Pengorbanan Dan Persahabatan

Pengorbanan Dan Persahabatan
Pria asing


__ADS_3

Rangga menahan pinggang Nathalie dengan memeluknya.


"Tolong, aku hanya lagi tidak ingin jauh dari mu" kata Rangga


Nathalie hanya terdiam.


"Jika kamu tidak suka, maka kamu bisa pergi tapi setelah aku sembu" sahut Rangga lagi.


"Ia balik lah jadi apa yang harus aku lakukan?"


"Pijit kepalaku"


"Tapi kan sudah di pijit tadi, apa perlu kita ke dokter?"


"Gak usa, sebentar pasti sembu"


"Ok tapi janji kalau tidak sembu, ke dokter kita"


"Ia, tapi aku mau cobain dulu teh jahe yang kamu bilang tadi"


"Ok aku akan buatkan"


"Suru bibi aja buat bole gak"


"Bisa sih, tapi kan beda orang pasti beda rasa juga"


"Ok aku mau yang buatan kamu, suru bibi bawa bahan-bahannya kemari"


"Gak bisa! Karena jahenya di rebus langsung, aku ke bawa sebentar ya"


"Ok tapi jangan lama-lama"


"Ia ok, janji gak lama"


Nathalie ke dapur membuat teh jahe.


Setelah jahenya di potong-potong ia rebus dan masukin gula merah dan rempa-rempa lainnya.


Setelah selesai ia tuang ke dalam cangkir lalu bawa ke atas.


Nathalie kaget ia ke atas melihat Rangga baru keluar dari kamar mandi.


"Munta lagi?"


"Sedikit"


"Kita ke dokter aja ya?"


"Coba dulu minum teh jahenya"


"Ok ini di minum"


Setelah Rangga meminum Teh jahe itu, sudah mulai berkurang mualnya.


"Sudah agak mendingan, aku mau tidur"


"Ok baiklah"


Seharian ini Rangga dan Nathalie berdua hanya menghabiskan waktu mereka di kamar, hingga malam.


Esok pagi seperti biasa Mita datang lagi dan mulai banyak bicara di ruang makan.


Nathalie dengan cepat menyelesaikan makanannya, ia ke kamar dan ingin membawa tas beserta Jas Rangga ke bawa tetapi Rangga mengikutinya ke kamar dan mengambilnya sendiri.


"Nat, kamu bisa gak masakin aku hari ini, apapun itu terserah yang penting aku bisa pulang siang untuk makan"


"Hah? eh maaf tapi kan aku tidak tau Tuan sukanya makanan seperti apa"


"Makanan apapun itu yang penting masakan kamu"


"Ok baiklah aku akan memasaknya"


"Ok, aku berangkat kerja dulu"


"Baik Tuan hati-hati"


"Hm"


Setelah Rangga berangkat kerja Nathalie mulai bekerja lagi seperti biasa, mulai dari kamar hingga dapur.


Rangga yang sudah sampai di Kantor tiba-tiba pusing lagi, Riyan yang melihat tingka Tuannya itu sedikit berbeda mulai penasaran dan bertanya.


"Tuan tidak apa-apa, jika tuan tidak enak badan aku bisa memanggil dokter"


"Riyan coba kamu telepon Rici, kalau dia tidak sibuk panggil Rici kemari"


"Ok baiklah Tuan"


Riyan menelepon dokter Rici, dan kebetulan tidak sibuk jadi akan segera kemari.


Tak lama kemudian dokter Rici pun kemari. Setelah dokter Rici mengetuk pintu ruangan Rangga dan di izinin masuk ia sedikit bingung melihat waja sahabatnya itu sedikit pucat.


"Hai CEO bodo kamu sakit apa kok pucat gini?"


"Rici kamu tau, aku dari kemarin masuk angin tapi kok gak sembu-sembu padahal suda minum obat, pijit semuanya suda tapi kenapa tidak sembu?" Rangga mulai menceritakan keadaannya kepada dokter Rici yang merupakan sahabatnya itu.


