
"Lihat, hewan liar itu telah datang juga! " kata si marga Heng.
Si marga Mi bangkit, dari belakang pintu, ia juga sudah ambil sebatang tongkat.
"Sekali ini dia tidak akan pernah bisa ku biarkan lolos begitu saja! " kata si marga Mi nada geram. Lalu ia berseru kepada anak kecil di samping kanannya. "Hong Yi, kau pun cepat ambil tongkat mu. "
"Siap, Paman.. " sahut bocah itu, ia segera lari ke dalam kamarnya yang berada di sebelah kanan, lalu ia keluar dengan sebatang tongkat di tangan kanannya dan dipinggang tergantung kantung kulit.
Si marga Cu sudah menggeser batu besar, ia juga telah membuka pintu yang bersamaan dengan datangnya angin kencang yang masuk dan membawa daun-daun kering hingga lilin pun padam.
Hu Yi Tian terperanjat sampai menjerit.
Si marga Mi loncat keluar, diikuti oleh si bocah penggembala yang bernama Li Hong Yi.
"Aku ikut! " kata Yang Feng Ji seraya mencabut goloknya. Tapi, baru saja ia melangkah tiba-tiba lengannya ada yang menahannya, ketika ia coba tarik lengannya itu, namun ia merasa pegangan tangan orang itu lebih keras lagi bagaikan di jepit jari-jari besi saja.
"Jangan keluar, hewan buas itu sangat ganas luar biasa! " demikian satu suara serak orang yang menahannya.
Sekali lagi Yang Feng Ji berusaha untuk menarik tangannya, untuk bebaskan dirinya, apa daya, ia tidak berhasil, maka akhirnya ia terpaksa duduk saja. Baru setelah itu pegangan pada lengannya itu mulai kendor dengan sendirinya.
Diluar, segera terdengar seruan suara si marga Mi yang beberapa kali, bercampur dengan suara geraman harimau, di antaranya ada suara dari tongkatnya, sedang angin masih berdesir- desir. Juga ada terdengar seruan kecil yang nyaring dari si bocah penggembala.
Itu semua menandakan bahwa pertempuran sedang berlangsung antara si raja hutan dan dua petani. Lalu, suara berisik mulai berkurang, yang terdengar suara hewan liar itu kabur dari lawan nya dari kejauhan.
Si marga Luo segera menyalakan korek api yang di sulut ke lilin sehingga kelihatan ruangan yang penuh daun-daun kering yang berserakan di mana-mana.
__ADS_1
Cheng Xiao duduk diam, wajahnya sangat pucat sedangkan Hu Yi Tian tampak ketakutan. Justru Yang Feng Ji si pendekar yang tadinya omong besar, sekarang terlihatlah hatinya yang gentar, hingga ia tak pernah bicara lagi.
Semua orang dalam kesunyian beberapa lama, kemudian terdengar suara langkah kaki cepat, yang segera di susul masuknya si bocah cilik penggembala, yang selalu tertawa-tawa yang memperlihatkan wataknya yang riang gembira dengan wajahnya berseri-seri sambil berkata.
"Kita makan daging harimau! kita akan makan daging harimau! "
Hu Yi Tian lihat tongkat pendek di tangan bocah penggembala itu berlumuran darah..
"Dia masih begitu kecil, tapi memiliki keberanian dan kemampuan hebat, " pikir tuan muda Hu, " Sedangkan aku,aku tidak punya tenaga untuk sembelih ayam saja... Sungguh malu aku...! "
Selagi pemuda ini berpikir, si marga Mi berjalan masuk dengan langkah tegap, sebelah tangan memegang tongkat dan tangannya yang lainnya menyeret harimau yang terus di lemparkan ke tengah-tengah ruangan itu.
Hu Yi Tian kaget sekali sampai ia mendapati dan lihat jelas hewan liar itu tidak bergerak, tandanya hewan liar itu sudah mati.
Bocah penggembala itu menunduk.
"Iya, tidak seharusnya aku menyerang harimau itu dengan senjata rahasia ku saat aku berada di depannya, " bocah penggembala itu mengakui kesalahannya.
Mendengar ini, wajahnya si marga Mi jadi sabar juga.
*Menyerang dari depan bukannya tidak boleh. " kata si marga Mi. "Hanya jikalau kau hendak lempar sepasang senjata rahasia mu secara bersamaan, kau harus lihat searah dari kedua matamu, setelah senjata rahasia di lepaskan, kau juga harus segera meloncat ke samping, tetapi tadi kau gunakan sebatang senjata rahasia mu saja, hingga kau nyaris celaka sendiri saat harimau melompat untuk menerjang mu, coba aku tidak segera menolongmu, apa jiwamu masih bisa di tolong? "
Bocah penggembala itu terdiam.
"Tapi, senjata rahasia mu sungguh tepat sekali, " kata si marga Mi yang kemudian memuji anak kecil itu, "Apa yang kurang adalah tenagamu. Inilah tidak heran, kalau nanti kau telah dewasa, tenaga mu akan bertambah dengan sendirinya. "
__ADS_1
Ia angkat tubuh harimau, untuk di balik, hingga kelihatan sebatang senjata rahasia yang telah menancap di lobang anus harimau.
"Senjata rahasia mu ini, " kata si marga Mi, " Apabila di gunakan dengan tenaga besar , akan menembus ke dalam perutnya sehingga ia akan lebih cepat mati. "
"Iya, Paman Mi, mulai besok aku akan berlatih lagi dengan sunguh-sungguh, " kata Li Hong Yi.
Si marga Mi mengangguk, lalu pria ini menyeret harimau ke belakang.
Hati Yang Feng Ji jadi tidak nyaman. Tadinya ia kira mereka adalah para petani biasa, bahkan ia melihat bocah penggembala itu itu dalam waktu singkat saja dapat membunuh seekor Harimau. Ia mendadak curiga, kalau orang-orang ini adalah para pendekar yang sedang menyamar sebagai rakyat jelata.
"Jikalau mereka turun tangan, mana sanggup aku melawan mereka? " pikir Yang Feng Ji.
Sebaliknya dari si marga Cu, Hu Yi Tian tidak merasakan kecurigaan sama sekali, mereka malah memuji si bocah penggembala itu, yang tangannya di pegang dan di elus-elus sambil bertanya nama dan marga bocah penggembala itu siapa.
Bocah penggembala itu malah tertawa dan tidak menjawabnya..
Malam itu, Hu Yi Tian tidur bertiga bersama Yang Feng Ji dan Cheng Xiao. Si kacung sudah tidur pulas dengan cepat. Hu Yi Tian tak bisa tidur, maka tak berselang lama, ia dengar suara orang yang sedang baca buku. Ia lalu mengenali suara si bocah penggembala itu. Bocah sungguh mengherankan Hu Yi Tian karena cara bocah ini membaca buku sangat fasih. Hu Yi Tian makin terheran-heran setelah mengetahui bocah ini membaca buku perang. Maka, ia segera bangun dan turun dari ranjang dan ingin menghampiri anak kecil itu di ruang keluarga.
Si bocah penggembala itu terlihat sedang baca buku dengan menghadapi api lilin, di samping anak kecil itu ada si marga Mi yang rupanya sedang mengajari anak kecil itu.
Si marga Mi mengangguk ke arah Hu Yi Tian.
Hu Yi Tian mendekat, ia lihat beberapa jilid buku di atas meja, kemudian ia ambil satu, yang ada kalimat 'kitab ilmu perang ' yang pernah di baca olehnya di rumahnya.
Bersambung!!
__ADS_1