
Setelah Riyan pergi tak lama kemudian, masuklah Riyan bersama seorang dokter yang berbeda dokter itu sedikit lebih tua dari dokter briyan.
Karena Briyan dan Rici sudah pulang tadi setelah magrib, dokter paru baya ini yang masuk. Dokter Rafa namanya.
Namun dokter ini tidak mengenal siapa itu Nathalie.
Berbeda dengan dokter Briyan dan dokter Rici yang tau jika Nathalie adalah istri dari Tuannya, sang pemilik rumah sakit itu.
Setelah dokter itu memeriksa Nathalie ia menghirup banyak oksigen sebelum berbicara dengan Rangga karena ia tau, Rangga adalah pemilik rumah sakit ini, yang artinya Rangga juga adalah bosnya.
Dengan sedikit ragu-ragu ia mengatakan.
"Maaf tuan apakah wanita ini punya riwayat Trauma?" tanya dokter paru baya itu dengan hati-hati.
"Mana aku tau" Rangga membalasnya dengan ketus dan menatap Riyan ia seperti ingin meminta penjelasan dari Riyan yang selema ini diyakininya sudah mencaritau semuanya tentang Nathalie dan sudah mengenal semua tentang seorang Nathalie.
Riyan yang di tatapnya seolah mengerti dan mengangguk kepalanya pelan.
"Tapi Tuan, wanita ini seperti punya trauma yang telah lama hilang namun ada sesuatu hal yang membuat dia teringat kembali dengan Traumanya. Aku bisa buktikan itu, jika Tuan tidak percaya Tuan bisa tanyakan langsung kepada dokter spesialis saraf, atau psikiater untuk memastikan itu" Dokter paru baya itu mengatakan tentang keadaan Nathalie panjang lebar, namun ia yang tidak mengenal Nathalie itu siapa, jadi sebut nama Nathalie. Berbeda dengan Briyan dan Rici
"Baiklah carikan dokter Saraf terbaik dan bawa dia kemari, carikan malam ini juga" Kata Rangga sedikit mengusir dokter itu dengan pelan, dokter paru baya yang mengerti hal itu langsung keluar dari ruangan Nathalie.
"Sekarang apa yang ingin kau jelaskan" tanya Rangga kepada Riyan.
Riyan yang mendengar Tuannya berbicara dengan suara dingin dan penu makna itu sedikit menggaru kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf Tuan sebenarnya saya suda ingin menjelaskan hal ini kepada Tuan, tapi Tuan selalu menolaknya saat saya ingin bicara"
Kata Riyan ragu-ragu.
"Jangan bercanda kamu, sejak kapan kamu ingin menceritakan tentang Nathalie?" Suara Rangga mulai kesal dengan sekertarisnya itu.
Riyan yang mendapatkan atasannya melotot padanya jadi sedikit ragu-ragu untuk menjelaskan.
"Jelaskan padaku, sejak kapan. Maksutku bagaimana ceritanya gadis bodoh itu bisa punya trauma" tanya Rangga lagi.
"Maaf Tuan, yang pertama Tuan harus tau aku suda ingin menjelaskan ini waktu di kantor tadi. Setelah aku menjelaskan pembicarannku di telepon sebelum Tuan menikahinya itu dan setelah Tuan mengetahui yang Tuan nikahi adalah dia bukan Naomi"
Jawab Riyan ragu-ragu mengingat Tuannya langsung marah dan meninggalkan kantor tadi siang setelah mengetahui siapa wanita yang di nikahinya.
"Baiklah, sekarang jelaskan padaku" Potong Rangga.
"Nathalie adalah anak dari Tuan Dirga dan Ibunya yang bernama Melli, tetapi ibunya meninggal di saat Nathalie masi umur tiga tahun, Ningsi adalah istri kedua dari Dirga dan ibu tirinya Nathalie bukan Ibu kandung. Naomi adalah sahabat baik Nathalie, namun apa alasan Nathalie yang menikah dengan Tuan itu belum di ketahui, karena bahkan keluarganya tidak mengetahui rencana Nathalie itu. Nathalie juga menganggap ibunya Naomi sebagai Ibunya sendiri dan Naomi sebagai Saudaranya sendiri, padahal dari orang-orang yang mengenal mereka mengatakan jika Ibu tiri Nathalie sangat menyayanginya" Jawab Riyan ia menjelaskan kehidupan Nathalie yang sebenarnya menurut dia, padahal itu belum jelas semuanya karena banyak yang masi tertutup, seperti Ningsi yang sama sekali tidak menyayangi Nathalie, tetapi banyak orang yang mengetahui jika Nathalie di sayang oleh Ningsi.
Rangga diam dan terus mendengarkan kata-kata Riyan selanjutnya.
