
Kesokan hari, Helmi kebingungan karena Elyaz tidak juga kembali ke kostan. Sementara, waktu sudah hampir siang. Dia mulai merasa cemas.
"Kenapa si budak cinta itu belum kembali juga?" gumamnya.
"Apa jangan-jangan, dia bermalam dengan Alamanda? Ini gawat."
Dengan segera, setelah membasuh muka dan mengeringkannya, dia pun bergegas menuju ke kontrakan Alamanda yang tidak seberapa jauh dari tempat kostnya itu.
Setibanya di sana, Helmi mengetuk pintu kontrakan tersebut. Namun, ada sedikit kejanggalan. "Mengapa pintunya digembok dari luar?" Dia pun menjadi penasaran.
"Kemana mereka pergi? Mengapa sepi sekali?"
"Cari siapa, Mas?" Terdengar suara seorang pria, tetangga yang mengontrak di pintu sebelah tempat Alamanda sebelumnya.
"Teman saya, Pak. Apa mereka pergi?"
"Bukan pergi lagi, mereka sudah diusir warga sejak semalam."
Mendengar hal itu, Helmi langsung terperangah dan membelalakkan mata lebar-lebar. "Maksudnya bagaimana, Pak?"
"Mereka ketahuan berbuat mesuum." Singkat pria itu menjawab, lantas dia masuk dan menutup pintunya kembali.
"Lalu, tidur di mana mereka?"
Dengan pikiran cemas dan hati bertanya-tanya. Helmi segera merogoh ponsel dari saku celananya. Entah mengapa dia baru terpikirkan untuk menghubungi Elyaz.
__ADS_1
Di sisi lain, Elyaz yang masih merebah di atas kasur empuknya bergegas meraih ponsel yang berdering, dari atas nakas. Dia menatap layar ponselnya dan tertera nama Helmi dalam panggilan yang masuk itu. Langsung saja dia mengngkatnya.
[Hemmm ....] Elyaz menjawab dengan gumaman.
[Hei, Budak Cinta! Terdampar di mana kau sekarang? Kalian diusir warga, ya, semalam?] Helmi mencecar Elyaz tanpa ragu.
[Sial! Dari mana saja kau baru menghubungiku? Apa kalau temanmu terbunuh, kau juga tidak akan perduli?] cerca Elyaz.
[Tidak tahu diri! Aku pulang hampir tengah malam, karena mencarikanmu pekerjaan. Bukannya berterima kasih, malah memakiku. Di mana kau sekarang? Apa kalian baik-baik saja?] Helmi tampak menunjukkan perhatiannya, walau dengan gayanya yang seperti itu.
[Jangan khawatir, aku dan Manda sudah berada di rumahku sekarang.]
[Ha? Bagaimana bisa?] Helmi merasa terkejut.
[Semalam saat kami sedang berjalan terlunta-lunta, Ibu menemukan kami. Jadi, kami dibawanya pulang.]
[Jadi, bagaimana dengan pekerjaannya? Apa kau masih membutuhkannya?]
[Memangnya kau sudah dapat?]
[Belum ada yang pasti, sih,] jawab Helmi sembari menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
[Lupakan saja kalau begitu. Nanti kutelepon lagi, ya. Aku mau mandi dulu.] Telepon terputus.
Helmi yang baru hendak membuka mulutnya, langsung tercekat mengetahui teleponnya diakhiri begitu saja oleh Elyaz. "Dasar manusia menyebalkan," umpatnya seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya dan pulang.
__ADS_1
Di rumah besar itu, tampak begitu sepi. Diketahui, Emir sudah pergi bekerja, sementara Kania dan Bi Nari pergi untuk belanja stok makanan dan kebutuhan lain. Tinggal Elyaz dan Alamanda saja yang tengah berada di kamarnya masing-masing.
"Manda," gumam Elyaz. Dia langsung pergi dengan cepat menuju kamar Alamanda.
"Kakak!" seru Alamanda yang tampak terkejut dengan kehadiran Elyaz yang tiba-tiba dan tanpa mengetuk pintu dahulu.
"Manda, aku tidak sanggup jauh darimu, Sayang."
Tanpa memberi kesempatan Alamanda untuk menimpali pembicaraan, Elyaz sudah meraup bibir Gadis ayu itu dengan buas. Terdengar deru napasnya begitu memburu. Lalu, tanpa ragu semua kain yang melekat di tubuh Alamanda dia lucutti.
"Kakak, lepaskan aku!" Alamanda memberontak.
"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu."
Tanpa diduga, Elyaz pun turut menanggalkan segenap pakaiannya. Alamanda terbelalak dan tampak sangat kaget. Mulutnya menganga lebar melihat benda pusaka yang sudah tegak berdiri.
"Sayang, aku ingin melakukannya sekarang. Aku tidak mau kita dipisahkan!" tandas Elyaz.
"T-tidak, Kak. Kita belum menikah," tolak Alamanda sambil terbata dengan mimik wajah ketakutan.
"Kita akan segera menikah, setelah melakukannya."
Detik kemudian, terdengar jeritan yang begitu nyaring dari mulut Alamanda. "Sak-kit ...."
"Tahan sedikit, Sayang. Aku janji, setelah ini tidak akan sakit lagi."
__ADS_1
Bersambung ....