
"Saudara, " kata Hu Yi Tian sambil membaca buku yang ditulis oleh anak kecil yang bernama Li Hong Yi kepada si marga Heng, "Saudara, kalian semua sepertinya bukan orang-orang biasa, kenapa kalian memilih untuk hidup di desa kecil ini? Maukah saudara beritahu aku tentang diri kalian? "
"Kami adalah petani biasa saja, " sahut si marga Heng. "Kami hidup bertani dan berburu, kalau kami ada waktu senggang kami membaca buku. Ini hal biasa saja, bukan? kenapa Tuan Muda merasa heran? "
Hu Yi Tian merasa tidak enak sendiri.
"Maafkan aku, aku telah mengganggu kalian, " kata Hu Yi Tian, yang menggangguk lalu kembali ke kamarnya.
Sekali ini, Hu Yi Tian berbaring di atas tempat tidur dan langsung terlelap, tapi saat ia sudah pulas sekali, tiba-tiba ia terbangun lagi, sebab Yang Feng Ji mengguncang tubuhnya dengan pria ini terus berbisik: "Mari kita pergi, ini adalah sarang penjahat...! "
Pemuda itu terperanjat.
"Bagaimana kau bisa mengetahuinya? " tanya Hu Yi Tian.
"Mari kau lihat! " Yang Feng Ji berbisik lagi. Lalu Ia menyalakan api untuk menerangi sebuah peti kayu, yang lalu di buka tutupnya olehnya.
"Lihat, Tuan muda!"
Kembali Hu Yi Tian kaget. Ia lihat peti itu cukup memuat banyak sekali emas, perak dan permata yang harganya mahal-mahal. Ia sampai terkejut.
Yang Feng Ji menyerahkan api kepada pemuda itu, ia angkat miring peti itu, di bawahnya ada sebuah peti lain yang terkunci rapat, akan tetapi saat ia ingin membongkar peti itu, Hu Yi Tian mencegahnya.
"Sudahlah, jangan bongkar lebih jauh rahasia orang, " kata pemuda ini. "Kita bisa membuat masalah... "
"Tetapi di dalam sini ada bau tak wajar, " ujar Yang Feng Ji.
"Bau apakah itu? "
__ADS_1
"Bau anyir! "
Hu Yi Tian terdiam.
Yang Feng Ji mematahkan rantai kecil, lalu, ia pasang telinganya apabila Ia tidak dengar suara apa-apa dari luar, ia buka tutup peti itu,lalu ia gunakan api, untuk menerangi.
Setelah itu, keduanya berdiri tercengang, muka Tuan muda Hu itu memucat.
Di dalam peti ada dua kepala manusia, yang satu sepertinya sudah lama dipotong dari lehernya, sebab darahnya sudah hitam, yang satunya lagi, masih baru, tapi keduanya telah di beri obat pengawet mayat agar tidak rusak.
Yang Feng Ji sendiri adalah seorang dunia persilatan, tapi dia tetap saja lemas pada kedua kaki dan tangannya usai melihat kedua kepala manusia di dalam peti itu.
"Mari kita pergi! " kata Yang Feng Ji lagi setelah kesadarannya pulih kembali dan kedua peti itu sudah di susun rapi kembali olehnya seperti semula. Setelah itu, ia membangunkan Cheng xiao, untuk mengajak kacung itu pergi juga.
Api di obor telah di padamkan segera mereka meraba sana sini agar mereka bisa segera pergi ke ruang utama, lalu menuju ke pintu. Disini Yang Feng Ji dapat meraba batu besar, lalu pria ini berusaha untuk menggeser batu besar tapi batu besar tetap tak berpindah dari posisinya yang menghalangi pintu.
Dengan keadaan dirinya masih kaget, Yang Feng Ji tetap menghunus goloknya. Ia berniat untuk memberikan perlawanan terhadap orang-orang yang mencurigakan itu meskipun hatinya gentar sudah.
Tapi si marga Luo bersikap tenang.
