hutang sebesar sepuluh miliar hangus dalam waktu satu bulan.
Sementara itu, Vana yang saat ini sedang menyeret koper tiba-tiba saja di hentikan oleh sebuah mobil. Vana langsung membuka pintu mobil lalu masuk ke dalam.
Huft.......
Vana menghembuskan nafas lega.
"Akhirnya aku keluar juga dari rumah jahanam penuh drama itu," ucap Vana.
"Selanjutnya, apa rencana mu?" Tanya Zara sahabat sekaligus sekretaris papi nya Vana.
"Cari tahu kapan Arya dan Sarah menikah!" Titah Vana. "Aku akan membongkar sedikit tentang diriku yang bangkrut."
"Aku sudah tidak sabar melihat Sarah menderita. Dasar manusia tidak tahu berterima kasih!" Ucap Zara kesal.
"Mereka sampah!" Seru Vana.
"Kemana kau akan pergi? Pulang ke rumah mu atau.....?"
"Pulang ke apartemen mu saja, jika aku pulang ke rumah sekarang mereka akan curiga nanti."
"Oh, baiklah!"
"Pak Danu, di mana berkas yang asli?" Tanya Vana pada pria paruh baya yang duduk di kursi depan.
"Ini nona,....!"
"Pak, tentang kecelakaan papi, apa bapak sudah menemukan bukti?" Tanya Vana.
"Maaf nona, belum. Ada beberapa orang yang bermain di belakang dan itu bukan orang sembarang. Ibu Mira telah bersekongkol dengan beberapa saingan tuan Darius." Jelas pak Danu membuat dendam Vana semakin dalam.
__ADS_1
"Dasar manusia iblis. Demi ambisi bisa-bisanya menghilangkan nyawa orang lain!"
Mobil berhenti tepat di depan loby apartemen yang cukup mewah. Vana dan Zara keluar sedangkan pak Danu harus kembali melanjutkan perjalanan karena masih ada pekerjaan yang haru ia selesaikan.
Huft........
Vana membuang nafas panjang saat ia menghempas diri di atas sofa.
"Oh, astaga. Aku seperti baru keluar dari penjara," ucap Vana.
"Minum dulu,....!" Zara menyodorkan segelas air dingin pada Vana.
"Ra, bagaimana dengan gaji karyawan. Apa ada kendala selama aku tidak ada?" Tanya Vana.
"Tidak, aku dan pak Danu sudah mengurusnya." Jawab Zara.
Di antara Zara dan Sarah, dua orang sahabat yang di sekolahkan bahkan di beri pendidikan yang tinggi oleh keluarga Vana, hanya Zara yang tidak menusuk dari belakang bahkan selama ini Zara lah yang sudah membantu Vana dari belakang.
"Karyawan baru....!" Ujar Zara menunjukkan foto seorang pria.
"Hai, bukankah ini Adam, teman kuliah kita?"
"Iya, dia baru bekerja satu bulan di perusahaan mu."
"Staf pemasaran. Dia tampan sekali bukan? Arya saja lewat!"
"Aku masih ingat, dulu dia berjualan kue untuk biaya kuliahnya. Dia sangat baik, murah senyum dan ramah."
"Kau tertarik padanya sekarang?" Tanya Zara.
"Kenapa tidak kau saja?" Vana bertanya balik.
"Hai Van, kau tahu sendiri aku sedang mengincar anak pak Danu!"
Dua sahabat ini tertawa, mereka kembali mengingat masa-masa kuliah dulu. Sesekali merasa geram jika harus menceritakan sarah.
Sementara itu, Sarah tertawa puas setelah mendapatkan cerita dari Arya. Ya, sahabat tidak tahu diri ini tega berkhianat pada orang yang selama ini sudah membantunya.
"Sayang, aku bahagia banget. Aku sudah lama ingin melihat Vana menderita, hancur dan jatuh sejatuh-jatuhnya."
"Bagaimana, apa rasa sakit hati mu terbayarkan?" Tanya Arya.
"Tentu saja, Vana selalu mendapatkan apa yang dia mau. Tapi sekarang, dia menderita!"
__ADS_1
"Sayang, mari kita rayakan pesta pernikahan kita semewah mungkin." Ujar Arya.
"Tentu saja sayang. Aku sudah tidak sabar melihat Vana menangis darah di saat ia mengetahui jika mantan suaminya menikah dengan sahabatnya," ucap Sarah.
Mereka tertawa, terus tertawa tanpa Arya dan Sarah tahu jika ini adalah salah satu rencana Vana. Mereka telah masuk ke dalam jebakan Vana yang sesungguhnya.
Tiga hari kemudian, Vana yang sedang bersantai di balkon bersama Zara sambil menikmati pemandangan senja di sore ini di temani secangkir teh hangat.
"Bagaimana Zar, apa kau sudah mendapatkan tanggal dan tempat mereka menikah?" Tanya Vana yang sudah tidak sabar untuk menghadiri acara pernikahan mantan suaminya.
"Sudah, di hotel Xxxxx milik tuan Adris," jawab Zara seketika membuat senyum Vana melebar. "Pertengahan bulan, aku akan menyiapkan semuanya untuk mu."
"Kau memang sahabat ku yang paling baik Zar, setelah masalah ini selesai mari pergi berlibur berdua." Ajak Vana.
"Hai Van, tanpa kamu aku hanya gelandang jalanan. Kita berdua sama, sama-sama sebatang kara."
"Mari saling menguatkan, kita adalah saudara."
Sekilas tentang cerita Zara dan Sarah, mereka berdua di temukan di pinggir jalan saat sedang mengamen oleh tuan Darius. Saat itu hujan deras, Zara dan Sarah yang saat itu bersahabat langsung di bawa tuan Darius pulang karena ia merasa iba pada dua gadis itu.
Zara dan Sarah di beri tempat tinggal, di sekolahkan bahkan di beri pendidikan yang pantas oleh tuan Darius. Dua yatim piatu yang sudah tuan Darius anggap sebagai anak sendiri terlebih lagi ia hanya memiliki satu anak.
Vana merasa senang saat melihat papahnya pulang dengan membawa dua orang teman baru. Gadis yang selama ini belum menerima kematian mami nya akhirnya mau menerima setelah ia mendapatkan teman baru yaitu Zara dan Sarah.
"Hai Van, kau tidak berniat pergi ke kantor kah?" Tanya Zara iseng. "Ehem, ya untuk sekedar menyapa Adam."
"Nanti saja, setelah pernikahan Arya dan Sarah. Jika aku pergi sekarang, mereka akan tahu tentang rencana ku."
"Sebenarnya aku gemas sendiri. Aku sudah tidak sabar melihat ekspresi mereka berdua terutama Arya. Si bajingan kancil itu."
"Aku jauh lebih gemas lagi ingin membuat hidup mereka menderita!"
"Mari bersikap kejam pada orang yang sudah menyakiti mu terutama pada Sarah yang tidak tahu terimakasih itu," ucap Zara kesal.
Senja semakin gelap, Vana dan Zara memutuskan untuk masuk ke dalam. Mereka sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah pak Danu karena Vana dan Zara di undang acara makan malam.
"Hai Van, cepatlah!" Ujar Zara yang sudah tidak sabaran."
"Kau ini, tidak sabaran sekali. Pasti mau ketemu Erdan," ucap Vana.
"Dia pilihan hati ku, kau tahu sendiri jika aku sudah lama menyukai dia."
"Setelah urusan ku selesai, aku akan membantu mengejar cinta mu!"
__ADS_1
"Oh Vana ku, terimakasih!" Ucap Zara bahagia.