Pengorbanan Dan Persahabatan

Pengorbanan Dan Persahabatan
13 Rumah sakit Radita


__ADS_3

Naomi terus berusaha dan berpikir positif namun Nathalie terus berteriak meminta tolong, bahkan tubu Nathalie bergetar hebat dan keringat dingin mulai memenuhi seluruh tubunya, padahal di dalam mobil ACnya suda ful.


"Kamu apain dia kurang ajar, turun kamu" Naomi berteriak kepada Dirly dan berhentikan mobilnya lalu menyuru Dirly untuk turun.


Namun Dirly tidak habis akal, dia minta Naomi jika Nathalie tidak cepat di antar ke rumah sakit, maka nyawanya bisa dalam bahaya.


"aku berani bersumpah aku tidak melakukan apapun padanya" Dirly bicara jujur sambil menujukan kedua jari berbentuk V, memang Dirly tidak tau jika kelakuannya barusan itulah yang mengguncang trauma Nathalie...


Naomi yang mendengar kata-kata Dirly itu kembali melajuhkan mobilnya hingga tiba di Lobby Rumah sakit...


Naomi turun membuka pintu Mobil untuk Dirly dan menahan sedikit pintu mobil agar Dirly bisa leluasa mengangkat tubu Nathalie dari dalam mobil dan keluar...


Dirly mengangkat tubu kecil itu masuk ke dalam pelukanya dan berlari menuju IGD. Dirly memanggil-manggil Suster dan dokter agar segerah menolong kekasihnya itu..


setelah membaringkan tubu kekasinya itu, dan Suster segera mendorong tempat tidur itu ke dalam.


"Mas tunggu di luar" kata Suster


Sementara Naomi memarkirkan mobilnya di parkiran sebelum mengikuti Dirly dan Nathalie ke dalam..


"Gimana, di mana Nathalie" tanya Naomi


"ada di dalam dokter menyuruhku untuk keluar agar mereka bisa memiriksa Nathalie"


"Shhh kenapa lama bangat sih" gumam Dirly yang masi bisa di dengar Naomi


"Dir" kata Naomi pelan, dan Dirlypun menoleh tanpa suara..


"Kamu yakin tidak ngapa-ngapain dia?"


"Tidak aku hanya ingin mengerjainya, aku pikir nanti dia takut dan akan berlari memelukku tapi ternyata aku salah" Dirly berkata lirih sambil mengingat kembali teriakan Nathalie yang merasa ketakutan.


"Kau menyakitiku,


kau jahat,


tanganku sakit lepaskan,


aku takut ah,,,


jangan mendekat jika kau tidak ingin melihat mayatku"


Kata-kata Nathalie seperti video yang terus berputar di kepala Dirly,


"Maaf, maafkan aku, jika terjadi sesuatu padamu, maka akulah penyebabnya aku tidak tau apa yang terjadi padamu Nat, aku minta maaf, cepatlah sadar, aku merindukanmu" Dirly membatin


"Menakutinya" Tanya Naomi dan Dirly mengangguk


"Apa yang kamu buat untuk menakutinya?" Tanya Naomi mulai panik...


"Tidak ada, aku hanya menariknya masuk ke dalam ruangan yang gelap, tapi aku bersumpah aku tidak berbuat apa-apa" Kata Dirly yang langsung mendapatkan satu tamparan keras dari Naomi tepat di pipinya.


Rahang Dirly mengeras ingin membalas namun dengan cepat ia turunkan tangannya saat Naomi lanjutkan kata-katanya sambil menujukan jarinya ke arahnya.

__ADS_1


"Kamu tau kenapa dia pingsan? Ha?? itu karena kamu, kamu penyebabnya Dirly...


Nathalie punya trauma tentang ruangan yang gelap, apa kamu tidak tau itu ha!??


Naomi mara sambil mendorong keras dada Dirly hingga pria itu mundur ke belakang dan hampir saja terjatu...


Naomi yang suda tidak tahan tangisannya itu suda menangis...


Rasa ia ingin melenyapkan orang yang ada di hadapannya itu...


Dirly yang mendengar kata-kata Naomi barusan ini masi berusaha untuk mencerna kata-kata Naomi, ia ingin bertanya tapi dengan keadaan Naomi yang suda menangis itu membuat Dirly urungkan niatnya...


