
Hu Yi Tian tidak mengerti bahasa rahasia kaum dunia persilatan, ia tak tahu dengan istilah anggota jendela tubuh yang berarti sepasang mata yang harus di congkel itu, ia cuma dapat menduga orang itu hendak membuat sengsara tuan penolongnya. Maka ia ingin membuka mulutnya untuk memohon pengampunan bagi Yang Feng Ji.
Tiba-tiba si bocah cilik itu berkata:" Paman Heng, aku merasa kasihan melihat dia, berilah ia maaf saja! "
Si marga Heng dan tiga orang kawannya saling memandang, semua diam, tapi akhirnya, dia berkata kepada Yang Feng Ji, si Pendekar itu: " Sekarang telah ada orang yang memohon ampunan untukmu, maukah kau bersumpah untuk tidak membocorkan apa yang sudah kau alami di sini malam ini? "
"Sebenarnya tak ada niat aku untuk menyelidiki segala apa yang ada disini, hanya kebetulan saja aku menemukannya, " sahut Yang Feng Ji. " Aku harus sesalkan diriku, yang seperti tidak memiliki mata sehingga Aku tidak dapat kenali siapa adanya para Pendekar di sini. Aku mau berjanji, sejak hari ini aku tidak akan pergi ke ibukota.Dan, mengenai urusan para saudara di sini, aku bersumpah untuk menutup mulutku. Jika di lain hari Aku melanggar sumpahku ini, maka langit dan bumi akan menghukum Aku!"
"Bagus! " Seru Si marga Heng. "Aku percaya kau adalah laki-laki sejati! Pergilah! "
Yang Feng Ji mengangkat kedua tangannya untuk memberi hormat, lalu ia memutar tubuh.
Mendadak, Si marga Mi telah berdiri dari kursi di duduki oleh orang itu.
"Apakah kau mau pergi begitu saja? " tegur orang itu.
Yang Feng Ji mengerjapkan matanya sejenak, tapi kemudian ia mengerti maksud orang itu. Ia lantas tertawa meringis
"Baiklah, " kata Yang Feng Ji. "Izinkan aku pinjam golok? "
Si marga Chu mengeluarkan sebatang golok dari kolong meja, dengan di hunuskannya, dia telah melemparkan golok kepada Yang Feng Ji.
Yang Feng Ji menyambut golok itu lalu ia maju untuk mendekati meja, ia meletakkan tangan kanannya di atas meja dengan semua jarinya di buka, kemudian dengan cepat sekali, ia telah memotong tangannya sendiri dengan tangan kiri memegang golok.
"Setiap orang berani berbuat harus berani pula untuk bertanggungjawab! " kata Yang Feng Ji sambil tertawa. "Semua pekerjaan ku sebagai biro jasa di Ibukota tidak ada sangkut pautnya dengan tuan muda Hu! "
__ADS_1
Semua orang kagum melihat kegagahannya si kepala biro jasa itu yang menyamar sebagai seorang Pendekar dunia persilatan yang rahasia pribadinya telah di ketahui oleh Li Hong Yi si bocah penggembala itu.
"Bagus! " Seru si marga Mi yang memperlihatkan jempolnya. "Dengan begini urusan malam ini telah selesai! "
Lalu Ia pergi ke dalam kamar dan keluar lagi dengan membawa obat luka untuk membungkus luka tangan Yang Feng Ji.
Hu Yi Tian melihat wajah tuan penolongnya itu pucat, Ia mengerti Yang Feng Ji menahan rasa sakit yang hebat, ia berniat untuk memberikan hiburan namun ia tak bisa mengutarakan isi hati dari mulutnya saking kagetnya.
