Pendekar Seruling Naga

Pendekar Seruling Naga
Di Tengah Jalan Kembali Ke Ibukota.


__ADS_3

Salah seorang dari tiga orang yang menghadang itu ada yang memegang senjata tajam dan ada pula yang tidak menegang senjata tajam, dan orang itu hanya tertawa-tawa sendiri.


"Kami kekurangan uang, kami mau minta atau pinjam seratus tail, " kata orang itu dengan suara halus.


Yang Feng Ji dan Hu Yi Tian saling mengawasi dengan bingung, mereka tidak mengerti dengan perkataan orang itu.


"Kami hendak pinjam uang seratus tail, kamu mengerti atau tidak? " tegas si penunggang kuda yang memakai ikat kepala hijau, yang bolak-balik dengan kudanya.


Terlihat garang sekali sehingga Yang Feng Ji menjadi gusar.


"Sudah belasan tahun aku orang marga Yang berkelana belum pernah aku temukan orang- orang yang begini kurang ajar! " Seru Yang Feng Ji.


"Tapi hari ini aku akan membuat kalian melihat! " kata orang pertama telah menurunkan busur panah dari belakangnya , lalu secara beruntun, is lepaskan tiga panah ke udara yang saling susul menyusul hingga sejumlah anak panah itu telah melesat dan runtuh oleh senjata tajam yang berupa genderang.


Yang Feng Ji terbelalak menyaksikan kelihaian orang itu, tapi justru itu, mendadak ia merasakan sakit pada lengan kirinya, hingga goloknya pun terlepas dan jatuh tanpa ia ketahui namun nyata ia telah terpanah oleh serangan-serangan orang itu.


Orang yang ketiga segera maju dengan rotan di tangannya dan segera dia mencambuk pinggang Yang Feng Ji.


Yang Feng Ji mendorong kudanya untuk dirinya bisa menghindari dari serangan lainnya namun penyerangnya terus menerus mencambuk Yang Feng Ji dan seseorang telah melemparkan golok dan menebas leher orang yang mencambuk Yang Feng Ji.


Kedua orang lainnya terkejut dan lari dari tempat itu dengan meninggalkan Yang Feng Ji yang sudah tak bernyawa lagi sampai Hu Yi Tian dan Cheng Xiao begitu berduka.


"Mana bisa kita pulang? " tanya Cheng Xiao. "Tuan Yang sudah tiada.. "


"Mari kita cari orang yang telah menyelamatkan kita, " kata Hu Yi Tian yang mengajak Cheng Xiao yang lesu. "Masih untung nyawa kita masih bisa diselamatkan! "

__ADS_1


Hu Yi Tian menundukkan wajahnya untuk beri penghormatan terakhir kepada Yang Feng Ji yang telah meninggal dunia karena berusaha untuk menyelamatkan mereka.


Kira-kira setengah jam mereka sudah berjalan lalu mereka mendengar suara derap kaki kuda yang sangat dekat kepada mereka dari arah belakang mereka sampai mereka menoleh dan kaget lihat seorang anak laki-laki yang mereka kenal telah menunggangi salah satu dari tiga kuda mereka dengan membawa buntalan yang di gantung di salah satu leher kuda.


"Bocah penggembala kau? " tanya Hu Yi Tian terbelalak melihat Li Hong Yi melemparkan buntalan itu ternyata adalah tiga kepala orang yang ingin merampok mereka dan juga telah membunuh Yang Feng Ji.


"Benar, Paman Hu, " jawab Li Hong Yi tersenyum ramah kepada Hu Yi Tian dan Cheng Xiao.


"Apakah kamu yang telah membunuh mereka semua? " tanya Cheng Xiao tak percaya bahwa anak kecil itu bisa membunuh orang-orang jahat dengan begitu mudahnya.


"Bukan aku tetapi guruku , dan beliau meminta ku untuk mengantarkan kedua paman kepada beliau di gubuk di bawah kaki gunung Lauw Ya San. " jawab Li Hong Yi dengan suaranya yang berkarakter kuat sampai Hu Yi Tian dan Cheng Xiao terpana.


