Pengorbanan Dan Persahabatan

Pengorbanan Dan Persahabatan
20 Pengorbanan


__ADS_3

Setelah persetujuan dan persyaratan yang diterima begitu saja oleh Naomi, mereka akan kembali ke kota karena pernikahan itu akan dilakukan di kota.


Dan di dalam surat perjanjian, pesan yang di sampaikan Riyan asisten Pribadi pria itu bahwa Pernikahan akan di lakukan di sebua Hotel secara tertutup tanpa ada siapapun kecuali satu wali dari Perempuan, satu lagi wali dari laki-laki dan orang yang menikahkan mereka. Itu karena persyaratan pernikahan, jika tidak pria itu tidak ingin siapapun mengetahui pernikahan tersembunyi itu, Karena walaupun pernikahan itu hanya sebua syarat dan di lakukan dengan cara tertutup tetapi tetap saja pernikahan itu Sah secara Hukum maupun Agama.


"Hari ini juga kalian akan kembali karena besok pernikahan akan di lakukan" kata-kata itu di ucapkan Jimi di akhir pembicaraan mereka.


"Baiklah, jadi apakah papa akan ikut dengan kami?" Naomi bertanya


"Ia sebenarnya papa yang ikut tetapi karena papa masi lemah, dan takut keadaan papa makin parah jadi papa Dirga yang akan ikut pergi bersama kalian dan papa Dirga juga yang akan jadi wali nikamu di sana" Jawab Sinta


"Ia baiklah ayo kita bersiap dan langsung jalan aja" Kata Naomi yang hendak pergi dari ruang tamu namun tiba-tiba saja dua mobil mewah sudah ada di gerbang kediaman Davidson. Membuat mereka semua yang berada di sana di buat heran karena ada beberapa orang pria bertubuh kekar yang keluar dari mobil mewah itu dan segerah meminta ijin agar masuk ke dalam rumah.


"Maaf kalia siapa?" tanya Dirga yang sudah berdiri di pintu melihat satu persatu orang-orang itu yang sepertinya mereka adalah bodyguard.


"Kami di perintahkan Pak Riyan agar menjemput calon istri Tuan, tanpa ada seorang pun yang ikut bersamanya karena di sana suda ada wali yang akan mendampingin nona juga, maka dia di suru pergi sendiri" Jawab salah satu dari pria itu yang sepertinya ketua dari pasukan Bodyguard itu.


"Tapi perjanjiannya---" "driddd" Dirga belum melanjudkan kata-katanya namun ponselnya bergetar di kantong celananya.


"Yah halo Pak Riyan" Yah telepon itu dari Riyan sang asisten Pria itu yang entah datang dari mana sehingga namanya saja jarang di kenal orang.


'Ikuti saja perintah para Bodyguard itu. Tuan tidak ingin melibatkan siapapun dalam hal ini, maka patuhi saja perintahnya" Jawab Riyan dingin dari seberang telepon.


"Baiklah jika itu yang kalian inginkan" jawab Dirga asal tanpa persetujuan Jimi.


"Para bodyguard ini ingin menjemput Calon istri Tuannya dan mereka yang akan antar langsung ke hotel tempat Pemberkatan Nika akan di laksanakan" Kata Dirga menyampaikan isi pesan dari Riyan sang asisten pria itu.


Dan seketika semua jadi tegang, Naomi langsung pucat Nathalie pun suda kalang kabut dibuatnya.


Naomi yang kaget mendengar kata-kata Dirga sebisa mungkin untuk mengendalikan keterkejutannya namun Nathalie lebih dulu mengetahui hal itu, Naomi yang memang tidak bisa menyembunyikan hal apapun dari Sahabtnya itu membuat Nathalie cepat tangkap apapun kondisi Naomi tanpa sengaja.


Nathalie segerah menarik tangan Naomi, dengan cepat ia belari ke arah tangga dan menuju ke kamar.


"Kami akan bersiap, tunggu lima belas menit lagi" Kata Nathalie sambil berlari.


Para orangtua dan sebagian Bodyguard itu menunggu kedua gadis itu di Ruang keluarga. sementara yang lain berjaga-jaga di luar atas perinta Riyan yang takut jika gadis itu akan melarikan diri.


Setelah di kamar Nathalie mengunci pintu dari dalam dan membiarkan sahabatnya itu duduk di tepi ranjang.