"Maaf Tuan aku harus mengatakan ini, Nathalie memilik trauma sudah sangat lama, sejak Nathalie masi kecil dan ingin menolong Naomi Nathalie yang hampir di hunu. Ada seseorang yang menyekap Nathalie di sebua ruangan sempit dan hampir membunuhnya, dari situ Nathalie trauma dengan kegelapan"
Deg...
Rangga seketika merasa tertampar dengan kata-kata Riyan barusan mengingat kejadian yang terjadi beberapa tahun silam, waktu orangtuanya masi hidup.
Kejadian itu yang membuat dia dan orangtuanya terpisah, Rangga tidak tinggal bersama lagi dengan orangtuanya setelah kelakuannya yang mendengar hasutan Ninggsi, hingga sampai orangtuanya meninggal Dunia karena kecelakaan pun ia tak mengetahuinya.
"Jadi gadis itu adalah Nathalie ia sudah besar?" Batin Rangga ia berusaha berpikir positif dan menolak untuk percaya jika gadis yang hampir ia bunuh beberapa tahun yang lalu adalah wanita yang sekarang menjadi istrinya itu. Atau lebih tepatnya Musuhnya.
__ADS_1
"Tuan, maaf jika---"
"Tidak apa-apa Riyan, kau boleh keluar dan jika dokter yang saya minta tadi sudah datang segerah bawa dia kemari"
Potong Rangga cepat, ia tidak mau mendengarkan apa-apa lagi.
Enta apa yang ia pikirkan hanya dia yang tau.
"Baiklah Tuan" Riyan keluar dari ruangan itu dengan pikiran yang memikirkan banyak hal yang tidak ia dapatkan jawabannya.
Rangga duduk kembali di kursi melihat wajah polos Nathalie yang sedang tertidur sangat pulas setelah mendapatkan suntikan obat penenang dari dokter Rafa.
Rangga yang sudah cape akhirnya tertidur di di atas kursi sambil duduk, dengan kepalanya diletakan di atas ranjang Nathalie.
Pukul lima pagi, Nathalie yang suda terbiasa bangun pagi itu terbangun dan ia kaget melihat Rangga tidur sangat dekat dengannya, kepala Rangga yang menyentu bahu Nathalie membuat aroma tubu Rangga di hirup langsung oleh Nathalie.
"Tolong,,, jangan pukul aku lagi, aku mohon" Teriak Nathalie.
Rangga yang mendengar suara Nathalie langsung kaget dan bangun, Rangga segerah menekan tombol di dekat Ranjang Nathalie untuk memanggil dokter. Tak lama kemudian dokter datang dan langsung mendapatkan banyak pertanyaan dari Rangga.
"Mana dokter yang kau bilang itu, cepat suru dia masuk, aku tidak mau mendengarnya berteriak terus, telingaku hampir saja tuli" Mara Rangga.
"Baik Tuan aku akan segerah memanggilnya kemari" Kata dokter itu setelah ia menyuntik obat penenang ke botol infus Nathalie ia segerah keluar dan kembali ke ruangannya.
Pukul enam pagi, dokter Saraf yang di rekomendasikan oleh dokter Rafa datang, dan langsung di bawa oleh dokter Rafa menemui Rangga dan Pasien di ruang rawat.
Rangga menyuruh Riyan untuk menjaga Nathalie sebentar dan ia ingin pergi ke Kantin Rumah sakit untuk meminum segelas kopi. Setelah membersihkan Wajahnya di kamar mandi yang berada di Ruang Rawat Nathalie, Rangga segerah keluar.
Setelah Rangga keluar, dokter Rafa beserta dokter Saraf itu masuk.
"Selamat pagi Tuan, ini dokter Intan" ucap dokter Rafa.
"Baiklah silahkan" kata Riyan
Tanpa menunggu Rangga, dokter itu menyuntik sebua obat ke dalam botol infus Nathalie.
Setelah beberapa menit kemudian Nathalie sudah mulai menggerakkan tangannya dan, matanya yang mulai terbuka perlahan melihat ke semua sisi atap Ruangan itu. Ruangan yang di warnai tembok putih itu membuat Nathalie mengerutkan keningnya.
Namun Nathalie segerah bangun di bantu oleh dokter Intan untuk duduk.
"Aku di mana?" Nathalie bertanya kepada dokter Intan
"Mba sekarang ada di Rumah sakit" dokter Intan menjawab Nathalie dan tersenyum ramah. Nathalie yang melihat itu suda tidak terlalu takut lagi, sebisa mungkin ia mengingat kejadian yang terjadi kemarin, dan ia teringat semua perlakuan Rangga.