Rici tersenyum


"Aku periksa dulu ya"


Riyan, Rici dan Rangga masuk ke dalam kamar yang ada di ruangan Rangga lalu, Rangga di periksa setelah di suru baring.


"Riyan kamu bisa tolong ambilkan segelas air putih untukku?" dokter Rici sengaja menyuru Riyan keluar.


"Baik dokter" jawab Riyan

__ADS_1


Setelah Riyan keluar, dokter Rici mulai bertanya.


"Ga, aku mau tanya kamu jawab dengan jujur ya?"


"Mau nanya apa, aku akan jawab asal pertanyaan kamu jangan yang ane-ane"


"Kamu sudah mulai jatu cinta sama Nathalie gak?"


"Kamu ngomong apa sih! Pertanyaan macam apa itu?"


"Aku serius Ga, kamu jawab aja ia atau tidak"


"Ya enggak lah, kamu kan tau apa alasan aku menikahi dia"


"Ia aku tau sih, tapi aku pengen tau siapa tau aja sekarang sudah mulai tumbu beni-beni Cinta di hati kamu"


"Aku gak tau, tapi sejak aku masuk angin dan sakit dari kemarin tu aku kaya over bangat sama dia, gak mau ini, gak mau itu, dan lebih paranya lagi aku gak mau jauh dari dia"


"Ok kalau gitu, nanti aku berikan resep Vitamin kamu bisa beli di apotek, mungkin itu hanya efek kamu masuk angin makanya semuanya serba salah" dokter Rici sengaja memberi pemikiran yang positiv kepada Rangga agar tidak berpikir macam-macam


"Tapi aku sakit apa?"


"Kamu itu masuk angin, pasti kamu melewatkan jam makanmu"


"Ia juga sih, tapi kenapa kamu menanyakan tentang perasaan aku ke Nathalie?"


"Hehe pengen tau aja" Jawab dokter Rici dengan cengengesan


"Aku bingung, aku sangat membencinya tapi aku juga tidak ingin melepaskannya begitu saja"


"Kamu tidak membencinya Ga, tapi kamu hanya terlalu memikirkan ego mu, kamu tidak ingin hatimu mengalahkan otakmu, tapi ingat wanita itu butu kepastian dia akan pergi jika dia tidak mendapatkan kepastian. Turunkan sedikit egomu, dan kamu akan tau seperti apa sebenarnya perasaanmu".


"Mau ke manapun dia, aku akan mencarinya emangnya siapa dia bisa sembunyi dariku"


"Kamu bisa mendapatkan dia, tapi tidak dengan cintanya, apalagi jika hatinya itu sudah terisi oleh orang lain"


"Akan ku bunu orang itu"


"Tapi tidak dengan cintanya, jika wanita sudah mencintai seseorang, bahkan sampai mati orang itupun tidak akan meruba Cintanya, dia akan terus mencintainya. Wanita akan melupakan seseorang hanya dalam sekejap jika itu tentang penghianatan, itu yang aku tau karena aku mengalaminya.


Jika kamu tidak ingin cintamu di rebut, maka turunkan sedikit egomu" Jelas dokter Rici panjang lebar.


"Lama-lama kok kamu mala jadi dokter cinta?"


"Aku serius Ga, aku suda perna pusing dengan kegalauanmu, jadi untuk kali ini aku tidak mau lagi"


"Iaia bawel, akan aku pikirkan, mentang-mentang sudah punya suami dan punya anak"


"Ia dong, punya anak itu menyenangkan, anak adalah segalahnya buat aku, capeku langsung hilang seketika jika aku sampai di rumah dan bertemu dengannya, bisa menghilangkan stresku karena banyak pasien, semua lelahku langsung hilang saat aku sudah pulang dan bertemu Clowy, dia anak yang sangat menggemaskan"


"Aku pikir kamu mala pusing saat ada Clowy"


"Ya enggak lah Ga, Clowy anak yang sangat manis dan pengertian"


"oya? Bagus dong, jadi pengen punya baby boy" Tanpa sadar Rangga membayangkan bayi laki-laki yang lucu dan tampan seperti dia.