"Kalian ingin pergi? " tanya si marga Luo yang lalu menghampiri batu besar untuk diangkat ke samping, lalu pintu pun terbuka. "Silahkan! "
Dengan kepala tertunduk, Yang Feng Ji dan kedua temannya melewati pintu untuk segera ke kuda mereka yang langsung di bukakan talinya dan mereka langsung memacu kuda mereka ke arah timur. Tidak ada satupun diantara mereka yang membuka mulut. Mereka sudah melarikan kuda mereka sampai belasan lie jauhnya barulah mereka merasa lega.
Namun tiba-tiba terdengar suara derap langkah kuda mengejar mereka dan disertai suara yang amat nyaring lebih dari satu orang di belakang kuda mereka: " Hei kalian berhenti! Berhenti!"
Mereka bertiga kaget dan juga takut sehingga mereka tetap saja mempercepat derap langkah kuda mereka untuk segera kabur dari orang- orang yang mencurigakan itu.
__ADS_1
Sekonyong-konyong seseorang telah melesat di samping mereka bertiga bahkan mendahului mereka sampai kuda Yang Feng Ji kaget dan mengangkat kakinya ke atas.
Yang Feng Ji mengayun goloknya untuk segera menyerang orang itu tetapi orang itu dengan tangan kosong dapat mengelak dan membalas menyerangnya yang menyebabkan mereka bertarung dengan sengit.
Sebelah tangan dari orang tak dikenal itu telah menyambar dari samping Yang Feng Ji dan ia juga mengangkat tangannya menampar Yang Feng Ji akan tetapi goloknya Yang Feng Ji juga tak bisa di anggap rendah sehingga orang itu kembali gunakan tangan lain menyerang dari sisi lain Yang Feng Ji dengan maksud hati untuk merebut golok Yang Feng Ji.
"Turun! " orang itu memerintahkan Yang Feng Ji.
Yang Feng Ji tetap saja melakukan gerakan yang lincah untuk menebas orang itu namun tangan orang itu begitu gesit sekali dan tahu-tahu golok di tangannya telah berpindah tempat, yakni di tangan orang itu yang tak lain adalah si marga Luo pemilik rumah gubuk itu.
"Mari ikut aku kembali! " kata si marga Luo nada tenang, lalu tanpa mempedulikan apapun lagi. Ia menyuruh Yang Feng Ji naik ke atas punggung kuda untuk mengikutinya kembali ke rumah gubuk itu. Hu Yi Tian dan Cheng Xiao terpaksa harus mengikuti mereka untuk nyawa mereka dapat terselamatkan.
Tak lama kemudian mereka bertiga telah sampai di rumah gubuk si petani aneh itu lalu mereka di suruh untuk masuk ke dalam ruang utama dan melihat bocah aneh duduk di tengah-tengah dan di apit oleh keempat orang petani yaitu si marga Luo, si marga Heng, si marga Chu dan si marga Mi. Semuanya diam dengan wajah dan sikap mereka begitu berwibawa sekali.
Hu Yi Tian yakin untuk kali ini dirinya pasti akan mati, maka ia memberanikan diri untuk bicara.
"Hari ini aku yang rendah terjatuh ke tangan kalian, hayo jangan banyak bicara lagi, jika kalian ingin membunuh ku.. Ayo, bunuh saja! "
"Kak Heng, bagaimana ini? " tanya si marga Luo.
Orang yang di tanya itu diam saja, cuma sikap dan wajahnya memperlihatkan kegagahan yang tak bisa dipungkiri.
"Bebaskan Tuan muda Hu dan kacungnya, tapi orang marga Yang itu harus di bunuh! " jawab si marga Mi mewakili si marga Heng.
"Orang marga Yang ini menjadi pendekar hati palsu, dengan sikapnya yang layak menjadi anjing hartawan serakah, " kata si marga Heng akhirnya, " Pantas saja jika dia harus mati. Tapi, setelah aku melihat dia bersikap gagah dan mulia untuk membantu Tuan muda Hu. Maka, aku mengampuni nyawanya dengan satu syarat dirinya harus mencongkel kedua matanya. "
Si marga Luo langsung berdiri untuk jalankan perintah dari si marga Heng sampai wajah Yang Feng Ji memucat saking kaget.
__ADS_1
Bersambung!