Dirly mendekati Naomi dan memeluknya, ia berpikir Naomi adalah adik dari orang yang dia sayang tentu di dalam pikiran Dirly, sama dengan Nathalie Dirly juga menganggap Naomi sebagai adiknya, apalagi di situasi seperti ini, tidak ada niat buruk lainnya, apalagi mencari kesempatan dalam kesempitan. Ia hanya merasa kasihan melihat keadaan Naomi.


Melihat Naomi yang mulai tenang di dalam pelukannya, dan tidak menolak maupun menerima pelukan itu membuat Dirly memberanikan dirinya untuk berbicara.


"Maaf, maafkan aku yang sudah membuatmu sedi dengan mencelakai Nathalie, tapi sumpah aku tidak tau trauma seperti apa yang Nathalie punya" kata Ditly..


"Ia gak apa-apa, aku juga minta maaf harusnya aku memberitahumu sebelumnya" balas Naomi dan saat yang bersaan seorang dokter pun keluar dari ruangan rawat.


Dirly sedikit berlari menuju dokter tersebut.


"gimana keadaannya dok? tanya Dirli Naomipun mendekati dokter dan Dirly...


"Ya dia sudah membaik, aku suda menyuntiknya dengan obat penenang, apakah kalian keluarga gadis itu?? tanya dokter.


'Aku pacarnya"


"Apa aku bisa bertemu dengannya dok?" tanya Naomi lagi..


"ia bole temui dia tapi jangan ribut, karena pasien sedang isterahat, jika bisa hubungi orangtuamu karena dari tadi dia mengigau memanggil ibumu...


Naomi seketika pucat, dengan cepat ia melihat jam tangannya dan sudah pukul 17:00


"Oh astaga mama, aku lupa hubungi mama, tapi aku harus pake alasan apa?" pikir Naomi bingung..


Mendengar kata dokter yang mengijinkannya untuk masuk, Dirly pun langsung masuk tanpa memperdulikan Naomi yang sedang berpikir keras untuk mencari alasan yang tepat agar bisa menghubungi Sinta dengan tenang...


Naomi segerah menekan layar hpnya dan menghubungi mamanya, setelah tersambung ia mulai berbicara panjang lebar..


Dan tentu Naomi melarang keras selain, ia dan Dily, hanya mamanya yang tau, selain itu tidak ada yang bole tau Trauma Nathalie, karena Naomi sengaja menutupi itu. Ia takut jika ada yang mengetahui kelemahan Nathalie dan bisa menyerang Nathalie kapan saja.


"Baiklah mama hati-hati" kata Naomi di ujung teleponnya sebelum benda itu mati..


Sementara di dalam ruang pasien


"Sayang maafkan aku, mulai sekarang aku akan menjagamu dengan sekuat tenagaku, cepatlah sadar, aku tidak bisa melihatmu seperti ini terus...


Andai posisimu bisa di gantikan, maka aku yang akan tidur di sini...


Kau menyuruhku untuk menjauh darimu? itu tidak akan ku lakukan, tapi jika itu yang membuatmu bahagia maka akan aku kabulkan permintaaunmu itu..


Aku akan menjauhimu, jika kau sadar nanti...

__ADS_1


Aku tidak akan mendekati mu, atau mengganggumu lagi Maaf... Dirly menangis dan mengelus tangan Nathalie yang tidak di infus itu.


Tak terasa air mata Nathalie ikut menetes, sambil terus memanggil-mangil mamanya...


Tak lama kemudian pintu Ruang rawat Nathalie di buka dari luar terlihat dua wanita masuk kedalam ruangan itu, Dirly yang menyadari kedatangan Sinta langsung berdiri dari duduknya dan memeberi salam Namun Sinta yang terlihat begitu kecewa dengan sikap Dirly yang di ceritakan Naomi di sambungan telepon tadi.


Sinta melewati begitu saja dan langsung mengambil alih tempat Dirly.


"Sayang mama di sini" ucap Sinta setelah mendekati Nathali tangan kirinya membelai kepala Nathalie dan satunya lagi menggengam erat tangan kanan Nathalie karena tangan kirinya terpasang selang infus.


Naomi pun mendekati Nathalie dari sebelah arah Nathalie dan mendekati bibirnya ke telinga Nathalie lalu mengucapkan kata-kata Sayangnya.


