
Belum tuntas dengan pagelaran yang menggairahkan itu, tiba-tiba saja Bi Nari mengetuk pintu kamar Alamanda. "Permisi, Non Manda. Maaf, ponsel Non Manda ada di sofa ruang tengah tadi. Ini Bibi bawakan," ujarnya dengan suara setengah berteriak dari balik pintu.
Sontak saja mereka langsung berhenti. Elyaz bersembunyi ke bawah tempat tidur. Sementara, Alamanda segera berbenah dan membuka pintu kamarnya.
"Ini, Non, ponselnaya." Bi Nari menyerahkan benda pipih itu pada Alamanda.
"Terima kasih, ya, Bi." Gadis itu tersenyum ramah.
Lantas, Bi Nari pun pergi dari sana. Dan Alamanda kembali menutup kamarnya. Dengan perasaan lega, dirinya memberi kode pada Elyaz untuk ke luar dari bawah sana.
"Huuft! Hampir saja kita ketahuan," desis Elyaz sambil menglus dadanya.
"Kakak juga, sih! Sana kembali ke kamarmu!" usir Alamanda.
"Tidak! Ayo kita pergi ke luar mencari angin segar!" Elyaz langsung menarik lengan Alamanda. Terus menarik pelan sampai mereka tiba di mobil dan masuk.
"Bi Nari, saya dan Manda ada keperluan untuk bertemu teman sebentar!" ucap Elyaz dengan nada sedikit lantang.
Bi Nari langsung menghampiri dengan tergesa, "Baik, Den," katanya sembari menutupkan pagar garasi.
Mobil itu pun melesak dengan cepat meninggalkan kediaman mereka. Alamanda merasa bingung, sebenarnya dia akan dibawa ke mana oleh Elyaz? Sementara itu, Elyaz tidak memberi jawaban pada setiap pertanyaan Alamanda.
Tibalah di sebuah taman dengan lampu warna warni. Dipandang dari kejauhan tampak seperti hamparan bunga, bertangkaikan kawat-kawat penyangga yang dibentuk serupa pohon, atau tanaman. Indah sekali saat mata memaparnya.
"Kakak, ini sangat menakjubkan," komentar Alamanda sambil tercengang.
__ADS_1
"Ya, sebenarnya sudah sejak lama aku ingin mengajakmu ke sini, tapi waktunya selalu saja tidak ada. Tepatnya, kesempatan kita terlalu sulit."
Alamanda tersenyum. Tampak kedua matanya bebinar, berkelipan bak bintang-bintang. "Aku suka taman lampu ini."
"Aku lebih menyukaimu, bahkan jika dibandingkan dengan taburan bintang di atas kepalaku," papar Elyaz dengan mata yang menatap lekat pada Sang Gadis.
Dia selalu saja membuat Alamanda salah tingkah dengan sejuta rayuan indahnya. "Ayo, Kak, kita berfoto di sana." Pemilik gigi kelinci itu mengalihkan topik pembahasan untuk meredam rasa geroginya.
Elyaz pun setuju. Mereka mengambil beberapa foto berdua di setiap objek foto yang mereka inginkan. Cukup lama mereka menikmati malam kebersamaannya di taman lampu yang indah itu.
Hingga rasa bosan mulai melanda keduanya. Elyaz akhirnya mengajak Alamanda pulang. Namun, hal tak terduga kembali terjadi. Ketika sudah masuk ke dalam mobil, Elyaz dengan sigap langsung menarik Alamanda ke atas pangkuannya.
Malam itu, Elyaz benar-benar kalap hingga dia nyaris menerobos lorong surgawi Alamanda. Untung saja, jeritan kesakitan yang teramat dahsyat dari Alamanda mampu menyadarkannya. Dan kegilaannya itu akhirnya dia hentikan.
"Manda sayang, maafkan aku." Seluruh tubuh Elyaz bergetar memerangi rasa bersalahnya sendiri.
Elyaz menangis dan langsung mendekap Alamanda. "Maaf, Sayang." Hanya kata itu yang terucap dari mulut Elyaz. Air matanya pun luruh membasahi pipinya.
"Ayo pulang, Kak," ajak Alamanda dengan tubuhnya yang masih gemetar ketakutan. Dia juga masih merasa sedikit ngilu akibat benturan benda pusaka Elyaz yang hampir memporak porandakan kolam paling surgawi miliknya.