"Apaan sih! Ayo pulang sana"


Riyan yang dari tadi di luar, karena merasa emang sengaja di suru keluar itu pun masuk kembali membawa segelas air hangat.


"Ini airnya dok" kata Riyan


"Ia Riyan, nanti kamu beli Vitamin buat bosmu, ini resepnya, dan kalau bisa untuk beberapa hari ini jangan terlalu bekerja dulu"


"Baiklah dok, terimaksih"


"Yah! Aku pamit dulu Ga, kamu jaga kesehatan, semoga cepat sembu"


"Hm"


Setelah dokter Rici keluar, Riyan kembali ke ruang kerjanya sedangkan Rangga masi di kamar itu, dan memikirkan setiap kata-kata sahabatnya itu.


"Kenapa jadi kepikiran kata-kata Rici sih!" gumam Rangga.


Tak lama kemuadian Rangga keluar, masi jam 10:15


"Tringgg" ponsel Riyan berdering


(Tuan R Calling)


"Hallo Tuan"


"Riyan, ada jatwal apa saja untuk hari ini?"


"Nanti setelah jam isterahat ada pertemuan dengan karyawan, dan tim marketing"


"Ok kamu ke ruangan aku sekarang"


"Tut" telepon mati


"Huh!! Main matiin aja" gumam Riyan


"Tok-tok"


"Masuk"


"Ada apa Tuan?" Tanya Riyan setelah sampai di ruang kerja Rangga


"Kamu bisa mengatasi meeting hari ini kan?"


"Bisa Tuan, tapi Tuan mau ke mana?"


"Aku mau pulang, apa kau tidak dengar apa kata Rici tadi? Katanya aku harus banyak isterahat"


"Ia baiklah Tuan biar aku antar"

__ADS_1


"Tidak! Aku pergi sendiri kamu nanti pulang dengan mobil kantor"


"Ok baiklah Tuan, kalau begitu aku pamit dulu"


Setelah sampai di ruangannya Riyan mulai berpikir


"Sejak kapan Tuan mau dengar kata-kata orang, apalagi ini tentang isterahatnya dia".


Rangga pulang sendiri naik mobilnya, saat di perjalanan pulang ia sudah tidak tahan lagi dengan aroma pengharum mobil yang bergantungan di dalam mobil, Rangga menepikan mobilnya lalu ia mengambil pengharum itu dan memasukannya ke dalam tempat sampah di dalam mobil, namun aromah itu tidak hilang-hilang jadi ia berhenti di sebua Super market yang tidak terlalu jauh dari Rumahnya, untuk membeli pengharum mobil yang cocok dengan penciumannya.


Rangga keluar menggunakan masker karena ia tidak ingin mencium apa-apa.


Setelah ia masuk ke dalam Supermarket, Rangga bingung ke arah mana ia harus pergi. Rangga bertanya kepada karyawan Supermarket yang lagi bertugas untuk memberitahu di mana tempat pengharum Mobil.


"Mba bisa beritahu saya di mana tempat pengharum Mobil?"


"Sini mas, aku antarkan"


Setelah di antar, Karyawan itu menyuruh Rangga untuk memilih pengharum sesuai keinginannya sedangkan, Karyawan itu kembali bertugas.


Karena tidak ingin bertanya lagi, Rangga memilih semua yang beraroma segar.


Di tempat lain seorang pria menabrak seorang gadis muda yang sangat cantik dan mala merayunya.