"Terimakasih karena telah membawa putriku ke Rumah sakit, Jika kamu tidak ada urusan lagi maka kamu boleh pergi" Ucap Sinta yang begitu tulus namun terdengar mengusir Dirly begitu menusuk hati Dirly.


Namun sebelum Dirly pamin pergi ia memberanikan diri untuk berbicara.


"Tante sebenarnn" kata-kata Dirly yang ingin menjelaskan dipotong begitu saja oleh Sinta.


"Aku kecewa dengan kamu, bukankah suda ku peringati saat kau memintaku untuk mendekati Nathalie? Aku harap kau tidak melupakan kata-kataku" Ucap Sinta yang merasa kecewa dengan sikap pemuda di sampingnya itu.


"Tante, aku masi ingat kata-kata tante tapi aku tidak tau, jika yang tante bilang Nathalie berbeda itu, hanya sikapnya yang tante maksut berbeda tapi ternayata aku baru menyadari jika yang tante maksutnya adalah traumanya yang bisa kembali kapan saja sesuai tempat dan kondisinya." kata Dirly terdengar menyesali perbuatannya.


Sinta hanya berdiam, dan berpikir tidak bisa menyalakan Dirly sepenuhnya juga, karena ini juga salahnya tidak menjelaskan kepada Dirly sebelumnya.


"Aku minta maaf, kedepannya aku akan lebih berhati-hati dengan Nathalie, aku akan menjaga sikapku, dan mencoba untuk menghilangkan trauma yang di alaminya sebisa mungkin aku, jika itu tante tidak keberatan. Kata Dirly mencoba meyakinkan Sinta


"Permintaan maafmu bisa kau katakan langsung kepada Nathalie jika dia suda sadar nanti. Tapi aku keberatan dengan niatmu yang ingin membantu Nathalie, karena bisa kadi dia sembuh atau mala sebaliknya, aku harap kamu paham dengan maksudku" Jawab sinta sambil melihat ke arah Nathalie yang masi nyaman dengan mimpi panjangnya itu.


"baiklah terimaksih karena tante masi memberiku kesempatan, walaupun itu semua tergantung Nathalie namun aku senang tante tidak langsung melarangku" Ucap Dirly


Sinta yang ingin membalas Dirlypun menghentikan uacapannya, saat Naomi mengatakan jika Nathalie sempat tersenyum.


"Sayang, kamu bisa mendengar mama? kamu katanya ingin bertemu mama, giliran mama suda cape-cape datang kamu mala mengabaikan kehadiran mama dan tidur enak, kalo mama tau gitu mama gak usa datang aja tadi"


Sinta berbicara panjang lebar, dengan nada mengeluh, karena ia tau betul sifat putrinya yang satu ini tidak akan tega melihatnya mengeluh kesakitan, sama seperti mendiang sahabatnya, yang selalu peka kepada orang-orang di sekitarnya, apalgi untuk dirinya sendiri Meli akan dengan cepat tanggap apa yang Sinta rasakan walau hanya melihatnya.


"Kamu tidak mau, mama kecewa kan? kamu kan putri kesayangan mama, maka bangunlah temui mama" itu suara Naomi


"Mama kesakitan tu, karena kelelahan jadi kamu pijitin mama dulu seperti biasanya, mama menolak pijitananku" Naomi tidak habis akal untuk membangunkan sahabat yang suda seperti sodaranya itu


Tak lama kemudian seorang dokter datang mengecek suhu tubunya dan tekanan daranya, lalu menyuru perawatnya untuk menganti botol infusnya yang akan segerah habis isinya.


"gimana keadaannya dok?" tanya Sinta


Dokter yang menyadari pertanyaan Sinta pun segerah berbalik lalu tersenyum dan berkata.


"Oh ibu pasti ibunya pasien ya" Sinta mengangguk tanda mengiakan. "syukurlah ibu suda datang setidaknya pasien bisa berenti mengigau, Keadaan pasien sudah lebih baik sekarang panasnya suda berkurang dan tekanan darahnya suda normal kembali" kata dokter itu lalu ingin pergi namun berhenti saat mendengarkan pertanyaan lain.


"kapan dia bisa sadar dok? Atau apa ada yang bisa kami lakukan agar ia bisa cepat sadar" pertanyaan itu membuat Naomi maupun Sinta melihat ke arah suara tersebut.


Bersambung


See you next😍🤗

__ADS_1


__ADS_2