Nathalie terdiam dan tak mau berkata apa-apa. Pandangannya lurus ke depan, dokter intan yang memeriksa Nathalie tau jika Nathalie punya trauma yang bisa datang kapanpun jika seseorang dengan sengaja atau tidak sengaja membuat trauma itu kembali, membuat dokter intan pun prihatin.
Dokter Intan memberi resep obat kepada Riyan, dokter Intan berpikir jika Riyan adalah suami Nathalie. Karena sejak tadi ia hanya melihat Riyan dan Nathalie di sana.
Dokter Rafa pun lupa menjelaskan siapa yang ada di dalam ruangan itu.
"Pak segerah bayarkan ini di apotek"
"baiklah terimkasih"
Setelah Riyan pergi Nathalie bersuara.
__ADS_1
"Dok, saya sudah tidak apa-apa, apakah saya suda bisa pulang?" Tanya Nathalie
"bisa, asalkan sudah tidak lemas lagi, nanti saya akan beri Vitamin agar di minum dengan baik" Jawab dokter Intan
"Baiklah dok" Sahut Nathalie.
"Mba harus isterahat yang cukup, sepertinya bukan hanya pikirin mba saja yang terkuras tapi tenaga mba juga terkuras habis, harusnya isterahat jika suda cape bekerja, jangan dipaksakan tenaganya untuk bekerja" dokter Intan berbicara sedikit menasehati Nathalie, Nathalie yang mendengar itu, hanya membalasnya dengan senyum. Dan mereka sama-sama tersenyum.
Setelah Riyan membawa beberapa obat yang ia bayar tadi di apotik, segerah dokter Intan berikan kepada Nathalie setelah ia memakan sarapan yang di bawa oleh seorang petugas Rumah sakit tadi.
"Jika sampai sore, tidak ada keluhan bisa pulang" kata dokter Intan kepada Nathalie lalu ia pamit keluar dari ruangan Intan.
Tetapi pas sampai di dekat Riyan dokter Intan memberitahu Riyan agar segerah bertemu dengannya di ruangannya.
Riyan menyahutinya lalu, berjalan mengekori dokter Intan.
Sampai di ruangan dokter Intan Riyan di suru duduk lalu dokter Intan mulai berbicara.
"Pasien mengalami trauma yang sangat berat hal-hal seperti ini sering terjadi. keadaan pasien seperti itu, seringkali ada. Aku tidak tau pasti sudah berapa lama tetapi aku rasa ini sudah cukup lama.
Pasien akan merasa takut dan berteriak, karena ada hal-hal yang ia hadapi di sekitarnya yang mengingatkan akan masa lalunya yang menyakitkan atau menakutkan untuk pasien, aku harap berhati-hati saat melakukan sesuatu yang mungkin bisa membuat dia mengingat traumanya lagi. Hal itu bisa membuat pasien gila bahkan bisa mematikan jika tidak segerah di tolong.
Aku menyarankan jika bisa, bawa dia ke Psikiater agar dia di periksa. Hal itu akan menyembuhkan traumanya perlahan..
Jika tidak pasien akan terus seperti ini"
Penjelasan dokter intan panjang lebar dan Riyan hanya membalasnya dengan singkat.
"Baiklah" sahut Riyan
"Ha?? Aku sudah berbicara panjang lebar dan dia hanya menjawabnya dengan satu kata, Apakah dia tidak kasian kepada istrinya? dasar tidak waras, maunya enak saja dia pikir istrinya itu rorbot" Batin Intan
Riyan keluar dari ruangan dokter Intan dan segerah kembali ke Ruang Rawat Nathalie, namun langkahnya terhenti saat ponselnya berdering.
Riyan melihat nomor yang tertera di layar kaca ponsel dan segerah menerimanya karena itu telepon penting.
Rangga yang kembali dari sarapannya segerah masuk ke dalam ruang rawat Nathaie dan matanya melihat ke setiap sudut ruang namun tak satu orang pun yang ia temui.
"kemana mereka" batin Rangga pikirannya mulai berpikir jika Nathaie kabur, namun masi dibuat tenang.
"Riyan, Nathalie" teriak Rangga namun tak ada satupun orang di ruangan itu ranjang tempat Nathalie masi berantakan.
Rangga berteriak-teriak di ruangan itu sendiri sampai Riyan masuk ke dalam ruangan.
"Tua---" Tenggorokan Riyan seperti di cekal karena melihat Rangga yang suda sangat mara.
"dari mana kamu, di mana gadis itu" potong Rangga
"Maksutnya Nona Nathalie, bukannya dia tadi di sini? Aku pergi ke ruangan dokter karena ada yang akan di sampaikan dokter Saraf itu" Jawab Riyan
"Lalu kau meninggalkan Nathalie di sini sendirian" Jawab Rangga dengan emosi..
...~*Bersambun**g*~~...
See you Next😍🤗
__ADS_1