Perangkap Cinta Kakak Angkatku

Perangkap Cinta Kakak Angkatku
BAB 25 Tidak Cukup Dengan Cinta


__ADS_3

Tidak lama terdengar suara gaduh yang mengetuk pintu rumah kontrkakan Alamanda berulang-ulang. "Keluar kalian! Jangan mesuum di sini." Sepertinya itu teriakan dari beberapa warga.


Dengan kepanikan luar biasa, Elyaz dan Alamanda pun segera memakai kembali baju yang sudah tertanggal. Mereka merapikan diri masing-masing serapi mungkin. Lantas, Elyaz meminta Alamanda diam, sementara dirinya pergi menemui orang-orang di luar.


Suara ketukan pintu yang lebih tepatnya adalah suara gedoran itu masih saja terdengar. Sampai Elyaz menampakkan wajah di hadapan mereka semua, barulah mereka berhenti menggedor pintu. Namun, kini perkara lain terjadi. Elyaz dicecar dengan segudang pertanyaan yang membuatnya tidak bisa mengelak.


"Jadi benar 'kan? Kamu dan gadis yang ada di dalam itu belum menikah?" Salah seorang bertanya dengan lantang.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Kalau kita diam saja, perzinahan akan semakin merajalela. Mereka harus dinikahkan, atau di usir dari wilayah ini!" sahut warga yang lain.


"Setuju!"


"Benar, perbuatan semacam ini tidak bisa dibiarkan. Ini bisa mengundang bencana."


Teriakan mereka yang beragam dan begitu garang, membuat Alamanda gemetar ketakutan. Sedangkan Elyaz, dia pasrah atas semuanya. Lelaki itu hanya memohon, agar Alamndanya tidak diapa-apakan dan mengakui bahwa semua yang mereka lakukan adalah mutlak kesalahannya sendiri. Walau begitu, warga yang terlanjur geram tidak serta-merta percaya begitu saja pada Elyaz.


"Kalian harus dinikahkan! Panggil wali kalian!" teriak mereka bersahutan.

__ADS_1


Kebingungan kini melanda Elyaz dan Alamanda. Sungguh ini desakan yang tidak terduga. Tetapi, Elyaz berjanji bahwa dia akan bertanggungjawab atas segala perbuatannya terhadap Alamanda.


Malam itu jadi awal penderitaan baru bagi mereka. Pasalnya, mereka dipaksa pergi atau diusir dari sana. Tiada daya dan upaya yang bisa dilakukan, kecuali pasrah dan menurut demi keselamatan nyawa keduanya.


Di sisi lain, Helmi sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Semenjak pagi, dirinya sibuk kuliah, lalu mengunjungi teman yang sekiranya bisa memberi, atau setidaknya bisa mengajak Elyaz bekerja. Hampir tengah malam, dia pun baru kembali ke kostannya.


"Sepi sekali ... Ke mana si budak cinta itu?" gumam Helmi sembari mencari keberadaan Elyaz. Namun, tidak juga dia temukan.


"Ah, pasti dia sedang mengunjungi gadisnya. Entah mengapa dia bisa menjadi budak cinta seperti itu." Helmi terus bicara sendiri.


Tanpa berpikiran hal lain, Helmi pun merebahkan diri usai membasuh wajah, kaki, serta tangannya. Hari ini cukup melelahkan bagi Lelaki pemilik tubuh tinggi besar itu. Perlahan, dia pun mulai terlelap.


"Sayang, kamu pasti lelah." Elyaz meraih tangan Alamanda, lantas membawa dia ke atas pangkuannya.


Keheningan kembali terjadi. Bunyi napas lelah dari Alamanda terdengar semakin nyata dan memelan seiring meredanya keletihan yang dia rasakan.


"Kakak, kita mau kemana? Sudah tidak ada tempat lagi. Kurasa, semesta pun akan menolak kita setelah ini."

__ADS_1


"Tidak, Sayang. Kita pasti menemukan tempat untuk berdiam. Jika seluruh semesta ini menolak untuk kita diami, setidaknya kita bisa tinggal dan berdiam di hati yang dipenuhi oleh cinta kita."


"Memangnya hidup cukup dengan cinta? Cinta itu tidak bisa membuat kita kenyang, Kakak."


"Apa kamu begitu takut menghadapi kesulitan ini bersamaku?"


"Bukan begitu, Kak. Hanya saja, biar pun cinta kita sama kuat, tetap saja tubuh kita butuh air dan makanan untuk bertahan."


Elyaz tersenyum getir. "Aku tahu, Manda. Aku tahu dan paham lebih dari dirimu. Tetapi, aku tidak berdaya sekarang ini." Pria itu meggumam meresapi kemalangan.


Tidak lama berselang, mereka disilaukan oleh cahaya lampu mobil yang menyorot tepat ke arah mereka. Keduanya pun menghalau paparan sorot lampu itu dengan menutupi wajah menggunakan kedua tangan.


Pengemudi mobil itu pun turun, lalu menghampiri mereka. "Anak-anak bodoh!" cerca orang itu sambil menangis tersedu.


"Ibu!" Mereka serempak menyebut nama wanita yang mereka panggil Ibu itu.


Ya, itu Kania. Selama ini diam-diam dia terus mencari keberadaan kedua anaknya, tepatnya sehari seusai mereka pergi. Naluri seorang ibu yang ada padanya, rupanya tidak cukup membuatnya tega membiarkan Elyaz dan Alamanda tidak berada di dalam rumah kediaman mereka bersama.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2