"Baiklah.. " Jawab Hu Yi Tian yang cepat ikuti anak kecil itu dengan berkuda bersama Cheng Xiao.


"Guru.. Aku sudah mengantarkan kedua paman kepada mu. " kata Li Hong Yi dengan menjura hormat kepada pria tua itu.


"Tuan muda kecil, terimakasih atas bantuan mu. " kata pendeta Dao yang memberikan hormat pula kepada Li Hong Yi.


Li Hong Yi duduk di atas jerami di dekat si marga Heng. Melihat ini Hu Yi Tian dan Cheng Xiao maju untuk memberikan salam mereka dan rasa terimakasih mereka kepada pendeta Dao itu.


"Pendeta Dao, saya Hu Yi Tian mengucapkan terimakasih atas pertolongan Anda di tengah jalan di puncak gunung Lauw Ya San meskipun kami harus kehilangan Tuan Yang Feng Ji yang telah mengorbankan nyawanya untuk menolong kami. " kata Hu Yi Tian menjura hormat kepada Pendeta Dao.


"Tak perlu sungkan, Tuan Hu. Aku justru minta maaf karena telah terlambat untuk menolong Tuan Yang Feng Ji di sana."kata Pendeta Dao itu dengan sikapnya yang ramah kepada Hu Yi Tian dan Cheng Xiao.


" Iya, Tuan Hu. Karena itulah kami akan menjadi teman seperjalanan anda untuk kembali ke arah utara untuk kami pulang ke rumah kami yang berada di sana. "kata si marga Heng yang telah berdiri.

__ADS_1


" Utara? Apakah rumah anda semua juga berada di utara? " tanya Cheng Xiao yang menatap ke arah Li Hong Yi yang asyik menikmati gula -gula di atas jerami.


"Iya, Tuan Cheng. Mari kita berangkat sekarang juga ke utara. " jawab si marga Heng yang telah mengajak Li Hong Yi untuk naik ke punggung kuda.


Mereka berkuda bersama-sama menuju ke arah utara dan hari berikutnya mereka sampai di depan pintu gerbang yang bertuliskan 'Ibu kota Kekaisaran Zhao'.


"Guru, mari kita melewati pintu gerbang utama saja. " kata Li Hong Yi yang tanpa sungkan untuk memberikan plakat atau kartu pengenalnya pada pihak penjaga pintu gerbang utama ke ibukota Kekaisaran Zhao.


"Tuan muda, kita harus mengucapkan selamat tinggal kepada Tuan muda Hu yang akan kembali ke rumahnya. " kata si marga Heng nada hormat yang mengherankan Hu Yi Tian kepada Li Hong Yi.


"Baiklah." kata Li Hong Yi yang lalu menghadapi Hu Yi Tian dan Cheng Xiao. "Paman, aku Li Hong Yi mengucapkan selamat tinggal kepadamu dan ku minta untuk kamu jangan pernah melibatkan dirimu dengan orang-orang dunia persilatan jika kamu tak mempunyai ilmu silat. "


Kemudian anak itu memacu kudanya melewati Hu Yi Tian dan Cheng Xiao menuju ke arah lain dari pintu gerbang utama ke ibukota Kekaisaran Zhao.


"Anak itu sepertinya bukanlah anak biasa dilihat dari sikap dan perilakunya? " ucap Cheng Xiao.


"Iya, tapi aku menyukainya. " kata Hu Yi Tian tak pernah menghentikan tatapan matanya dari arah perginya rombongan Li Hong Yi.


Tak lama kemudian sejumlah orang berdatangan kepada Hu Yi Tian dan Cheng Xiao dengan sikap hormat kepada mereka di depan pintu gerbang utama ke ibukota Kekaisaran Zhao.


"Selamat datang kembali ke rumah untuk Tuan muda Hu. " kata para pengawal kediaman resmi pembesar Hu kepada Hu Yi Tian.


"Iya, mari kita masuk ke ibukota Kekaisaran Zhao.. " kata Hu Yi Tian memacu kudanya untuk masuk ke ibukota Kekaisaran Zhao dengan diikuti oleh Cheng Xiao dan rombongan para pengawalnya.


Bersambung!!

__ADS_1


__ADS_2