"Apa kau sedang mempermainkan hati mu?" Tanya Nathalie yang sudah tidak sabar dengan kelakuan Naomi.

__ADS_1


"Apa maksutmu?"


"Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, kau tau aku tidak suka itu"


"Lalu apa yang harus aku jawab, apakah aku harus mengikuti hatiku dan menolak pernikahan ini? Agar papa yang mengorbankan hidupnya?" Kata Naomi yang suda tidak tahan dengan tangisannya itu langsung pecah, ia menangis sambil berteriak. Hingga suaranya hampir saja terdengar di bawa Namun Nathalie dengan cepat membungkam mulutnya.


Nathalie menarik tangan sahabatnya itu ke atas ranjang, Naomi bingung namun ia tetap melawan tanpa tau maksud dari sahabatnya itu, namun Tenaga atletik Nathalie tak sebanding dengan tenaga Naomi, di tamba lagi dengan masalah yang bertubi-tubi membuat tenaga Naomi sangat lemah.


Nathalie mengikat kedua tangan Naomi dengan pita rambutnya karena tidak ada apa-apa disana, Nathalie kembali menarik sprei dan mengikat juga di tangan Naomi dan mengikatnya ke tiang tempat tidur.


Ia lalu turun dari ranjang dan mencari sesuatu.


"Apa yang kau lakukan" teriak Naomi.


Nathalie tidak menghiraukan teriakan Naomi, ia menemukan benda yang di carinya. Nathalie meraih sebua Lakban di atas lemari ia melakban mulut Naomi tangan dan kakinya. Namun seketika terdengar suara dari luar kamar Naomi.


"Nak apakah kalian sudah siap, orang-orang itu ingin kalian segerah turun" Teriak Sinta dari luar kamar.


Suara Naomi hampir saja keluar jika Nathalie tidak menempel lakban itu dengan cepat di mulutnya.


"Ia sebentar mah, ini hampir selesai" Suara Nathalie menjawab


Setelah di lakban dan kini Naomi tidak akan bisa melepaskan ikatannya tanpa bantuan orang lain, Nathalie turun dari atas ranjang ia segerah menulis surat.


Dua kertas polos di isi dengan coretan tangannya lalu tak lupa ia tandatangan di bawa tulisannya itu.


"Ini untukmu. Setelah kau baca berikan pada Dirly, sampaikan Maafku padanya"...


Maaf Aku membawa cintanya pergi. Dia akan tetap jadi sahabat terbaik di hatiku, cinta pertamaku dan entalah mungkin juga cinta terakhirku." Kata Nathalie yang hanya di balas tangisan tak bersuara oleh sang sahabat.


"Apa yang kau lakukan, kau suda cukup berkorban untukku, tapi kali ini kau juga mengorbankan cintamu, bahkan kesucianmu, atau nyawamu bisa jadi taruhannya" Naomi hanya bisa membatin dengan segalah perasaan yang bercampuran, ia tidak bisa melakukan apa-apa.


"Aku tidak akan perna bisa memaafkan diriku jika sesuat terjadi padamu, kau khawatirkan aku karena aku akan menika dengan orang yang tidak aku kenal, tetapi ini apa? Kau sendiri mengorbankan impianmu, bukan kah kau ingin Kuliah dan menjadi orang sukses..


Semua perasaan Naomi dan kata-katanya bercampur aduk ia hanya bisa menangis dan mengeluarkan semua perasaannya itu melalui matanya.


"Aku tau banyak yang ingin kamu katakan tapi ini bukanlah waktu yang tepat untuk kita bicara. Aku sangat menyayangimu, aku tidak ingin kau melakukan hal yang akan membuatmu terluka, kau adalah alasan kenapa aku masih hidup."


"Kau bukan hanya sekedar sahabt ataupun saudara tapi kau adalah Malaikat penolongku, kau ada sehingga aku bisa hidup sampai saat ini. Jika tidak, mungkin aku sudah merenggut nyawaku sendiri" Kata-kata Nathalie begitu menusuk hati Naomi hingga badannya sampai bergetar."

__ADS_1


"Aku tidak tau jalan apa yang akan aku lalui di depanku setelah ini, tapi jika ini adalah pertemuan kita yang terakhir, dan jika ini yang terakhir kali bagi kita bebicara maka tolong maafkan aku.