"Brukk"


"Aduh" Nathalie hampir terjatu


"Hai cantik, siapa nama kamu kok jalan sendiri? Ga ada yang antarin ya, kalau gitu aku bisa kok temani kamu" kata Pria itu


"Maaf ya mas, aku sudah menika"


Pria itu terus merayu Nathalie. Bi Ratna yang masih memili-mili barang sudah pergi untuk memili kebutuhan mereka yang lainnya.


"Lepasin aku! Jangan megang-megang tangan aku, aku bisa berteriak maling jika kau terus memegang tanganku" Nathalie yang mengikuti latihan bela diri itu, seolah lupa dan tidak bisa buat apa-apa.


Akhirnya Nathalie menutup matanya dan, menendang tangan si pria itu.


Pria itu kaget dan melepaskan tangan Nathalie hingga Nathalie terlempar dan hampir terjatuh ke belakang, namun dengan cepat seorang pria yang lainnya datang dan menolongnya.


"Ah" Teriak Nathalie


"Sayang kamu tidak apa-apa, kamu ngapain di sini?"


Nathalie kaget dengan panggilan itu.


"Kamu siapa? jangan mengada-ngada kamu"


Rangga yang mulai gemas itu mala menarik hidung Nathalie dan memeluknya.


Pria asing yang tadi itu mulai curiga jika pria yang bersama Nathalie sedang berbohong karena Nathalie tidak mengenalinya.


"Eh siapa kamu? Dia pacar aku, aku sedang berbelanja dengannya tetapi dia sedang ngambek sama aku" kata pria itu. Rangga mulai emosi tapi dia sadar jika ia sedang memakai masker. Rangga membuka maskernya dan mencium Nathalie di depan pria itu.


"Kamu tau apa artinya? Dia bukan kekasiku, atau selingkuhanku tapi dia isteri ku" Mata pria itu langsung membesar, bersamaan dengan kagetnya Nathalie yang di cium di tempat umum.


"Hah, kok bisa ada di sini?"


"Ayo pulang, aku lapar ingin makan"


"Ok ayo kita pulang" Nathalie yang panik itu lupa jika tadi ia datang bersama Bi Ratna..


Mereka pergi dari sana meninggalkan pria asing itu begitu saja.


Sesampainya di mobil, ia mulai ingat jika tadi ia menaru jaketnya di dalam mobil.


"Astaga Bibi, aku panggil Bibi dulu aku datang bersama Bibi tadi, ya ampun aku benar-benar lupa"


Nathalie ingin turun dari mobil, tapi ia berhenti gerakannya saat mendengar kata-kata Rangga.


"Kamu datang bersama Bibi tapi mala melupain Bibi gitu aja"


"Bukan melupain dia Tuan, tapi aku di tahan sama pria gila itu"


"Tapi kamu juga senang kan, berduaan bersamanya"


"Hah? Pikiran macam apa itu, tidak ada yang seperti itu Tuan, aku tidak mengenal orang itu, dan aku benar-benar lupa BiRatna, aku akan turun dan pulang bersama Bibi saja maaf"


Rangga yang melihat itu mengunci pintu dan Nathalie tidak bisa membuka pintu itu.


"Aku mau turun, tolong buka pintanya"


"Kamu tidak akan mendapatkan Bibi di dalam Supermarket ini, karena Bibi suda pulang"


"Kok pulang, trus aku gimana?"


"Kamu kita pulang juga, atau mau pulang bersama Pria tadi"


"Hah, tidak-tidak"


"Ayolah jika itu kekasihmu, maka mengakuilah aku akan menyetujuinya"


Nathalie langsung membalikan wajanya menatap Rangga.


"Benarkah?"


"Tidak!"


Rangga menarik tangan Nathalie dan memeluknya.


"Aku hanya bercanda, ayo kita pulang"


"Hm"


Mobil mereka berdua keluar dari tempat parkiran itu dan pulang.

__ADS_1


...Bersambung...


See you Next😍🤗


__ADS_2