"Iya, Sayang. Kita pulang sekarang juga." Elyaz langsung memasangkan sabuk pengaman pada Alamanda, lantas melajukan mobilnya secepat kilat.
****
Kini keduanya telah tiba di rumah. Elyaz menuntun Alamanda sampai ke kamarnya. Dia membiarkan Gadis itu istirahat dengan tenang tanpa memberi gangguan padanya.
__ADS_1
"Tidurlah, Cantik. Jangan pikirkan apa-apa, humm. Aku mencintaimu, Manda." Sebuah kecupan di kening Alamanda tak tinggal Elyaz labuhkan.
Jujur saja sebelumnya Alamanda sangat marah, karena perlakuan Elyaz yang nyaris merenggut kesuciannya itu. Namun, kesungguhan Elyaz saat meminta maaf padanya, membuat hati Gadis pemilik leher jenjang itu luluh. Bahkan, dia merasa teramat tersentuh dengan ketulusan Elyaz padanya.
Kegelisahan Elyaz membuatnya tidak dapat tidur. Seperti biasa, malam itu setelah dirinya memastikan Alamanda beristirahat, dia melenggang ke balkon rumah. Di mana dia bisa menyaksikan langit malam yang syahdu sambil menatap ke atas dengan puas.
"Maafkan aku, Manda. Aku selalu hilang kendali setiap kali dekat denganmu. Sejak aku membaca perasaan cinta di matamu itu, aku merasa seolah berhak atas dirimu. Inginku hanya menuntaskan segalanya saja. Hasratku, kerinduanku, rasa kepemilikanku, dan tentu saja itu sangat egois. Entah kapan aku bisa mewujudkan semuanya dan menikahimu? Agar kita tidak perlu takut lagi pada sekat yang menjadi penghalang hubungan kita ini, Manda."
Elyaz bicara sendiri sambil sesekali tertawa atau tersenyum pada langit malam yang teduh. Mata Elyaz seolah menyatu dengan kilau gemintang yang bergelimang menghiasi indahnya malam kala itu. Sungguh, di dalam pikiran Elyaz hanya ada khayalan indah bersama Alamanda.
Rasa kantuk seperti menganyam bulu mata Elyaz. Dia juga mulai menguap dan tubuhnya memberi isyarat agar direbahkan. Pemuda dengan tubuh maskulin itu pun bergegas masuk ke dalam kamarnya dan tidur.
****
"Bu, entah kenapa ... Ayah merasa sangat khawatir pada Elyaz. Sesekali Ayah perhatikan, sepertinya dia menyukai Manda di luar ikatannya sebagai seorang kakak," ungkap Emir pada Kania.
"Ahh, Ayah. Itu pasti hanya perasaan Ayah saja. Elyaz memang sangat menyayangi adiknya, Yah. Dan Ibu rasa, itu murni karena Elyaz memang seorang kakak yang betanggung jawab." Kania memberi sangkalan pada kecemasan Emir tersebut.
Pasangan dewasa yang kala itu tengah berada di kamar sebuah hotel itu pun melanjutkan aktifitas malamnya. Aktifitas yang sudah puluhan tahun mereka lakukan. Ya, di usia mereka yang nyaris setengah abad, keadaan fisik keduanya memang terbilang masih bugar dan awet muda. Bahkan, jika mereka jalan beriringan dengan Elyaz saja, tak jarang orang mengira mereka seperti kakak beradik.
Dengan lincah Kania melayani Emir. Wanita itu selalu saja membuat Emir dimabuk kepayang saat menerima pelayanan super dan begitu menantang darinya. Seisi kamar hotel itu dipenuhi oleh suara rintihan sarat kenikmatan dari Emir dan Kania.
Dada Kania yang membusung dan tampak bagai gadis perawan pun habis dilahap dengan buas oleh Emir. Hingga racauan semerdu kicau burung terus saja keluar dari mulut indah Kania. Tubuhnya terus saja bergelinjang, meliuk, dengan kepala yang terus mendongak ke belakang tanda sempurnanya sebuah kenikmatan surgawi yang dia rasakan.
Aktifitas itu terus terjadi hingga mereka mendapatkan beberapa pelepasan dan akhirnya tubuh mereka lemas, terkulai tidak berdaya. Keduanya pun tidur dalam damainya malam, di dinginnya suhu ruangan yang membuat tubuh keduanya senantiasa rekat tak terpisahkan. Mereka tak ubahnya pasangan pengantin baru.
__ADS_1
Bersambung ....