Aku minta maaf jika selama ini aku banyak membuatmu kesal, mungkin perhatianku sedikit berlebihan terhadapmu tapi kamu harus tau satu hal. Aku sangat menyayangimu." Kata-kata Nathalie membuat Naomi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengeluarkan air yang suda memenuhi mata cokelatnya itu.


"Aku menyayangi mu sangat-sangat menyayangimu gadis kecilku yang nakal, jangan nakal-nakal lagi, teruslah menjadi gadis baik dan penurut." Nathalie memeluk Naomi dengan erat sangat erat sambil membisikan kata-kata manisnya di telinga Naomi.


Kata-kata Nathalie yang begitu manis terus membuat Naomi tidak tenang ingin sekali ia menagis dan mengahmbur ke pelukan sang sahabat yang suda seperti kakanya itu. Tetapi itu percuma karena semua kaki dan tangannya suda di ikat.


Namun Nathalie yang seolah tau maksud sahabatnya itu menatapnya sambil berkata.


"Aku akan pelepaskan ikatan di tanganmu dan membiarkamu memelukku sebentar, tapi setelah itu aku harus mengikatmu kembali. Setelah nanti aku keluar dari rumah ini barulah kau akan bebas, mengerti?" Kata Nathalie, "Apa kau ingin memelukku? Sambung Nathalie lagi. Dan Naomi hanya menjawab dengan anggukan kepala dan tangisannya.


Seperti kata Nathalie ia melepaskan kedua ikatan Naomi dan Naomi langsung menghambur ke pelukan sang sahabat yang suda seperti kakanya itu Naomi memeluk sahabanya itu erat, Nathalie juga memeluk Naomi balik tak kala eratnya.


Setelah selesai berpelukan Nathalie kembali mengikat tangan Naomi dan mencium kedua pipi serta kening Naomi, dengan penuh kasi sayang.


"Aku pergi dulu, kamu hati-hati dan lanjudkan kuliahmu sampai selesai.


Bye Iove you" Nathalie menyampaikan kata-kata terakhirnya dan segerah ia pergi ke arah pintu namun sebelum tangannya memegang gagang pintu kamar Naomi, terdengar suara Naomi seperti ingin menyampaikan sesuatu.


Nathalie pun melihat ke belakang dan kembali berlari pelan lalu memeluk sahabatnya itu.


"Jangan menganti nomor ponselmu, karena hanya itu yang aku hafal" Kata Nathalie di sele-sela tangisannya, akhirnya ia menangis juga karena ia melihat kembali kamar yang penuh dengan kenangan mereka, ia mengingat kenangannya bersama sang sahabat yang penu dengan canda tawa, tangisan, airmata, maupun perkelahian mereka semua tersimpan di kamar itu dan saat ini akan ia tinggalkan. Nathalie merasa jika ia tak akan kembali lagi.


Nathalie berlari menuju pintu dan langsung keluar tanpa melihat ke belakang lagi ia keluar dan segerah pergi ke kamar Kevin adik kecil Naomi, lalu meminta kepada Penjaganya Kevin agar mencium adik kecilnya itu.


Setelah menemui Kevin Nathalie pun berlari kecil ke arah ruang tamu yang sedang dipenuhi orang-orang..


Semua orang di buat kaget kecuali para Bodyguard itu yang tidak mengetahui apa-apa.


Sinta yang melihat Nathlie yang keluar dan bukan Naomi segerah menghampiri Nathalie, ia akan bertanya di mana keberadaan Naomi namun dengan cepat Nathalie bersuara sebelum Sinta bicara dan akan membuat orang-orang itu menaru curiga kepada mereka.


"Ayo kita berangkat sekarang" Kata Nathalie membuat Sinta membulatkan matanya meminta penjelasan dari Nathalie begitu juga Dirga sang papa dan Jimi.


Nathalie menyalami tangan kedua ayahnya dan berpamitan, saat akan pergi ia merai tangan Sinta yang masih kebingungan dengan pikirannya itu, Nathalie memeluknya erat dan menyalipkan sebuah kertas di tangan Sinta.


"Aku pergi dulu mah, aku akan sangat merindukanmu, Doain aku semoga baik-baik saja" Itu kata Nathalie yang hanya dapat tatapan dari Sinta.


...Bersambung...

__ADS_1


See you next😍🤗


__ADS_2