Perangkap Cinta Kakak Angkatku

Perangkap Cinta Kakak Angkatku
BAB 23 Aku Berjanji


__ADS_3

Melihat dua sejoli itu bermesraan, Helmi menggaruk tengkuk yang tidak gatal, kemudian berdeham, "Ekhem! Kalau sudah tidak tahan segera saja panggil penghulu," sindirnya.


Sontak Elyaz dan Alamanda mengambil jarak dan tampak salah tingkah. Mereka tidak berpikir bahwa Helmi akan melihat apa yang baru saja mereka lakukan. Sungguh mereka tak enak hati, walau akhirnya biasa saja.


****


Dua hari sudah berlalu sejak hari itu. Elyaz mulai memikirkan di mana mereka akan tinggal. Helmi memberi usul agar Elyaz tinggal saja bersamanya di rumah kostan, sedangkan Alamanda akan dicarikan tempat tinggal sendiri yang tidak terlalu jauh dari situ, agar Elyaz mudah mengunjunginya.


Tak berapa jauh dari sana, mereka pun dapat kontrakan petak dan itu akan dijadikan tempat tinggal Alamanda. Tanpa menunggu lagi Elyaz dibantu Helmi langsung mengurus semuanya. Sahabatnya itu sangat setia mendampingi Elyaz yang sedang dalam masa sulit.


Setelah semua urusan selesai. Kini saatnya Elyaz mengantarkan Alamanda ke rumah kontrakan tersebut. Kini dia hanya berdua dengan Alamanda tanpa Helmi.


"Kakak, aku akan tinggal sendirian di sini?" tanya Alamanda begitu mereka sudah berada di sana.


"Iya, Sayang. Jangan khawatir, bukankah aku tinggal dekat dari sini?"


"Iya, Kak."


"Kenapa wajahmu sedih, Manda?Apa kamu tidak senang?"


Alamanda menggelengkan kepalanya. "Aku memikiran nasib sekolahku, Kak," katanya.


Seketika itu juga Elyaz merasa seperti mendapat tamparann yang sangat keras. Dia memeluk Alamanda dengan erat, "Maafkan aku, Manda. Setelah keadaan membaik aku janji akan membuatmu kembali ke sekolah. Asal kamu mau berjanji padaku."


"Janji? Janji apa itu, Kak?"

__ADS_1


"Jangan pernah melarikan diri lagi dariku, hem!"


Alamanda menatap dalam pada Elyaz. "Aku berjanji, Kak," ucapnya lirih.


"Dengarkan aku, Manda! Perjuangan yang akan kita lalui ini mungkin tidak akan mudah, tapi aku pastikan tidak akan sia-sia. Dan kamu harus tahu, setiap yang aku lakukan mulai kemarin hingga detik ini adalah demi dirimu dan hubungan kita. Aku tidak mau perjuanganku mendapat kemenangan tanpa dirimu."


"Mengapa Kakak mencintaiku sedalam itu?"


"Aku tidak tahu alasannya dan tidak akan pernah bisa menjelaskannya, Manda. Yang aku tahu, aku sangat mencintaimu. Itu saja."


Tidak dapat dipungkiri. Sebenarnya, Elyaz juga sangat sedih mengingat sekolah Alamanda yang harus dikorbankan karena keputusannya. Jauh di lubuk hati Elyaz, dia sangat teriris mendengar Alamanda bertanya dan memikirkan tentang nasib sekolahnya. Akan tetapi, nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Yang bisa dia lakukan sekarang hanya menjalani apa yang ada di hadapannya. Sekali pun jalannya teramat terjal dan penuh aral melintang.


"Istirahatlah! Kamu pasti sangat lelah, bukan?"


"Ada sedikit urusan. Nanti malam, aku ke sini lagi untuk mengunjungimu."


"Jangan lama-lama, ya, Kak. Manda tidak ada teman di sini," pinta Gadis pemilik kulit putih itu.


"Akan aku usahakan selesai dengan cepat. O, ya ... jangan lupa kunci pintunya."


"Baik, Kak."


Lalu dengan langkah berat, Elyaz pun pergi meninggalkan Alamanda sendiri. Andai dia bisa mengendalikan keadaan, tentu saja dirinya tidak akan pernah mau terperangkap dalam kesulitan seperti itu. "Maafkan aku, Sayang," ucapnya seraya berkaca-kaca.


Detik berikutnya, Elyaz sudah berada di kostan Helmi. "Hel, aku butuh pekerjaan sekarang. Bisakah kamu membantuku untuk mendapatkannya?"

__ADS_1


"Serius? Ya ampun, El, aku harap kesulitan ini cepat berlalu. Aku tidak tega melihatmu begini."


"Berhentilah menatapku seperti itu, Sial!"


"Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh sedih melihatmu susah?"


"Simpan saja kesedihanmu itu. Jangan pernah kasihan padaku!"


"Dasar tidak tahu diri!" hardik Helmi merasa kesal.


"Aku serius, Helmi. Aku butuh pekerjaan." Sekali lagi Elyaz bicara dengan penuh kesungguhan.


"Kau pikir rasa sedihku melihat kesulitanmu tidak serius? Yang benar saja!"


"Hey, berhentilah bersikap sensitif seperti wanita. Begitu saja marah," cicit Elyaz.


"Baiklah, aku punya kenalan di bengkel dan kafe. Kalau memang kamu mau akan aku tanyakan padanya."


"Nah, begitu, dong. Aku tunggu kabar baik itu." Elyaz begitu antusias.


"Kau pikir aku tidak tahu, Bodoh? Kau sedang menyembunyikan kesedihanmu, bukan? Mulutmu bisa saja berdusta, tapi tidak dengan sorot matamu," batin Helmi.


"Bersabarlah, Manda. Aku janji penderitaan kita ini tidak akan berlangsung lama." Elyaz mengajak jiwanya bicara dalam kemelut batin yang tak sudah-sudah.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2