Si marga Heng melihat mimik wajahnya, dan berkata:" Tuan muda Hu, kalau kau mau bicara tentang kami yang sebenarnya adalah masih ada hubungannya satu dengan lainnya. Sahabat Yang inipun adalah seorang laki-laki yang bisa kami percaya, karena itu baiklah, Aku nanti akan memberikan barang ini kepada mu! "
Dari sakunya, Si marga Heng mengeluarkan satu barang yang kemudian diserahkan kepada Hu Yi Tian.
Lalu Hu Yi Tian menerimanya, dia dapat melihat ini adalah potongan surat bambu yang bagian belakangnya sudah hangus terbakar sehingga ia menjadi bingung sendiri.
Hu Yi Tian memeriksa surat itu, ia masih agak aneh dan ragu, namun ia tetap menyimpan surat itu di sakunya untuk kebaikannya juga.
"Terimakasih, " kata Hu Yi Tian.
Setelah itu, ketiga orang itu pamitan dan kembali memacu kuda mereka. Hari yang tadinya larut malam kini perlahan-lahan menjadi terang dan mereka menemukan sebuah desa.
"Mari kita istirahat dulu disini", ajak Hu Yi Tian.
Mereka mencari penginapan untuk beristirahat satu hari satu malam untuk keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan mereka. Kembali mereka melewati dusun yang telah menjadi korban keganasan para tentara negeri yang telah merampok dan membunuh penduduk, karena mereka tak tega melihat kekejaman itu. Hu Yi Tian mengajak kedua kawannya menghindari jalan itu. Di waktu siang hari, mereka istirahat di tengah jalan, lalu hari berikutnya mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Dan, pada hari berikutnya mereka melihat ada seorang penunggang kuda yang melewati mereka dari samping sehingga mereka saling berpapasan, orang itu mengawasi Hu Yi Tian dan kedua kawannya sampai debu beterbangan saat orang itu lewat.
__ADS_1
Hu Yi Tian dan kedua kawannya memacu kuda mereka dengan cepat sehingga mereka bisa menyusul orang dan menemukan orang itu membawa bungkusan warna hijau dengan muka orang itu yang begitu angker.
" Ini orang kelakuannya aneh sekali, " kata Hu Yi Tian. "Kenapa dia kembali lagi?"
Yang Feng Ji tidak menjawab, hanya bilang: "Tak lama lagi Tuan muda Hu, kau harus segera pergi secepatnya dari sini! "
Hu Yi Tian terperanjat.
"Apa? Kembali ada penyamun? " tanya Hu Yi Tian.
"Kita tak perlu jalan sampai lima langkah dari sini, " kata Yang Feng Ji. "Ahhhh, kita tak mundur dari sini juga...! Kita harus bisa menerjang maju dan kabur! "
Hati Hu Yi Tian dan kacungnya berdebar- debar dan Yang Feng Ji mencoba untuk bersikap tenang dengan tetap menjalankan kuda mereka dengan perlahan-lahan.
Belum lama mereka melewati jalan di depan mereka tiba-tiba terdengar suara anak panah yang meluncur ke arah mereka dan untungnya Yang Feng Ji menggunakan golok menangkis anak panah itu.
Kemudian datanglah tiga orang penunggang kuda yang menghalangi jalan mereka di tengah jalan.
Yang Feng Ji maju ke depan dari kedua orang kawannya, Ia menjura dengan sopan.
"Aku adalah sebuah marga Yang dari Biro jasa Yang, " Ia memperkenalkan diri, "Tetapi Aku saat ini tidak sedang menjalankan pekerjaanku, aku maksud ku, kami sedang melakukan perjalanan biasa saja, itulah sebabnya aku tidak bawa kartu nama ku untuk mengunjungi kota Chong. Dia ini adalah sarjana Hu, yang sedang berwisata, Aku harap anda bertiga memberi kami jalan. "
Yang Feng Ji yang sudah berpengalaman itu juga sebenarnya memiliki nama yang cukup terkenal, tapi karena tangannya cacat sebelah membuat tiga orang yang menghadang mereka meragukannya.
Bersambung!!
__ADS_1